
"Pak Ahmad, tunggu!" cegah Rasti dengan suara nyaring.
Pak Ahmad pun menghentikan langkah kakinya yang baru saja sampai di tengah-tengah pintu ruang tamu. Dia membalikan badannya dan menatap Rasti yang masih saja duduk santai di kursi sudut.
"Ada apa ya, Bu?" sahut Pak Ahmad tercengang.
"Katanya mau minta nomor HP saya! loh ko buru-buru pergi." kata Rasti, segera beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Pak Ahmad yang masih berdiri di tengah pintu.
"Mana hp Pa Ahmad? saya pinjam sebentar boleh?" tanya Rasti, sambil membuka dan mengarahkan tangan kanannya ke arah Pak Ahmad.
Pak Ahmad spontan merogoh saku celananya untuk mengambil hpnya, namun ternyata hp Pak Ahmad ngedrop.
"Nih, hp saya!" kata Pak Ahmad sambil memberikan hpnya kepada Rasti.
Rasti menekan layar hp Pak Ahmad berkali-kali namun tidak membuka tampilan menu dan ternyata hp Pak Ahmad baterainya habis.
"Apaan? Orang hp-nya Pak Ahmad ngedrop kok" seru Rasti sambil mengembalikan HP milik Pak Ahmad.
"Nih hp-nya, saya kembalikan." sambung Rasti mengulurkan tangan kanannya dan memasukan hp milik Pak Ahmad ke dalam saku baju batik yang dia kenakan saat ini.
Pak Ahmad segera mengambil kembali hpnya dan mengecek ulang, memastikan apakah hpnya benar-benar ngedrop?.
"Oh, iya Bu! maaf hp saya baterainya habis" terang Pak Ahmad memberitahu Rasti.
"Saya bilang juga apa, barusan?" tandas Rasti mengerucutkan bibirnya dan kembali duduk di kursi semula.
Terlihat Pak Akhmad menyimpan kembali hpnya di dalam saku tasnya dan mengambil puloen serta secercik kertas untuk menuliskan nomer hp dirinya dan diberikan kepada Rasti yang sedang ngambek.
"In ini, Bu! nomer hp saya. Tolong disimpan dalam kontak hp Bu Rasti, ya?" pinta Pak Ahmad, meletakan secercik kertas di atas meja depan Rasti.
"Iya!" jawab Rasti, masih merasa bete.
__ADS_1
"Saya pamit pulang dulu, Bu! Assalamualaikum" sambung Pak Ahmad segera pergi dari SMP P.
"Iya, iya! hati-hati di jalan" pesan Rasti kepada Pak Ahmad.
"Terimakasih, Bu!" sahut Pak Ahmad mengangguk pelan.
Pak Ahmad berjalan lantang dengan menggendong tas punggung yang sepertinya jangan berat, menuju parkiran sepeda motor guru depan sekolahan.
"Bu!" teriak Pak Ahmad menahan langkah kaki Rasti yang hendak masuk ke ruang kelas, karena ada jam ngajar di kelas sembilan bergantian dengan Bu Lastri.
Rasti pun menoleh pelan, dan melirik ke arah Pak Ahmad.
"Jangan lupa hubungi saya, nanti malam!" teriak Pah Ahmad dan cepat-cepat menarik gas sepeda motornya untuk menjemput Pak Hasbi yang sedang berada di sekolah lain, sama-sama sedang melaksanakan tugas sosialisasi.
"Insya Allah" jawab Rasti, lirih dan berjalan melenggok meninggalkan Pak Ahmad yang sudah perlahan-lahan mengendarai sepeda motornya.
"Mimpi apa saya, semalam? pagi ini bertemu dengan perempuan yang juteknya masya Allah. Tapi cantik juga dia, yah? hmmm" gerutu Pak Ahmad dalam perjalanan menjemput Pak Hasbi.
Setelah Rasti sudah berada di ruang kelas sembilan, dia teringat secarcik kertas bertuliskan nomer hp Pak Ahmad yang tertinggal di meja ruang tamu.
"Yah, di mana kertasnya ya?" tanya Rasti pada diri sendiri. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh sudut untuk mencari kertas yang berisikan nomer hp Pak Ahmad. Sampai-sampai Rasti berjalan mundur yang menabrak Bu Lastri.
"Aduwww" teriak Rasti yang hampir saja menginjak kaki Bu Lastri.
"Eh, Bu Lastri. Maafkan saya, Bu!" ucap Rasti sambil terus mencari-cari keberadaan kertas.
"Bu Rasti sedang mencari apa, sih? sampai harus ada acara berjalan mundur juga! untung tadi nggak menginjak kaki saya, kan sayang kalau terkena sepatu baru saya hiks hiks." tegur Bu Lastri sambil mengelap sepatu barunya, menggunakan tisu yang tersedia di atas meja tamu.
"Emmm, itu! anu, Bu!" jawab Rasti gengsi untuk bertanya kepada Bu Lastri.
"Bicara yang jelas, Bu! siapa tahu saya bisa bantu mencarinya." tukas Bu Lastri menawarkan bantuan kepada Rasti.
__ADS_1
"Saya sedang mencari kertas yang berisi___" ucapan Rasti terpotong karena ada panggilan dari siswa agar Rasti segera kembali ke kelas sembilan untuk melanjutkan pembelajaran siang ini.
"Maaf, Bu Lastri. Saya pamit mengajar dulu, sudah ditungguin kelas sembilan." kata Rasti, sambil membawa buku lembar kerja siswa.
"Iya, Bu! silahkan!" sahut Bu Lastri mempersilahkan Rasti kembali melanjutkan pembelajaran di kelas sembilan.
Sambil berjalan Rasti bertanya-tanya, kemana kertas yang diberikan oleh Pak Ahmad. Terlihat Rasti sangat menginginkan kertas itu, padahal awalnya cuwek bebek dan sama sekali tidak ada respon baik kepada Pak Ahmad.
"Ke mana kertasnya, yah? huft hmm" hela Rasti menggerutu dalam hati.
"Bu Rasti tadi mencari kertas ini, kan?" ucap Bu Lastri, suaranya mengagetkan Rasti yang sedang melamun di kursi guru sambil mengawasi siswa belajar kelompok membuat teks diskusi.
"Wah! iya Bu! ko, Bu Lastri tahu kalau saya mencari kertas itu?" jawab Rasti terkejut, menatap Bu Lastri memegangi kertas bertuliskan nomer hp Pak Ahmad.
"Ini, kan dalam secarcik kertas ini tertera nama Bu Rasti. Nomer hp Pak Ahmad, buat Bu Rasti simpan dalam kontak hp Bu Rasti." kata Bu Lastri membacakan isi pesannya, Rasti pun terpelongo mendengar Bu Lastri membacakan isi dari secarcik itu.
"Panjang juga tulisannya, saya kira isinya hanya nomer hp dia saja!" celetuk Rasti merasa sedikit geram melihat sikap Pak Ahmad.
"Ini, terimalah! simpan dalam hati, eh! maksudnya simpan dalam kontak hp Bu Rasti." pinta Bu Lastri sambil memberikan kertasnya kepada Rasti.
"Terimakasih, Bu!" ujar Rasti sambil tersenyum.
"Iya, sama-sama" jawab Bu Lastri, menepuk bahu Rasti pelan.
"Saya jadi malu, ternyata Bu Lastri yang menemukannya hiks hiks" celetuk Rasti tertawa kecil.
"Tidak masalah" sambar Bu Lastri. Ternyata Bu Lastri mendengar Rasti bergumam.
"Lanjut mengajar, semangat!" seru Rasti, menyemangati diri sendiri dan melangkah cepat masuk ruang kelas sembilan.
"Lebih baik langsung saya simpan saja nomer hp Pak Ahmad dalam kontak hp saya, sesuai dengan anjuran pesan dalam secarcik kertas ini. Dari pada nanti lupa lagi, kecuci! tidak bisa terbaca tulisannya! aduwww bisa berabe." Rasti menuangkan ide untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Secepatnya Rasti mengambil hpnya dalam saku baju seragam berwarna pink yang dia kenakan saat ini, dan mencari menu "kontak" segera Dia menyimpan nomer hp Pak Ahmdad dengan senang hati.
"Klik, simpan! okey, done! tersimpan amat disini, jangan menghilang lagi ya!" Akhirnya Rasti berhasil menyimpan nomer hp Pak Ahmad.