Bidadari Pengikat Hati

Bidadari Pengikat Hati
18. Mencari Luna


__ADS_3

Beberapa hari Lio dan Pablo mengelilingi pulau, mereka telah jauh meninggalkan vila tersembunyi keluarganya sambil terus mengingat kenangan bersama Luna saat kecil. Saat malam hari mereka mendirikan tenda untuk istirahat.


"Lio apa tidak sebaiknya kita kembali saja, kita sudah beberapa hari berjalan di dalam pulau ini, tapi tidak ada tanda-tanda keberadan saudaramu, bekal kita hampir habis'', ucap Pablo membaringkan tubuhnya di dalam tenda, kedua pemuda itu bermalam dengan menggelar tenda.


"Aku tidak ingin pulang sebelum menemukannya Pablo, kalau aku kembali, mommy pasti sudah menyuruh Raiden untuk membawaku ke kota untuk melanjutkan studiku, aku sudah menantikan hari ini untuk mencarinya, aku tahu kau lelah, aku juga lelah, tapi aku tidak ingin pulang dengan tangan kosong", ucap Lio


"Tapi dia sudah bertahun-tahun disini, jika tidak ada orang yang membawanya keluar dari sini, kemungkinan ia sudah mati", ucap Pablo pelan


"Tidak, jangan katakan itu Pablo, aku yakin dia masih hidup, kedua orang tuaku sudah melatih kami bagaimana cara bertahan hidup di hutan, aku yakin Luna bisa bertahan", ucapnya penuh keyakinan.


"Jika Luna mati pasti kita menemukan kerangkanya, kau lihat tempat tinggalnya masih bersih dan rapi meski semua sudah usang". imbuhnya.


"Tapi kita sudah beberapa hari mencarinya dan belum ketemu, apa tidak sebaiknya kita pulang dan kau tanyakan pada paman dan bibi, mungkin saja ia tahu sesuatu, mereka sudah lama tinggal di peternakan". ucap Pablo

__ADS_1


Lio terdiam, dia seharusnya memang bertanya terlebih dahulu pada penduduk sekitar peternakan, karena tempat itu paling dekat untuk bisa datang ke pulau ini, tapi ia tidak pernah menceritakan, karena takut orang akan menemukannya dan mencelakai saudara perempuannya itu.


"Kita sudah sampai sini, aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu", ucap Lio dan mereka pun terdiam.


''Terserah kau saja, jangan sampai kita kehabisan bekal, jika terus ingin mencarinya'', ucap Pablo dan memejamkan mata, ia lelah sudah hampir satu minggu menyusuri pulau tak menemukan apapun, ia merasa terus berputar-putar di dalam pulau.


''Baiklah, jika sampai besok kita tidak menemukanya, kita kembali ke vila, mungkin ia sudah kembali, dan jika tak ada kita kembali ke peternakan'', ucap Lio dan ikut merebahkan tubuhnya, ia juga lelah, sudut mata Lio berair, ia begitu sedih, dalam hati ia menangis.


''Luna apakah itu kau???, panggil Lio, ''Luna aku Lio, apa kau masih mengingatku, aku datang untuk mencarimu dan membawamu keluar dari sini''. ucapnya.


Tiba-tiba bayangan itu berdiri dibelakang Lio dan memukul kepala Lio dengan batang pohon dan membuatnya tersungkur, darah mengalir dari dahinya.


''Aaaaaaaahhhh, Luna apa yang kau la...ku...kan??, Lio melihat bayangan kakaknya Luna berusaha ingin membunuhnya dengan batang kayu, ia mencoba bangun, tapi lagi-lagi Luna memukul nya dengan kayu. Wajah Luna yang cantik dalam ingatan Lio kini terlihat begitu mengerikan seperti zombie, Lio berteriak meminta tolong dia merangkak meraih akar pohon dan berusaha bangkit, tapi beberapa kali Luna terus memukulnya tidak memberikan kesempatan Lio untuk kabur.

__ADS_1


''Luna ampun, maafkan aku, aku bersalah, tolong maafkan aku, aku ingin menjemputmu, ayo kita keluar dari sini, tolong'', Luna menampar pipi Lio dengan keras, Lio tak bisa melawannya. Ia menangis di kaki Luna.


Pablo mendengar suara Lio meminta tolong, dengan mata berat ia bangun mengguncang tubuh Lio


''Lio bangun.... Lio..., Lio panggil Pablo dengan keras, namun Lio terus merintih dan plaak...


''Tolong...., tolong...., ampun, maafkan aku''. ucap Lio dan terbangun setelah merasakan tamparan di wajahnya. Nafas Lio terengah.


''Kau bermimpi???, ucap Pablo sembari menyodorkan air.


Punggung Lio terguncang, ia memegang pipinya yang terasa panas, berusaha me yadarkan dirinya, ''Aku memimpikanya, tapi wajahnya seperti zombie'', ucap Lio kemudian.


''Itu hanya mimpi, sebaiknya kita bersiap kembali kepeternakan'', ucap Pablo

__ADS_1


__ADS_2