
"Iya, itu tuh! Bu Rasti yang sedang berbagi lemak berlebih di pinggulnya." sambar Bu Wahyu, sambil mengangkat dagunya dan mengarahkannya kepada Rasti yang sedang berjalan menuju ruang kelas tujuh.
"Oh, no!" tampik Bu Lastri yang tidak setuju dengan adanya pembagian lemak untuk dirinya.
Rasti pun berjalan teratur dengan membawa buku lembar kerja siswa tanpa menghiraukan ucapan Bu Lastri, dia hanya melempar senyuman manja.
Rasti mengajar jam terakhir di kelas tujuh, dan tak terasa sudah jam dua belas lebih dua puluh menit. Dia terus memandangi jam dinding yang terpasang di ruang kelas tujuh. Sepertinya Rasti bimbang, apakah dia mau menemui Pak Ahmad di tempat yang Pak Ahmad sebutkan atau langsung pulang ke rumah?.
"Beri saya petunjuk, ya Allah" gumam Rasti dengan suara lirih.
Rasti tidak ingin salah langkah, apalagi untuk menemui seorang pria yang baru saja dia kenal dua hari. Itu butuh pertimbangan yang matang, karena Rasti tidak ingin merasakan kecewa yang kesekian kalinya. Rasa trauma masih membayangi dirinya, meski sudah lima bulan menjomblo.
Tet, tet, tet.
Suara bel pulang berbunyi mengagetkan lamunan Rasti, ada rasa senang karena dia sudah selesai mengajar hari ini. Namun resah masih membayang.
Semua siswa pulang dengan sorakan bahagia dan berlarian keluar dari ruang kelas, Rasti membuka hp nya dan tidak ada pesan apapun dari Pak Ahmad setelah tadi pagi mereka berkomunikasi lewat pesan sms.
Suasana hati Rasti menjadi tambah bingung, dan akhirnya Rasti memilih untuk menenangkan dirinya dengan menunaikan sholat duhur terlebih dahulu sebelum menentukan pilihan.
"Sudah jam setengah satu, lebih baik saya sholat duhur dulu" ucap Rasti sambil berjalan keluar dari ruang kelas tujuh yang sudah sepi. Suasana sekolah pun menjadi hening, karena semua siswa sudah selesai melaksanakan pembelajaran hari ini.
Rasti meletakan hp nya di atas tas selempang kecil miliknya, dan dia segera mengambil air wudu dan sholat duhur.
"Tumben sholat duhur di sini?" tanya Bu Wahyu yang terus mengamati Rasti.
"Iya, nih! soalnya pulang dari sini saya masih ke suatu tempat." jawab Rasti sambil menggelar sajadahnya.
"Ohhh" sahut Bu Wahyu singkat, sambil membulatkan bibirnya.
Rasti terlihat dengan kusyu menunaikan ibadah sholat duhur, dan setelahnya dia meminta petunjuk agar Allah Swt memantapkan hati Rasti. Apakah penting bagi Rasti untuk bertemu dengan Pak Ahmad siang ini? atau kah Rasti harus segera pulang dan istirahat di rumah?.
__ADS_1
Sepertinya Rasti sudah menemukan jawaban atas doanya kepada Allah Swt, segera dia membereskan perlengkapan sholatnya dan memakai kembali kerudung berwarna hitam. Tak lupa dia memberikan sedikit polesan lipstik berwarna merah muda pada bibirnya yang mungil.
"Sudah selesai sholatnya?" tanya Bu Wahyu menghampiri Rasti yang selesai bercermin.
"Alhamdulillah sudah, Bu!" jawab Rasti tenang.
"Syukurlah kalau begitu, kalau saya sedang datang bulan" kata Bu Wahyu memberitahu kepada Rasti bahwa dirinya sedang tidak sholat.
"Ngomong-ngomong, Bu Rasti mau pergi ke mana?" sambung Bu Wahyu menautkan kedua alisnya.
Sambil meneguk segelas air teh, Bu Wahyu mendengarkan jawaban dari Rasti yang sudah siap pergi untuk menemui Pak Ahmad di Masjid Agung Brebes.
"Saya mau bertemu dengan seseorang, akan saya ceritanya nanti! setelah pertemuannya berhasil." tukas Rasti sambil mencubit gemas ujung hidung Bu Wahyu.
"Are you ready?" tandas Bu Wahyu menaikan satu alisnya.
"Ready!" seru Rasti merasa dirinya sudah yakin dengan keputusannya untuk menemui Pak Ahmad di Masjid Agung Brebes.
"Siap! laksanakan tugas!" jawab Rasti tegas, dan segera tacap gas sepeda motornya menuju tempat pertemuan.
Perjalanan di jalan raya sangat ramai, Rasti selalu bersholawat dalam hati untuk mengiringi perjalanannya agar selamat sampai tujuan. Dia berharap, pertemuannya dengan Pak Ahmad akan memberikan energi positif dan membawakan hasil yang baik untuk dirinya dan juga untuk Pak Ahmad.
Perjalanan selama lima belas menit, tidak ada kabar apapun dari Pak Ahmad. Namun Rasti yakin jika Pak Ahmad sudah berada di lokasi pertemuan.
"Semoga Pak Ahmad tidak mengecewakan saya, awas saja jika dia membuat saya marah!" gerutu Rasti sambil mengendarai sepeda motornya.
Dia lanjut bersholawat, dan Rasti sudah sampai di depan Masjid Agung Brebes. Dia segera memarkirkan sepeda motornya dekat Alun-alun Brebes.
Rasti duduk di tepi jalan sambil menghela napas panjang berkali-kali, jalan raya sangat ramai dan panas membuat dirinya merasakan dehidrasi.
Ketika dia sedang menundukan kepalanya, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang mendekti dirinya dan seseorang itu menyuguhkan sebotol minuman dingin kepada Rasti yang sedang memegangi hp nya.
__ADS_1
"Ini, minumlah!" ucapannya membuat Rasti terkejut.
Rasti mendongakan kepalanya ke arah suara pria dewasa di depan dirinya yang sedang duduk beristirahat di tepi jalan, ternyata pria tersebut adalah Pak Ahmad yang sudah menunggunya sejak tiga puluh menit yang lalu.
Pak Ahmad melempar senyuman kepada Rasti yang sedang kepanasan dan menyernyitkan hidungnya yang separuh mancung alias pesek, Rasti pun salah tingkah dan segera beranjak dari tempat duduknya.
"Pak Ahmad!" seru Rasti terkejut. Matanya terbelaklak dan menatap tajam kedua bola mata Pak Ahmad yang berdiri tepat di hadapannya.
"Iya, betul Bu! saya Pak Ahmad, orang yang pernah Bu Rasti jumpai di sekolah tempat Bu Rasti mengajar.
"Huh! saya pikir Pak Ahmad ngerjain saya! hampir saja saya marah, karena Pak Ahmad tidak ada di sini." kata Rasti sambil mengusap keringat di dahinya.
"Saya kira Bu Rasti tidak akan datang untuk memenuhi ajakan saya!" sambung Pak Ahmad tersenyum.
"Sekarang buktinya saya sudah berada di sini, kan?" tanya Rasti memiringkan sudut bibirnya.
"Iya! saya salut sama Bu Rasti yang berani menemui saya sendirian di sini." tukas Pak Ahmad memberikan pujian kepada Rasti.
"Pak Ahmad meremehkan nyali saya?" tanya Rasti sambil melotot.
"Oh, jelas tidak! saya tahu Bu Rasti tipe orang yang kuat dan mau menerima tantangan dari siapa pun!" tangkas Pak Ahmad lanjut memuji Rasti lagi.
"Huh, sok tahu nih Pak Ahmad! saya tipe orang yang suka penasaran dengan seseorang yang baru saya kenal." terang Rasti memberitahu kebiasaannya sejak dulu.
"Wah! berarti Bu Rasti datang ke mari karena penasaran dengan saya, dong?" sahut Pak Ahmad sembari mengerucutkan bibirnya.
"Bisa jadi begitu!" celetuk Rasti dengan mengedikan kedua bahunya.
"Hmm, baru kali ini saya menjumpai perempuan seperti Bu Rasti." terang Pak Ahmad membalas tawa dan segera duduk di samping Rasti.
"Masa?" tanya Rasti menaikan kedua sudut bibirnya.
__ADS_1
"Iya, betul!" jawab Pak Ahmad, singkat.