Bidadari Pengikat Hati

Bidadari Pengikat Hati
08. Peternakan


__ADS_3

Raiden membawa La Luna keluar dari pulau, menuju peternakan dan menceritakan semua pada paman dan bibinya. Kedua orang tua paruh baya itu menyambut kehadiran Luna dengan baik.


Luna juga mengakui, bahwa dia pernah melihat paman masuk ke pulau bersama beberapa orang, namun karena takut ia memilih bersembunyi.


Ada penyesalan di hati paman, andai saja waktu itu ia terus mencari keberadaan Luna, mungkin ia akan segera bisa membawanya keluar dari pulau itu dan hidup dengan baik bersamanya, mengingat mereka tidak memiliki anak.


''Apa yang akan kau lakukan padanya nak??, kau tidak tahu asal usul keluarganya'', tanya paman


''Aku berencana membawanya ke kota untuk memeriksakan keadaanya, tubuh Luna sangat kurus, dia hanya memakan apa yang ada di hutan, aku berjanji padanya akan membatunya menemukan keluarganya'', ucap Raiden


''Paman setuju dengan rencanamu, kau harus menjaganya dengan baik, sepertinya dia bukan penduduk negara ini'', ucap paman.


''Iya paman, aku rasa keluarganya pasti bukan orang biasa, dia bilang datang kesana dengan helly copter dan sebelumnya sering berpindah dari satu negara ke negara lain''.


''Mungkin helly Copter yang pernah paman lihat waktu itu, kejadian itu sudah bertahun-tahun yang lalu, kasihan sekali gadis itu'', ucap paman.


Raiden dan pamanya sedang membicarakan Luna, sembari melihat ternak-ternaknya.


''Luna kau sangat cantik, mulai sekarang kau harus merawat tubuhmu agar tidak kurus seperti ini, makan yang banyak, bibi akan pergi memasak dulu, pakaian gantimu sudah bibi siapkan disini'', ucap bibi dengan lembut.

__ADS_1


Luna hanya mengangguk, melihat bibi yang baik hati dia teringat ibunya, matanya berkaca-kaca, ia segera menlanjutkan kegiatan mandinya.


Luna tidak melihat Raiden di dalam rumah saat keluar dari kamar mandi, dia menjadi cemas.


''Kau mencari siapa??, tanya bibi


''Raiden'', jawab Luna lirih, ia takut jika Raiden meninggalkanya.


''Dia sedang ke peternakan dengan paman, sebentar lagi juga kembali, kau tunggu disini saja''.


Tak berapa lama Raiden dan paman kembali ke rumah, Luna merasa lega.


Luna mengangguk lagi.


''Makanan sudah siap, mari kita makan!!!, seru bibi


''Makanlah yang banyak nak, tidak perlu sungkan, anggap seperti di rumahmu sendiri'', ucap paman


La Luna mengangguk, tapi ia tidak bersela makan, perutnya sakit setiap kali datang bulan.

__ADS_1


''Kita masih harus melanjutkan perjalanan ke kota Luna, makanlah biar kau bertenaga, wajahmu sangat pucat'', ucap Raiden mengambilkan nasi dan lauk di piring Luna, dan ia hanya melihatnya.


''Aku mau obat??, bisiknya pada Raiden


''Apa kau sakit lagi??, tanya Raiden kuatir, ''bibi Luna sedang haid, apa bibi punya obat???,tanya Raiden


''Ohh tunggu sebentar bibi ambilkan''.


Mereka segera menyantap makan siang bersama, dan setelah selesai Raiden berpamitan pada paman dan bibi untuk kembali ke kota dengan Luna.


''Sayang berhati-hatilah saat kamu tinggal di kota, jangan mudah percaya pada sembarang orang dan jika kau bosan di sana kau bisa datang kemari''. ucap bibi membelai Luna, meski baru bertemu tapi mereka memperlakukannya dengan baik.


Luna mengangguk, ''terimakasih bibi dan paman'', ucapnya sopan


''Raiden, kau harus menjaganya, jangan memberitahu identitasnya pada sembarang orang, paman takut akan ada yang memanfaatkannya, kau tidak tahu asal-usul keluarganya''. ucap paman


''Aku tahu paman, terimakasih aku akan menjaganya dengan baik''. ucap Raiden, mereka segera meninggalkan peternakan


Raiden menghubungi Niko dan minta di carikan dokter ahli gizi, tapi ia tidak memberitahu untuk apa.

__ADS_1


__ADS_2