
Pagi hari setelah sarapan Raiden pamit berangkat sendiri, pamanya ingin menemaninya, tapi ia menolaknya karena jika situasinya baik ia ingin berkemah disana, sedangkan pamannya harus mengurus ternaknya. Hanya sekitar 30 menit dengan menaiki speed boat Raiden sudah sampai di sana, ia mengikatkan speed boatnya di batang pohon dan tak lupa menguncinya.
Raiden menyusuri hutan yang begitu sunyi, pria muda yang pemberani, ia selalu menikmati petualanganya sendiri dan mengeksplorasi pesona alam, tak lupa ia memberikan tanda di setiap jalan yang ia lewati, ia juga mengambil gambar dari kamera kesayangannya. Selama perjalanan Raiden tidak bertemu dengan siapapun, hanya monyet dan orang hutan serta burung-burung yang cantik yang bertengger di pohon-pohon dengan suaranya yang merdu.
Raiden sudah berjalan semakin ke dalam hutan dan merasa lelah, dia naik ke sebuah tebing dan duduk di atas batu besar, dan di balik tebing terdapat air terjun yang begitu indah, Raiden bersandar di bebatuan dan mengatur nafasnya, dia begitu menikmati suara alam membuatnya mengantuk dan memejamkankan mata, tapi tiba-tiba perutnya berbunyi, ia duduk kembali hendak membuka bekal yang di buat oleh bibinya, tadi pagi ia hanya makan omlet dan minum segelas susu segar, dia hendak turun untuk mencuci tangannya, tidak disangka ia melihat sesosok wanita cantik yang sedang mandi di bawah air terjun, Raiden mengucek matanya beberapa kali untuk memastikanya, dia tidak tahu bagaimana bisa seorang gadis berada di dalam hutan di pulau terpencil seperti ini sendiri, Raiden mengambil kamera kesayangannya dan mengabadikan dengan hati-hati, ia bersembunyi di balik pohon mengamati gadis itu, dia bertanya-tanya sendiri apakah gadis itu benar-benar maklum sepertinya atau maklum lainnya, atau mungkin bidadari yang turun dari kayangan yang sedang mandi. Raiden mengamati dengan jeli, matanya indah dan tajam, kulitnya begitu halus, rambutnya panjang dan bergelombang, hingga sampai beberapa lama Raiden diam di tempatnya.
Gadis itu terlihat sudah selesai mandi dan berganti pakaian, ia hendak pergi dari air terjun, baru beberapa langkah ia mendengar suara teriakan.
__ADS_1
''Aaaahhhhh, aduh....'', Raiden terpeleset saat tergesa ingin membuntuti gadis itu.
Gadis itu berhenti dan mencari sumber suara, dan menemukan seorang pria tampan yang sedang kesakitan menatapnya. Ia diam tertegun dan sedikit takut, selama ini ia selalu bersembunyi jika melihat orang masuk ke dalam hutan, dia sangat terkejut dan diam menatap pria kesakitan itu.
''Tolong, tolong aku kakiku sepertinya keseleo, aahhhhh'', pinta Raiden menahan sakit.
Raiden melihat gadis itu berpijak di bumi, namun ia tidak seperti penduduk lokal, ''apa kau bisa membantuku???, help me please''. mohonya.
__ADS_1
Gadis itu tampak berfikir, ia ragu apakah harus menolong atau tidak, dia teringat saudara laki-lakinya dan berfikir apakah ia datang mencarinya, ia sudah lupa wajahnya, ia tidak ingin bersembunyi lagi dan ingin keluar dari pulau untuk mencari keluarganya, ia pun memberanikan diri mendekati dan menolongnya, ia membantunya berdiri dan memapahnya mendudukanya di bebatuan, dengan hati-hati ia memeriksa kakinya yang keseleo dan memijatnya dengan lembut.
Raiden nampak terpana melihat kecantikan gadis di depanya dengan jarak yang begitu dekat, kecantikan yang begitu alami tanpa polesan make up, merasa pria di depanya memandanginya, gadis itu menarik kaki Raiden yang keseleo membuat Raiden berteriak kencang menahan sakit.
''Aaahhhhhhh, teriaknya membuat burung-burung beterbangan.
''Apa kau seorang bidadari??, tanya pria bertubuh tinggi di depanya, ''bagaimana kau bisa berada di sini??
__ADS_1
Gadis itu diam menatap pria di depanya, ia sangat terkejut setelah beberapa tahun ia bisa bertemu dengan makluk sepertinya.