
''Kenapa berdiri disitu, kau tidak mau sarapan bersama'', ucap Raiden pada Lio yang tertegun di tangga menatap Luna.
''Lio berjalan perlahan menghampiri mereka, matanya tak berkedip menatap kekasih kakaknya.
Luna merasa risih dengan tatapan adik kekasihnya.
''Baby dia adikku Lionel, Lio dia Luna kekasihku, kami akan segera menikah'', Raiden mengenalkan keduanya. Luna dan Lio sama-sama terkejut. Mereka berdua saling menatap.
"Hai..., aku Luna ucapnya kemudian dan tersenyum tipis membuat Lio mengingat senyum kakaknya kembali, ia tak sadar turus menatap Luna
"Jangan lama-lama menatapnya, aku takut kau akan jatuh cinta padanya'', canda Raiden
Seketika Lio mengalihkan pandangnya, dia berfikir apakah kekasih kakaknya adalah saudara perempuanya yang ia cari, Lio mulai menyantap menu sarapan yang disiapkan ibunya namun pikiranya tidak fokus. Sejenak ia teringat ucapan paman di peternakan jika kakak angkatnya juga belum lama pergi ke pulau.
''Kau mau melanjutkan ke universitas mana??, tanya Raiden di sela-sela menyantap sarapanya.
''Aku belum memikirkanya'', jawab Lio santai
''Kamu sudah tamat sekolah, kenapa belum memikirkannya???.
''Aku tidak ingin melanjutkan'', jawabnya dingin
__ADS_1
'' Lalu apa rencanamu??,tanya Raiden mengerutkan dahinya menatap adik angkatnya itu
''Ada hal yang harus aku urus''.
''Apa itu???
''Aku belum bisa memberitahumu''.
''Kenapa??, tanya Raiden
''Aku belum selesai mengurusnya''.
"Aku belum tahu, mungkin sampai aku menemukanya'', ucap Lio lirih namun masih terdengar oleh semua yang disana.
"Menemukan siapa??, mungkin aku bisa membantumu", ucap Raiden sambari memakan sarapanya.
''Nak jika kau ada masalah dan tak ingin memberitahu mommy, sebaiknya bicarakan dengan kakakmu, mungkin kakakmu bisa membantu'', ucap nyonya Helena lembut.
''Aku tahu, mommy tidak perlu kuatirkan aku terus''. jawab Lio tanpa menatap ibu angkatnya.
Nyonya Helena mendesah, sudah berapa kali mencoba berbicara lembut dengan putra angkatnya itu, tapi tidak pernah mau terbuka dan cenderung menutup diri.
__ADS_1
Luna diam sembari menyantap sarapannya, diam-diam ia memperhatikan sosok Lio yang terlihat dingin dan tak banyak bicara. Ia ingat betul adiknya tidak dingin seperti Lio adik kekasihnya.
"Raiden, sebaiknya kau segera mengurus pernikahanmu dengan Luna, kalian sudah tinggal serumah bukan, mommy tidak mau cucuku lahir tanpa status yang jelas", nyonya Helena mengalihkan pembicaraan, yang membuat Raiden berhenti bertanya pada adiknya itu, yang justru akan membuat suasana tidak nyaman dimeja makan.
"Iya mom, aku akan segera mengurusnya, untuk itu aku minta doa restu mommy".
"Sayang, dimana orang tuamu tinggal??, tanya nyonya Helena, membuat Luna, Raiden, dan Lio, seketika menghentikan makanya.
Luna terdiam sesaat untuk mengatur jawabanya.
"Luna sudah tidak memiliki keluarga mom, jawab Raiden cepat, "dia hidup sendirian selama ini", lanjutnya
"Benarkah??, nyonya Helena memandang Luna sedih.
Begitu juga dengan Lio, tidak tahu kenapa mendengar penjelasan kakak angkatnya tentang Luna yang tinggal seorang diri, ia begitu penasaran.
"Bagaimana kalian bertemu??, tanya Lio tak bisa menyembunyikan keingintahuanya.
"Kami tidak sengaja bertemu disuatu tempat, dan kami jatuh cinta pada pandangan pertama", iyakan kan honey". ucap Raiden tak ingin menceritakan asal usul Luna yang nantinya akan membuat mommynya berubah pikiran setelah mengetahui asal -usul kekasihnya, Raiden takut karena selama ini mommynya selalu mengenalkan dirinya dengan anak gadis sahabatnya yang tentunya mereka berpendidikan dan hidup normal, sedang Luna hanya gadis yang di temukan di sebuah pulau terpencil dan hidup dengan keterbatasan, baginya yang penting ia sudah mendapatkan restu dari mommynya.
"Ya begitulah", jawab Luna tersenyum malu, mengingat pertemuannya dengan Raiden dimana saat itu dirinya sedang mandi di bawah air terjun.
__ADS_1