Bidadari Pengikat Hati

Bidadari Pengikat Hati
20. Bertemu


__ADS_3

Lio pamit kembali ke kota dengan tidak bersemangat, ia tahu pasti akan diomeli oleh ibu dan kakak angkatnya, hatinya tidak tenang dan sedih, bertahun-tahun ia menunggu untuk bisa mencari saudaranya, tapi sekarang ia tak bisa menemukanya, ia seperti orang yang putus asa.


''I'm back home mom'', ucapnya saat memasuki rumah.


Nyonya Helena menatap putranya yang tak bersemangat. ''Kemana saja kau ini, membuat mommy kuatir''. ucapnya


''Aku sudah bilang jangan kuatirkan aku'',jawab Lio sambari menaiki tangga menuju kamarnya, tak menghiraukan tatapan kesal ibu angkatnya itu.


''Bagaimana kau bisa bicara seperti itu pada mommy, tentu saja mommy mengkuatirkanmu'',nyonya Helena bersungut kesal ia tidak bisa tidur memikirkan putra angkatnya, ia pun segera mengambil ponselnya dan menghubungi Raiden.


Dreetttt.... dreettt...


Raiden terlihat serius di depan laptopnya, ia telah meninggalkan meeting, karena teringat Luna dan langsung kembali ke apartemenya, malam ini Luna menemaninya disisinya sembari membaca buku.

__ADS_1


''Halo mom, ada apa sudah malam kenapa belum tidur???


''Raiden kau pulanglah, adikmu sudah kembali''. ucapnya


''Baguslah, biarkan dia istirahat mom, besok aku akan bicara denganya, ini sudah malam, mommy juga harus istirahat, jangan marah padanya''.


''Mommy takut dia akan pergi lagi''.


''Baby'', panggilnya pada Luna yang menatapnya lembut, Lio meraih tangan Luna ''temani aku bertemu mommy besok, kau mau kan bertemu dengannya?, aku ingin mengenalkanmu padanya dan juga adikku''.


Luna diam menatap Raiden yang masih menunggu jawabannya, ia sedikit ragu.


''Selama ini dia selalu mengenalkanku pada anak perempuan teman-temanya, dengan dia tahu kamu kekasihku, dia tidak akan memaksakku lagi untuk bertemu dengan gadis-gadis itu lagi'', jelas Raiden.

__ADS_1


Luna masih diam, entah kenapa ia merasa ragu bertemu dengan ibu kekasihnya, akan tetapi ia juga tidak ingin kekasihnya akan selalu dikenalkan dengan gadis lain oleh ibunya. Ia tidak kenal siapa-siapa di kota ini, hanya Raiden satu-satunya tempat untuk ia bertahan.


''Tidak perlu takut, kau tidak perlu menceritakan asal usulmu padanya, cukup aku yang tahu'', ucapnya lagi membingkai wajah Luna.


Luna tersenyum dan mengangguk, lalu memeluk Raiden.


''Sebaiknya kita tidur sekarang, besok pagi kita berangkat ke rumah mommy''. Raiden berdiri dan membopong Luna membawanya ke kamarnya.


Luna telah menyerahkan hidupnya pada Raiden, dia tidak bisa menolak semua permintaan Raiden, dia tak ingin kehilangan pria tampan dan baik hati yang telah membawanya keluar dari pulau tak berpenghuni, hidup selayaknya manusia.


Luna tak bisa tidur meski Raiden tidur memeluknya dengan erat, entah kenapa ia teringat keluarganya, ia merasa begitu merindukanya, hingga sekarang ia tidak mengerti kenapa kedua orang tuanya tega meninggalkanya seorang diri di pulau itu, airmata Luna mengalir di sudut matanya, hingga akhirnya gadis itupun terpejam.


Ditempat lain Lio juga tidak bisa tidur, meski tubuhnya sangat lelah, ia terus memandangi foto keluarganya, ia terisak dalam keheningan malam, memanggil nama kakaknya Luna, ia mengingat masa kecilnya yang bahagia bersama keluarganya, meski hidupnya berpindah -pindah dan penuh petualang, orang tuanya banyak mengajarkan pada mereka berdua bertahan hidup dimanapun, ia tidak menyangka akan kehilangan kedua orang tuanya dan terpisah dengan saudara perempuanya, Lio tidak bisa mengingat apa yang terjadi saat itu, dan saat itu nyonya Helena juga kehilangan suami dan anaknya dalam insiden itu, ia menganggap Lio seperti putranya.

__ADS_1


__ADS_2