BUAH HATI KITA

BUAH HATI KITA
Puisi Patah Hati


__ADS_3

Rasti sudah memegangi kertas dan pulpen untuk membuat puisi yang berjudul patah hati, yaitu puisi balasan yang dibuat Rasti untuk Pak Ahmad.


Rangkaian Kata telah dia tulis sedemikian rupa agar ketika Pak Ahmad membaca puisi ciptaan nya pesan yang terkandung pun akan mengena di hati pembacanya.


Setelah selesai membuat puisi, Rasti mengetik ulang lewat pesan Whatsapp yang nantinya akan dikirim ke nomor Pak Ahmad. Walaupun puisi itu tidak terlalu bagus, namun Rasti membuatnya dengan sepenuh hati.


Ting...


Puisi yang berjudul Patah Hati telah dikirim ke Pak Ahmad, segera Pak Ahmad membukanya dan membaca puisi tersebut. Puisi Rasti sangat mengena di hati Pak Ahmad seolah-olah dia bisa merasakan apa yang telah Rasti tulis dalam puisi tersebut.


Pak Ahmad menebak jika itu adalah pengalaman pribadinya Rasti, namun Pak Ahmad tidak berani bertanya atau membalas pesan Whatsapp Rasti dengan kata-kata yang terlalu panjang. Karena nantinya barangkali Rasti tersinggung, dan Pak Ahmad tidak membalas satu kata pun namun dia membalas pesan Whatsapp dari Rasti hanya dengan menggunakan emoticon yang bergambar menangis.


Beberapa menit kemudian Rasti menerima balasan whatsapp dari Pak Ahmad dan cepat-cepat membukanya.


Rasti tercengang, dan sekejap memejamkan matanya serta meneteskan air matanya yang tidak dapat terbendung.


"Bu Rasti, saya tahu Bu Rasti sedang sedih!" ucap Pak Ahmad, menebak suasana hatinya Rasti.


"Kata siapa, sok tahu Pak Ahmah, nih!" tampik Rasti cepat.


"Nggak usah berbohong sama saya, Bu!" pinta Pak Ahmad, agar Rasti mengatakan suasana hatinya yang sebenarnya kepada Pak Ahmad.


"Siapa? siapa yang berbohong?" tangkas Rasti mencoba mengelak.


"Bu, saya tahu Bu Rasti sedang patah hati. Buktinya, puisi yang Bu Rasti kirim kepada saya berjudul patah hati." kata Pak Ahmad sedikit ngotot.


"Itu hanya sebuah kebetulan saja, Pak!" seru Rasti mempertahankan pendapatnya.

__ADS_1


"Bukankah masih banyak judul yang lain, Bu? tentunya judul puisi yang lebih bagus dari patah hati. Seperti puisi saya, berjudul Pertemuan yang indah. Itu karena saya merasa bahagia bertemu dengan Bu Rasti, ayo lah Bu! jangan bersedih terus. Tinggalkan masa lalu dan raih masa depan yang cerah." terang Pak Ahmad, memberikan saran kepada Rasti agar Rasti bangkit dari keterpurukan.


"Pak... mengertilah perasaanku sedikit saja!" pinta Rasti merasa sedih.


"Bu... saya mencoba mengerti perasaan Bu Rasti saat ini, maka dari itu saya tidak ingin melihat Bu Rasti sedih lagi. Karena sudah ada saya, yang akan mendampingi Bu Rasti dalam suka maupun duka." tandas Pak Ahmad, meyakinkan perasaan Rasti.


"Diantara kita tidak ada ikatan apapun, bagaimana Pak Ahmad bisa mendampingi saya?" tanya Rasti mengerutkan keningnya.


"Itu perkara mudah, Bu! saya siap mendampingi ke mana pun Bu Rasti akan pergi." sahut Pak Ahmad menenangkan hati Rasti.


"Mungkinkah ini bisa terjadi?" kata Rasti ragu-ragu dengan sikap Pak Ahmad.


"Tentu saja bisa, Bu!" tandas Pak Ahmad merasa dirinya bisa mendampingi Rasti kapan pun disaat Rasti butuh teman.


"Buktikanlah, Pak! semua ucapanmu!" pinta Rasti dengan penuh harapan.


"Pasti akan saya buktikan pada Bu Rasti, tenanglah!" kata Pak Ahmad dengan nada serius.


Dua hati yang sedang berbeda rasa, akankah bisa bersatu nantinya? Pak Ahmad sedang jatuh cinta, dan Rasti sedang patah hati. Hmm entalah.


"Saya tidur dulu, Pak!" ucap Rasti masih dengan menggunakan pesan WA.


"Tidurlah, Bu! dan bangun saat tahajud tiba. Minta petunjuk sama Allah Swt, agar dipermudah dalam menjalankan segala urusan." balas Pak Ahmad, sedikit memberikan saran kepada Rasti yang masih saja bersedih.


Rasti hanya membaca pesan dari Pak Ahmad yang terakhir, dia mengakhiri percakapannya dengan Pak Ahmad. Karena rasa ngantuk mukai menghampirinya. Pak Ahmad pun meletakan hpnya di atas meja kerjanya.


"Huft! saya ingin membahagiakan dirimu, Rasti!" gumam Pak Ahmad lirih, sembari memejamkan matanya.

__ADS_1


Pak Ahmad menarik selimut nya dan segera tidur. Rasa lelah seharian beraktifitas membuatnya ingin tidur lebih cepat dari biasanya, dia tidak mengerjakan lemburan kerja apapun maka dari itu punya banyak waktu untuk beristirahat.


Rasti belum juga bisa tertidur, pikirannya masih kacau dan belum bisa terlepas dari masa lalunya. Rasa kecewanya terlalu dalam, hingga menyisakan penyesalan.


"Ya Allah, kuatkan hatiku. Aamiin!" ucap Rasti dalam hati.


Rasti beranjak bangun dari tempat tidurnya untuk mengganti sprei kesayangannya berwarna merah maroon yang bergambar hati, selesai memasang sprei Rasti mengambil selimutnya yang begitu lembut untuk menemani tidur Rasti malam ini.


"Taraaa, selesai! sudah rapi! saatnya tidurrrr!" teriak Rasti, dengan nada sedikit tinggi.


"Oh, iya saya lupa belum cuci tangan dan cuci kaki." kata Rasti segera keluar dari kamarnya.


Suasana rumah sudah sepi, semua anggota keluarga sudah pada tidur di kamar masing-masing. Rasti melangkah menuju kamar mandi dengan hati-hati, karena dia takut akan terpeleset kalau tidak hati-hati.


"Uh, segerrr" ucap Rasti sembari mencuci wajahnya.


Selesai dari kamar mandi, Rasti berjalan lambat sambil mengusap wajahnya yang basah. Dia meraih handuk yang tergantung di balik pintu kamarnya.


Usai bersih-bersih Rasti mencoba untuk tidur, namun matanya enggan terpejam. Akhirnya dia duduk di depan meja rias dan memandangi wajah serta matanya yang sembah.


"Andai waktu dapat diputar kembali, maka saya lebih memilih untuk tidak mengenal cinta dan tak perlu ada kata jatuh cinta dengan dia." ucap Rasti sambil menunjukan jari telunjuknya ke arah cermin.


"Mengapa semua ini bisa terjadi? disaat saya benar-benar menyayanginya. Teganya kalian berdua menusuk saya dari belakang, tega! kalian sungguh tega! kalian berdua sama sekali tidak punya rasa kemanusiaan." gerutu Rasti sambil mengingat kejadian yang tak akan pernah terlupakan dalam memory ingatannya.


"Nis, apa tidak ada pria lain selain Mas Budi? hingga kamu tega menjalin hubungan pacaran dengannya tanpa sepengetahuan saya. Kita ini berteman dekat, tapi kenapa kamu menganggap saya sebagai saingan kamu dalam meraih cintanya Mas Budi? kenapa, Nis? kenapa?" tanya Rasti pada cermin, dia menganggap ada Nisa di depannya.


Rasti sangat terpukul, dan belum juga move on.

__ADS_1


"Kamu boleh menang, Nis! tapi selamanya kamu akan dihantui rasa bersalah, dan kamu akan merunduk malu setiap kali bertemu dengan saya." tandas Rasti, dia merasa sangat kecewa mempunyai teman yang begitu jahat kepadanya.


"Huft, semoga cepat atau lambat saya segera mendapatkan gantinya Mas Budi. Tentunya pria itu adalah pria yang baik dan setia sama saya. Ya Allah, kabulkanlah permohonan dari saya." tak henti-hentinya Rasti memohon doa kepada Allah Swt.


__ADS_2