Bidadari Pengikat Hati

Bidadari Pengikat Hati
03. Villa


__ADS_3

Raiden begitu terpana saat memasuki villa yang tersembunyi tak jauh dari air terjun, ia masih tidak mengerti di pulau terpencil di tengah hutan berdiri sebuah villa yang tidak nampak dari luar, tadi ia memohon pada gadis cantik itu untuk tidak meninggalkanya, karena ia tidak bisa berjalan dengan baik, gadis itupun membawanya ke villa milik keluarganya, karena tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya.


''Apa kau bisa berbicara??, siapa namamu??, aku Raiden??, ucapnya sambil mengulurkan tanganya.


Gadis itu nampak ragu, sudah lama ia tidak berbicara, ''La Luna'', jawabnya kemudian meraih tangan Raiden, mereka saling menatap dan tenggelam dalam lamunan masing-masing.


Raiden merasa jantungnya berdebar-debar, begitu juga dengan Luna, ia tidak sadar tanganya masih menggegam tangan Raiden.


Raiden begitu senang, sejak bertemu tadi gadis itu tidak berbicara, tapi ternyata suaranya begitu lembut, ''nama yang bagus, bolehkan aku memanggilmu Luna???.


Luna mengangguk, tiba-tiba ia mendengar bunyi perut Raiden, ia segera berdiri mengambil beberapa buah dan memberikannya pada Raiden.


''Trimakasih, sebenarnya tadi aku mau membuka bekal dan hendak mencuci tangan, tapi melihatmu sedang mandi di sana, aku sangat terkejut, maaf ya'', jujurnya

__ADS_1


Gadis itu menunduk malu, ''makanlah!!!, serunya, ia berdiri kembali untuk mengambilkan air dan memberikannya pada Raiden.


Raiden membuka rangselnya dan mengeluarkan bekalnya, di dalamnya ada bekal makan siang buatan bibinya, coklat, susu, keju, kopi instan, air mineral dan juga beberapa telur rebus dan makanan ringan.


''Apa kau sudah makan, ayo kita makan bersama!!!, ajaknya


Luna membawa segelas air, ia melihat bekal Raiden, ia teringat masa kecilnya saat masih tinggal bersama kedua orang tuanya, ibunya selalu melarangnya memakan coklat, dan ia sangat menyukainya, sehingga diam-diam sering mengambil coklat dari lemari penyimpanan dan membawanya ke kamarnya, ibunya selalu menegurnya jika kedapatan menemukan pembungkus coklat di kamar dan segera menyuruhnya untuk menggosok giginya.


Semua makanan yang di bawa Raiden begitu mengingatkannya pada keluarganya, ia begitu merindukanya, sudah beberapa tahun ia tidak pernah makan makanan seperti itu, ia hanya makan makanan yang ada di hutan, buah dan sayuran serta telur ayam hutan, ia ingat bagaimana ayah dan ibunya mengajarkan kepadanya bagaimana bertahan hidup di hutan, dengan mencari bahan makanan yang ada di dalam hutan, memilih tanaman yang bisa di makan dan juga menggunakanya untuk obat, air mata Luna mengalir begitu saja mengingatnya.


"Hei, kenapa kau malah bengong dan menangis, duduklah kita makan bersama'', Raiden meraih tangan Luna dan membuatnya duduk di depannya.


Luna duduk berhadapan dengan Raiden, dan melihatnya memulai membuka bekalnya.

__ADS_1


''Apa yang kau suka, coklat, keju, oh ya bekal ini buatan bibiku yang tinggal di peternakan, ini sangat enak, kau harus mencobanya'' Raiden megambil nasi dan lauk lalu ingin menyuapkanya ke mulut Luna.


''Buka mulutmu!!!, serunya


''Aku bisa makan sendiri'', ucap Luna lirih


Mereka berdua akhirnya makan bersama bekal yang di bawa Raiden, Raiden melihat Luna yang begitu lahap.


''Enak tidak???


Luna hanya mengangguk, ia terisak kembali ini adalah pertama kalinya ia makan nasi setelah bertahan beberapa tahun lamanya.


''Sudahlah jangan menangis, habiskan saja, aku bisa memakan yang lain, setelah keluar dari pulau ini, aku akan minta bibi untuk membuatkan makanan yang enak untukmu'', ucap Raiden.

__ADS_1


__ADS_2