BUAH HATI KITA

BUAH HATI KITA
Istirahat Sejenak


__ADS_3

Pada saat Rasti hendak beristirahat, dia melihat buku-buku yang berserakan di meja riasnya yaitu buku yang berisi karya sendiri. Akhirnya Rasti pun tidak jadi istirahat, tetapi bertugas untuk bersih-bersih kamarnya dan beres-beres buku yang berserakan.


Pada saat Rasti membereskan buku-buku yang berserakan, dia menemukan lembaran kertas berisi tulisan dari mantan pacarnya yang meninggalkannya pada saat dia punya harapan besar untuk bisa hidup bersamanya selamanya.


Namun Harapan itu musnah, seketika Rasti merobek-robek kertas tersebut dan membuangnya cepat-cepat ke dalam tong sampah yang berada di sudut kamarnya. Rasti sangat benci, sangat sebal mengingat sang mantan yang menikah dengan teman dekatnya alias. Dia ditikung sama temannya sendiri.


Sungguh malang nasibnya, tapi apa boleh buat itu sudah menjadi takdirnya atau kehendak dari yang maha kuasa. Mana mungkin Rasti bisa menolak.


Rasti melanjutkan menata buku-buku yang berisi karyanya sendiri, dan menyimpannya ke dalam lemari loker khusus untuk menyimpan buku.


"Kenapa sih, saya harus menemukan lembaran kertas yang tidak penting! membuat mod saya menjadi rusak. Huft!" dengus Rasti merasa sebal.


"Tega! kau sungguh tega! menghianati cinta ini, pergi saja kau dari peradaban dunia ini! saya tidak ingin melihat wajahmu lagi." seru Rasti sembari remas-remas foto-foto mantan pacarnya yang telah menikah dengan temannya sendiri.


Raut wajah Rasti seketika berubah, air matanya tak dapat ia bendung lagi. Tumpahlah air mata Rasti membasahi pipinya yang halus, ketika Rasti sedang menangis mengenangkan nasibnya yang malang tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.


"Rasti, buka pintunya! Ayo kita makan malam dulu!" ucap Ibu mengajak Rasti makan malam bersama.


"Iya, tunggu sebentar, Bu!" sahut Rasti sambil membersihkan air matanya yang menetes di pipinya.


"Baik, Ibu tunggu. Jangan lama-lama, ya?" Sambung Ibu meminta agar Rasti cepat keluar dari kamarnya.


Sebelum Rasti keluar dari kamarnya, dia berdiri di depan cermin untuk melihat matanya yang sembab. Dia tidak mau ibunya khawatir melihat dirinya yang usai menangis, nanti yang ada ibu bertanya-tanya karena penasaran.


Cekrek


Suara pintu kamar Rasti telah terbuka, dia melangkah keluar menuju ruang tengah untuk makan malam bersama keluarga. Terlihat semua anggota keluarga sudah siap menyantap makan malam yang sudah disediakan oleh ibu.


"Rasti, sini duduk, nak! Mari kita makan." Ucap Ibu sembari menyiapkan piring untuk Rasti.


"Terima kasih, bu!" jawab Rasti sambil menyendok nasi dan menuangkannya ke dalam piring yang telah disediakan oleh ibu.

__ADS_1


"Bagaimana istirahatnya, tadi? apakah kamu tertidur? sepertinya Ibu amati sama sekali tidak ada suara apapun di kamarmu." tanya Ibu penasaran.


"Iya, Bu! tadi saya tertidur lelap" jawab Rasti sedikit berbohong sama Ibu.


Rasti tidak ingin jika Ibunya mengetahui dirinya sedang merasa sedih karena teringat masa-masa indah dulu, bersama mantan pacarnya.


"Syukurlah kalau begitu!" ucap Ibu sambil menikmati makan malam.


"Kamu sih enak, Dik! bisa istirahat, tidur pula." sambar Kak Tiwi mengerucutkan bibirnya.


"Emangnya tadi Kak Tiwi nggak tidur?" balas Rasti menautkan kedua alisnya.


"Nggak, Dik! Kakak nggak tidur. Bagaimana bisa tidur? baru saja Kakak menjemur pakaian, eh sudah turun hujan, uh 'kan sebel banget." gerutu Kak Tiwi merasa kecapean.


"Hiks hiks hiks, kasihan banget deh Kak Tiwi!" celetuk Rasti menertawakan kakaknya.


"Tega bener kamu, Dik! menertawakan kakakmu ini yang sedang bete." tukas Kak Tiwi yang mengeluh kesal.


"Sudah, sudah, sudah! habiskan dulu makannya, jangan banyak ngobrol." kata Ibu melarang anak-anaknya bicara saat sedang makan.


Belum sempat Rasti menghabiskan makan malamnya, dia mendengar dering panggilan hp-nya yang berada dalam kamarnya. Rasti segera mengakhiri makan malamnya dan bergegas menerima telepon masuk dari Pak Ahmad, yang kemungkinan akan memberi kabar bahwa dirinya sudah sampai di rumah dengan selamat.


"Ibu, saya pamit masuk ke kamar dulu. Mau terima panggilan telepon dari seseorang." kata Rasti segera beranjak dari tempat duduknya dan mengakhiri makan malamnya.


"Sebaiknya dihabiskan dulu makananmu!" pinta ibu, matanya tertuju ke arah piring Rasti yang masih ada sisa makanan.


"Tidak, Bu! perut saya sudah terasa kenyang, jika dipaksakan maka akan muntah." ucap Rasti dan segera berjalan masuk menuju kamarnya.


"Oh, begitu!" sahut Ibu singkat.


Rasti mempercepat langkah kakinya dan segera meraih hp-nya yang sedari tadi berdering nyaring. Dia mengira ada panggilan telepon masuk dari Pak Ahmad, ternyata dari Bu Wahyu yang memberitahukan bahwa ada barang milik Rasti yang tertinggal di meja tugasnya.

__ADS_1


"Yah, Bu Wahyu! saya pikir ini panggilan masuk dari Pak Ahmad, ternyata halu." gerutu Rasti sambil menatap layar ponselnya.


"Saya angkat saya, deh! siapa tahu ada penting yang ingin Bu Wahyu sampaikan kepada saya." gumam Rasti sambil menekan tombol oke.


"Halo Bu Wahyu, ada kabar apa Bu? tumben telpon malam-malam!" tanya Rasti penasaran.


"Halo juga, Bu! ada yang ingin saya sampaikan pada Bu Rasti." jawab Bu Wahyu cepat.


"Apa itu, Bu?" sambung Rasti, ingin tahu.


"Jangan lupa besok berangkat sambil bawa makanan, biar nggak kelaperan di sekolah." celetuk Bu Wahyu tertawa.


"Hah, makanan! saya kira ada apa?" seru Rasti terkejut.


Bu Wahyu pun tertawa kecil, ternyata dia sengaja meledek Rasti.


"Iya, jangan lupa besok bawa makanan!" tandas Bu Wahyu mengulang kembali ucapannya.


"Emm, baiklah! insya Allah besok saya bawakan nasi goreng buatan Ibu saya, ya?" kata Rasti mengiyakan permitaan Bu Wahyu.


"Asikkkk! saya mau dong! dibawakan nasi goreng buatan Ibu hiks hiks." celetuk Bu Wahyu cekikikan.


"Boleh, boleh, boleh. Akan saya bawakan besok! itu pun kalau nasinya masih ada." seru Rasti sambil menyernyitkan keningnya.


"Semoga masih ada, nasinya!" ucap Bu Wahyu, berharap Rasti membawakan nasi goreng buat dirinya. Karena ternyata Bu Wahyu nyidam anak kedua.


"Sudah dulu, ya? saya mau tidur. Ngantuk!" ucap Rasti, berpamitan untuk mengakhiri pembicaraannya.


"Iya, sama nih! saya juga sudah ngantuk." cetuk Bu Wahyu sambil menguap.


"Udah sana tidur!" perintah Rasti kepada Bu Wahyu.

__ADS_1


"Iya, iya. Maaf yah, sudah mengganggu Bu Rasti." sahut Bu Wahyu merasa dirinya sudah mengganggu istirahatnya Rasti hanya untuk memesan makanan saja.


Rasti pun mengakhiri pembicaraannya dengan Wahyu dan dia kembali lagi ke ruang tengah untuk menikmati segelas teh hangat yang sudah dibuatkan oleh ibu, namun ketika Rasti kembali lagi ke ruang tengah. Ternyata semua anggota keluarga sudah masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat, Rasti pun tidak mengurungkan niatnya untuk menghabiskan segelas teh hangat buatan Ibu yang tadi belum sempat ia minum.


__ADS_2