
Pak Ahmad berjalan lantang menuju ruang guru, dalam hatinya berkata.
"Pertanyaan macam apa, ini? ada-ada saja Bapak Kepala Sekolah. Membuat saya tersindir karena sampai saat ini, saya belum menemukan perempuan yang cocok di hati saya." gumam Pak Ahmad sembari meletakan tas punggungnya di atas kursi tempat duduknya di ruang guru.
"Kok, banyak makanan hari ini? ada acara apa ya, siapa yang ulang tahun?" tanya Pak Ahmad mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruang guru.
Suara lirih Pak Ahmad ternyata terdengar sama Pak Was, Pak Was pun menanggapi ucapan Pak Ahmad.
"Hari ini ulang tahunnya Bu Diana yang ke tiga puluh satu tahun, dan dia ingin merayakannya di sini bersama teman-teman guru." Sambar Pak Was, memberitahu kepada Pak Ahmad yang baru saja datang.
"Ohhh, begitu!" sahut Pak Ahmad membulatkan bibirnya dan menatap kembali semua makanan yang sudah tersaji lengkap dengan berbagai macam minumannya.
Melihat semua makanan yang sudah tersaji, membuat perut Pak Ahmad berbunyi keruyuk-keruyuk. Ditambah lagi dengan aromanya yang sangat harum, menambah gairah ingin segera menyantapnya.
Apalagi Pak Ahmad belum sarapan dari rumah, tidak sempat bertemu dengan nasi padahal sudah disiapkan menu makanan yang dimasak oleh Mamanya.
"Kenapa, Pak?" tanya Bu Diana yang tiba-tiba berada di belakang Pak Ahmad.
Bu Diana melihat Pak Ahmad sedang mengelus perutnya yang rata, seketika Bu Diana mempersilahkan Pah Ahmad mencicipi makanan yang sudah tersaji di meja.
"He, he, nggak papa, Bu!" sahut Pak Ahmad cengar cengir.
"Kalau Pak Ahmad lapar, silakan saja ambil makanan yang sudah saya bawakan hari ini." kata Bu Diana tersenyum sambil berjalan menghampiri Pak Was yang sedang duduk di samping meja kerja Bu Diana.
"Hiks hiks, kok Bu Diana tahu sih! kalau saya sedang lapar. Jujur saya belum sarapan, takut terlambat!" celetuk Pak Ahmad tertawa lirih.
Tanpa basa basi Pak Ahmad mengajak Pak Was menikmati hidangan yang ada, sebelumnya Pak Ahmad dan Pak Was mengucapkan selamat ulang tahun kepada Bu Diana.
__ADS_1
"Selamat ulang tahun buat Bu Diana, semoga panjang umur dan sukses selalu." ucap Pak Ahmad memberikan ucapan selamat kepada Bu Diana.
"Aamiin... terimakasih, Pak!" jawab Bu Diana merespon ucapan selamat dari Pak Ahmad.
"Selamat ulang tahun ya, Bu!" sambung Pak Was ikut mengucapkan selamat kepada Bu Diana.
Belum sempat Bu Diana menjawab ucapan selamat dari Pa Was, dia dikejutkan dengan surpres dari teman-teman guru.
Semua guru berkumpul dan bernyanyi lagu ulang tahun untuk Bu Diana, ada pula salah satu guru yang bernama Bu Wiangkati membawa kue tar dan disuguhkan kepada Bu Diana.
Bu Diana merasa sangat senang, merasakan kehangatan tali silturahmi di tempat dia mengajar.
"Selamat ulang tahun" ucap teman-teman guru, kompak!.
Wajah Bu Diana yang mulus dn cantik, seketika memerah karena terharu mendapatkan kejutan dari teman-teman guru. Bu Diana pun berdoa dan meniup lilin ulang tahun di depan semua orang yang hadir.
Pada saat itu bel masuk sudah berbunyi, jadi sebagian guru ada yang masuk kelas masing-masing sesuai jadwal yang tertera. Ada pula guru yang memfoto momen ini untuk kenang-kenangan.
"Pak Ahmad. Ayo nambah nasinya, nggak usah malu-malu!" ucap bu Diana sembari membawa piring dan menyendokkan nasi ke dalam piring, serta menambahkan beberapa jenis lauk untuk disuguhkan kepada Pak Seno suami dari ibu Diana yang kebetulan mengajar satu tempat.
"Ini, juga sudah terlalu banyak Bu! dan alhamdulillah perut saya sudah merasa kenyang." sahut Pak Ahmad bersyukur.
Bu Diana adalah salah satu guru yang baik dan juga suka berbagi kepada orang lain atas rezeki yang dia miliki, seperti halnya Pak Ahmad yang suka berbagi tenaga karena dirinya belum mampu untuk berbagi materi. Jadi, untuk sementara ini hanya sumbangan tenaga yang baru bisa dia berikan untuk teman-temannya.
Tutut tut
Bunyi suara pesan Whatsapp masuk dalam ponsel Pak Ahmad yang berada di saku celananya, segera Pak Ahmad meletakkan piring yang usai digunakan untuk menyantap makanan yang disediakan oleh bu Diana pagi ini.
__ADS_1
Pak Ahmad menatap layar ponselnya lalu membuka pesan whatsapp dan ternyata ada pesan masuk dari Rasti, isinya adalah sebuah puisi yang berjudul "Rindu dengan kasih sayang seseorang" Pak Ahmad tersenyum dibuatnya, namun bingung dia mau membalas apa?.
Akhirnya Pak Ahmad juga menuliskan puisi pendek yang berjudul "Akupun Rindu Pada Dirimu" puisi tersebut menceritakan tentang Kerinduan Pak Ahmad kepada Rasti. Namun Pak Ahmad tidak pernah menyebutkan nama Rasti dalam puisi tersebut, karena Pak Ahmad masih merahasiakan perasaannya kepada Rasti.
Dia Mencari waktu yang tepat untuk mengutarakan rasa cintanya kepada Rasti, agar Radti pun bisa membalas cintanya tanpa harus menunggu lama jawaban dari Rasti.
"Hai bu! Apakah sedang sibuk?" tanya Pak Ahmad menyambung komunikasi lewat WhatsApp.
"Hai juga Pak? Kebetulan saya tidak ada jam mengajar saat ini, jadi Saya sedang santai sambil menikmati alunan musik romansa di dalam ruang guru bersama Bu Wahyu." Terang Rasti, memberitahu kegiatannya pagi ini.
Bu Wahyu pun tersenyum dan melirik ke arah Ratih ketika dia mendengar namanya disebut, lalu Wahyu bertanya.
"Sepertinya ada yang membawa-bawa nama saya, ada apa ini? tanya Bu wahyu menautkan kedua alisnya.
"Ah, kepo banget sih! baru saja namanya disebut udah sensi begitu." Jawab Rasti memiringkan bibirnya dan tertawa kecil.
"Ya, saya kan yang punya nama jadi wajib tahu dong! kenapa nama saya disebut-sebut?" seru Bu Wahyu membalas tawa sambil terus mengerjakan tugasnya di depan laptop.
"Ini, Bu! Pak Ahmad tanya, Rasti sedang apa? Rasti sibuk apa nggak? ya, jadi saya jawab saja! sedang menikmati alunan musik romansa bersama Bu Wahyu. Begitu ceritanya, Bu!" terang Rasti bercerita kepada Bu Wahyu mengenai pertanyaan Pak Ahmad.
"Oh, begitu ya!" sahut Bu Wahyu membulatkan bibirnya yang merah merona menggunakan lipstik mahal.
"Iya, betul sekali Bu Wahyu yang cantik dan baik hati, suka menolong dan rajin menabung hiks hiks." celetuk Rasti sambil bercanda.
"Ya, sudah saya mau lanjut chating sama Pak Ahmad." kata Rasti berjalan menjauh dari Bu Wahyu yang sedang duduk di ruang guru.
Rasti melangkahkan kakinya menuju ruang tamu dan duduk santai ditemani segelas air teh hangat buatan Pak Kebun.
__ADS_1