
Pak Ahmad memboncengkan Mamanya menuju sawah, dengan sangat repot mereka membawa peralatan tempur di sawah.
Sesampainya mereka di sana, Pak Ahmad dan Mamanya berjalan mengitari sawah miliknya untuk mengecek keadaan tanaman bawang yang mereka taman sebulan yang lalu.
Sungguh tanaman bawang yang subur dan tumbuh besar, Pak Ahmad sangat bahagia melihat pertumbuhan tanaman bawang yang begitu pesat dan berharap akan berhasil panen dengan harga yang mahal.
"Ma, saya turun dulu ke pematang sawah" ucap Pak Ahmad segera menyirami tanaman bawang miliknya. Larik demi larik dia sirami dengan penuh kasih sayang.
"Iya, hati-hati" jawab Mama yang sedang mengambili beberapa ulat kecil yang memakan daun bawang. Ulat kecil jika tidak rutin diambili, maka lambat laun akan merusak tanaman bawang.
Matahari sudah mulai tinggi, kemungkinan sekarang sudah jam setengah tujuh. Mengingat Pak Ahmad adalah seorang guru, maka dia segera pulang dari sawah untuk berganti profesi. Pagi hari menjadi petani dan siangnya menjadi guru, pahlawan tanpa tanda jasa.
"Alhamdulillah, sudah selesai kegiatan pagi ini di sawah. Mari kita pulang, Ma!" ucap Pak Ahmad, mengajak Mama segera pulang karena waktu suang siang.
"Ayo!" sahut Mama, sambil berjalan menuju parkiran sepeda motor.
Dengan penuh kasih sayang dan perhatian, Pak Ahmad menggandeng tangan kanan Mama agar Mama tidak merasa capek!. Begitu hormatnya Pak Ahmad kepada Mama dan Abahnya, dia sangat berbakti kepada orang tuanya.
"Ayo, naik, Ma! hati-hati" pinta Pak Ahmad agar Mama segera naik ke atas sepeda motor miliknya.
"Sudah siap, Ma?" tanya Pak Ahmad kepada Mama. Memastikan jika Mama sudah merasa nyaman duduknya.
"Sudah, ayo jalan!" ucap Mama sembari menepuk pelan punggung Pak Ahmad.
"Baik, Ma!" sahut Pak Ahmad, segera menarik gas sepeda motornya pelan-pelan.
Dalam perjalanan pulang, mereka bertemu dengan Bang Khamim yaitu Kakak pertamanya Pak Ahmad. Bang Khamim hendak pergi ke sawah juga, untuk melihat hasil panen sayuran.
Bang Khamim membunyikan klanson sepeda motornya dan Pak Ahmad pun membalasnya,membunyikan klakson sepeda motornya juga. Mereka bertegur sapa lalu berhenti di tepi jalan dan saling bertanya, bercerita kegiatan pagi ini.
Setelah mereka selesai bercerita, Pak Ahmad kembali tacap gas untuk segera pulang mengingat dia harus mengajar.
__ADS_1
Hanya beberapa menit saja, Pak Ahmad dan Mamanya sampai di rumah mereka.
"Pih, Nenek!" sapa Abid sambil menggigit botol minumannya.
"Halo, Abid!" mereka membalas sapaan Abid dengan senyuman riang.
"Pih, sudah pulang?" tanya Abid, meraih tangan Pak Ahmad dan menggandengnya masuk ke dalam rumah.
"Iya, sudah!" jawab Pak Ahmad, singkat.
"Pih, pih, kita mainan bola yu?" ajak Abid, sambil memperlihatkan bolanya yang baru saja dibelikan Bapaknya.
"Abid sudah mandi apa belum?" tanya Pak Ahmad sambil memegangi kedua tangan Abid.
"Belum! tapi Abid mau main bola sama Pih!" celetuk Abid, merengek kepada Pak Ahmad.
"Kalau Abid mau main bola sama Pih, Abid harus mandi dulu ya? biar wangi dan ganteng." tukas Pak Ahmad mengalihkan pembicaraan agar Abid tidak menangis saat Pak Ahmad hendak pergi mengajar.
"Pih, mau berangkat kerja. Abid mandi sama Mama, ya?" terang Pak Ahmad memberikan pengertian kepada Abid.
"Abid... sini!" teriak Kak Ida memanggil anaknya.
"Pih mau kerja, Abid mandi sama Mama. Ayo!" sambung Kak Ida, segera menggendong Abid masuk ke dalam.
Saat Abid sudah bersama Mamanya, Pak Ahmad melangkah cepat menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya dan segera berangkat ke sekolah.
Kegiatan Pak Ahmad sangat padat merayap, hingga dia tidak ada waktu untuk pdkt dengan perempuan mana pun. Baru kali ini Pak Ahmad tertarik dengan seorang perempuan yaitu Rasti, Ibu guri cantik yang angkuh dan cengeng.
Pak Ahmad sudah siap mengajar dengan mengenakan seragam batik bercorak abstrak berwarna coklat muda, dengan setelan celana panjang standar berwarna hitam. Dia berpamitan dengan Abah dan Mamanya saat mau berangkat mengajar, dan kebiasaan itu selalu Pak Ahmad lakukan.
"Bah, Ma. Saya berangkat dulu," kata Pak Ahmad sembari meraih tangan kanan Abah dan Mamanya, serta mencium punggung tangan kanan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Hati-hati di jalan, dan jaga diri baik-baik!" sahut Abah, berpesan kepada Pak Ahmad sambil mengulurkan tangan kanannya.
"Baik, Bah!" jawab Pak Ahmad dengan suara tegas.
"Pih, pih mau sekolah?" teriak Abid mengejar Pak Ahmad yang sudah berada di atas sepeda motornya.
"Iya, Pih mau sekolah. Abid di rumah sama Nenek dan Kakek, ya? jangan rewel. Nanti kalau Pih pulang, kita main bola. Okey?" ucap Pak Ahmad sambil mencubit gemas pipi gembulnya Abid.
"Horeee" teriak Abid, dan berlari ke sana ke mari kegirangan. Abid merasa senang jika ada Pak Ahmad di rumah, namun akhir-akhir ini Pak Ahmad sibuk dengan pekerjaannya. Jadi jarang sekali bermain dengan Abid, maka dari itu sepertinya Abid merasa sangat rindu dengan pamannya.
Pak Ahmad tersenyum sambil geleng kepala melihat tingkah lucu Abid, Abid saat ini sudah berusia dua tahun lebih dua bulan.
"Bismillahirrohmanirrohim" ucap Pak Ahmad berdoa sebelum berangkat mengajar.
Dan langsung, Pak Ahmad tacap gas. Awalnya pelan, lalu dia menambah kecepatan laju sepeda motornya. Dalam perjalanan menuju tempat dia mengajar, hp berdering beberapa kali. Entah siapa yang menghubunginya pagi-pagi.
Pak Ahmad sengaja mengabaikan panggilan telepon masuk, dan konsentrasi mengendarai sepeda motornya dengan sangat hati-hati agar dia cepat sampai di sekolah dengan selamat.
Sesampainya di sekolah, Pak Ahmad disambut sama Pa Satpam dan beberapa teman guru yang masih duduk santai di ruang tunggu. Kurang lima menit lagi, bel masuk akan berbunyi. Pak Ahmad melangkah menuju ruang guru untuk menaruh tas punggungnya yang terlihat penuh isinya.
Dia berpapasan dengan Bapak Kepala sekolah dan mereka saling menyapa.
"Selamat pagi, Pak Kepsek." ucap Pak Ahmad sambil menundukan sedikit, kepalanya. Tanda hormat kepada atasan.
"Pagi juga, Pak Ahmad!" bagaimana kabar hari ini? apakah sudah punya pacar?" pertanyaan dari Bapak Kepala Sekolah seketika membuat Pak Ahmad mendongakan kepalanya dan menatap wajah Bapak Kepala sekolah.
Pak Ahmad sangat terkejut mendengarnya, dan menjawabnya dengan gugup.
"Be, belum, Pak! saya belum punya pacar." cetus Pak Ahmad tersipu malu dan kembali menundukan kepalanya. Wajah Pak Ahmad pun memerah, jantungnya berdegup kencang.
Bapak Kepala Sekolah tidak menjawabnya, namun tertawa lirih dan berjalan meninggalkan Pak Ahmad.
__ADS_1
"Tega benar Bapak Kepala Sekolah menertawakan saya, hanya karena saya belum punya pacar! hmm, huft sebal deh!" seru Pak Ahmad, sedikit menggerutu dan melanjutkan langkahnya menuju ruang guru.