
Luna merasa seperti ada yang memeluk pinggangnya dengan erat, ia teringat ayahnya yang selalu tidur memeluknya saat kecil, terasa begitu hangat, ia seperti bermimpi di peluk ayahnya lagi, tapi ia tidak melihat ibu dan adiknya Lio, ia ingin bangun dan mencarinya, tapi tangan itu begitu kuat memeluknya membuatnya susah untuk bangun.
Raiden memeluk erat pinggang La Luna seperti guling, udara pagi terasa sangat dingin. Sebagai pria normal Raiden tahu jika adik kecilnya bangun di pagi hari, apalagi sekarang ia bersama gadis cantik yang masih terlelap.
Luna terbangun dan mengingat pria bersamanya bukan ayahnya, ia berusaha melepaskan diri dari tangan Raiden, pinggulnya bergerak dan membangunkan junior Raiden yang susah payah menahannya sejak semalam.
''Jangan bergerak Luna, jika kau menyinggungnya sekali lagi, aku akan memintamu menidurkanya'', ucap Raiden
Luna tidak mengerti ucapan Raiden dan ia berusaha melepaskan diri dari pelukannya sehingga pinggulnya menyinggung singa kecilnya lagi.
''Ahhhhhhhh Luna.... '', teriak Raiden tak bisa menahan lagi.
''Ke.....napa???,
''Sudah aku bilang jangan bergerak, kau membangunkan singa'', ucapnya kesal
''Singa!!!, mana?? ,tanya Luna kebingungan
__ADS_1
Raiden memutar bola matanya, ia buru-buru membuka tenda dan keluar untuk menetralkan dirinya.
''Mana singanya???, tanya Luna, ''aku sudah lama tinggal di pulau ini tidak pernah melihatnya''. ucapnya
''Kau lihat ini, kau membuatnya terbangun karena pinggulmu menyinggunya'', ucapnya kesal dan menunjuk pada adik kecilnya
Luna membelalakkan matanya mengikuti tulunjuk Raiden yang menunjuk pada adik kecilnya yang terbangun.
Raiden kembali masuk ke tenda dan berteriak, ''jangan masuk, aku bisa menerkammu''.
''Aku akan mencari makanan'', ucap Luna meninggalkan Raiden yang bermain sendiri di dalam tenda, suaranya masih terdengar di telinganya, Luna tersenyum geli.
Raiden keluar dari tenda dengan wajah kesal, namun melihat Luna tersenyum manis padanya seketika kekesalanya hilang.
''Apa itu Luna???
''Aku memanah ayam''.
__ADS_1
''Wah kau pandai sekali menggunakan panah, pantas saja kau bisa bertahan disini sendiri'', sanjung Raiden.
''Tapi aku tidak pernah memanah, karena aku tidak bisa membuat api, aku tidak makan ayam mentah, aku hanya mengambil telurnya'', ucapnya dengan lugu.
Raiden tersenyum dan mengacak rambut Luna, ''tetap saja kau hebat, aku salut padamu''.
Mereka berdua akhirnya memakan ayam panggang untuk sarapan setelah itu mereka melanjutkan perjalanan menjelajahi pulau.
''Lun pulau ini ternyata sangat besar ya, padahal jika di lihat dari peternakan terlihat kecil, sepertinya tidak cukup waktu dua hari untuk menjelajah, aku harus kembali ke peternakan, mungkin lain kali kita bisa datang kesini lagi, apa kau yakin ingin keluar dari pulau ini, tanya Raiden yang sudah kelelahan.
Luna mengangguk, ''tapi aku harus kembali ke vila dulu untuk mengambil beberapa barang peninggalan orang tuaku''.
''Kalau begitu ayo kita kembali'', Raiden hendak melangkah tanpa disadari tali sepatunya yang lepas terinjak olehnya dan membuatnya hampir terjungkal, dengan cepat Luna menahannya agar tidak terjatuh, tapi karena tubuh Luna yang kurus tidak kuat menahan tubuh Raiden, sehingga membuat mereka jatuh berpelukan terperosot ke bawah lereng pegunungan hingga tersangkut batang pohon.
Mata Luna berkunang-kunang, ''daddy, mom help me'', ucapnya lemah dan pingsan
Raiden merasakan sakit di sekujur tubuhnya, ia merangkak mendekati Luna yang tak bergerak
__ADS_1
''Luna bangun Lun, aku mohon jangan tinggalkan aku, bukanya kau ingin keluar dari pulau ini'', ucap Raiden kuatir ia segera memberi pertolongan pada luna menekan dada Luna lalu memberikan nafas buatan
Akhirnya Luna sadarkan diri, Raiden langsung memeluknya erat, '' kau harus kuat Luna, kau harus tetap hidup untuk mencari keluargamu'', ucap Raiden berkaca-kaca