
"Serius nih, Bu! Bu Rasti nggak mau jika saya belikan sesuatu buat Bu Rasti? sebagai tanda permohonan maaf saya kepada Bu Rasti." ucap Pak Ahmad, menegaskan kembali.
"Nggak, Pak! nggak perlu repot-repot membelikan sesuatu buat saya, karena saat ini saya hanya membutuhkan seseorang yang tulus mencintai saya apa adanya." jawab Rasti dengan nada mengambang.
"Oh, begitu! Jadi, menurut Bu Rasti, saya tioe seseorang yang tidak tulus?" sahut Pak Ahmad menanggapi ucapan Rasti yang seperti orang sedang ngelantur.
"Eh, apaan sih Pak Ahmad! emangnya tadi saya bicara apa?" tanya Rasti kepada Pak Ahmad. Rasti lupa dengan ucapannya beberapa detik yang lalu.
"Haduw! lah ko, jadi tanya sama saya? kan barusan Bu Rasti yang bilang sendiri sama saya, bahwa Bu Rasti menginginkan keberadaan seseorang yang tulus. Bukankah begitu ucapan Bu Rasti barusan?" tandas Pak Ahmad yang mulai bingung dengan ucapan Rasti yang terlupakan.
"Hiks, hiks, sudahlah Pak! tidak usah dipikirkan ucapan saya barusan." pinta Rasti kepada Pak Ahmad.
"Hmmm, baiklah!" jawab Pak Ahmad berdeham pelan.
Sepertinya pikiran Rasti sedang kacau saat ini, maka dari itu dia lupa dengan ucapannya sendiri dan ketika Pak Ahmad menanggapinya Rasti justru meminta Pak Ahmad agar tidak memikirkan ucapannya.
"Oya, ngomong-ngomong pulang dari mengajar ada acara apa, Bu?" tanya Pak Ahmad mengalihkan pembicaraan.
"Acara? acara apa maksud Pak Ahmad? saya nggak punya acara apapun!" sahut Rasti menanggapi pertanyaan Pak Ahmad.
"Saya pikir, Bu Rasti sudah punya jadwal acara setelah mengajar." ucap Pak Ahmad dengan nada datar.
"Tidak ada acara sama sekali, paling saya langsung pulang dan tidur!" jawab Rasti memberitahu jadwal kegiatannya usai mengajar.
"Emmm, bagaimana jika nanti kita bertemu jam satu siang hari ini?" ajak Pak Ahmad, ingin bertemu dengan Rasti untuk kedua kalinya.
__ADS_1
"Bertemu? mau ngapain, Pak?" tanya Rasti sembari mengerutkan keningnya.
"Iya, bertemu! tatap muka! kita ngobrol-ngobrol berbagi informasi." kata Pak Ahmad dengan suara yang tegas.
"Kalau bertemu tujuannya hanya untuk berbagi informasi, lewat pesan sms juga bisa! tidak perlu bertemu dan tatap muka." tukas Rasti merasa kesal.
Sebenarnya apa yang dia inginkan dari Pak Ahmad? sepertinya Rasti menaruh harapan lebih kepada Pak Ahmad.
"Lantas, apa yang Bu Rasti inginkan ketika kita bertemu?" tanya Pak Ahmad, ingin tahu.
"Yaa, kita makan bakso kek! makan sop buah kek, atau makan es krim gitu biar romantis! masa bertemu hanya untuk ngobrol yang tidak penting! huft!" sahut Rasti dengan nada sedikit tinggi.
"Ohhh, begitu maksud Bu Rasti. Saya pikir mau apa gitu?" celetuk Pak Ahmdad, dengan polosnya Pak Ahmad menanggapi ucapan Rasti.
"Yee, dasar piktor!" bentak Rasti, merasa sebal dengan Pak Ahmad yang salah tafsir dengan ucapan Rasti.
"Ngobrol masa depan? ngga kejauhan nih materinya? emangnya sudah siap berumah tangga?" pertanyaan beruntun dilontarkan oleh Rasti kepada Pak Ahmad.
"Ya, yang namanya manusia normal pastinya ingin berumah tangga. Membina keluarga yang baik, sakinah mawadah warohmah. Masalah siap atau tidaknya, tergantung dengan orangnya masing-masing!" terang Pak Ahmad dengan santainya.
"Pak Ahmad, heloww! kita sedang membicarakan apa sebenarnya?" tanya Rasti membuyarkan khayalan Pak Ahmad yang sudah ingin melepas masa lajangnya.
"Membicarakan masa depan kita! eh, maksudnya masa depan saya atau masa deoan Bu Rasti." ucap Pak Ahmad gugup.
Pak Ahmad takut salah bicara, nanti yang ada Bu Rasti malah ilfeel sama dia. Akhirnya Pak Ahmad berniat untuk mengakhiri percakapannya lewat pesan sms.
__ADS_1
"Bu, saya tunggu jam satu siang di Masjid Agung Brebes! saya pamit off dulu, masih ada tugas yang harus saya selesaikan hari ini." seru Pak Ahmad, dan mengakhiri percakapannya tanpa menunggu pesan balasan dari Rasti.
Pak Ahmad sangat yakin, jika Rasti mau memenuhi ajakannya bertemu tepat jam satu siang di Masjid Agung Brebes.
"Kamu pikir, kamu siapa Pak? seenaknya saja menyuruh-nyuruh saya datang ke sana untuk menemui dirimu yang sangat kepedean. Hufffttt kesal deh!" gerutu Rasti, dan segera mematikan hp nya.
Rasti kembali disibukan dengan adminiatrasi sekolah, bersama Bu Wahyu dia mengerjakannya. Tak lama kemudian bel masuk jam pelajaran terakhir telah berbunyi nyaring, saat itu waktu sudah menunjukan jam dua belas kurang lima belas menit.
"Yah, bel sudah berbunyi! padahal baru saja saya mau menikmati cemilan yang dibawakan sama Bu Wahyu! sayang kan, kalau nggak segera dihabiskan." celetuk Rasti tersenyum ke arah Bu Wahyu yang masih sibuk di depan leptop.
Mendengar dan melihat sikap Rasti, Bu Wahyu tertawa kecil tanpa satu kata pun yang terucap. Sepertinya dia sedang konsentrasi menghitung sesuatu, entah apa yang dia hitung. Bisa jadi Bu Wahyu sedang menghitung ucapannya Rasti, yang sedari tadi menggerutu sendiri.
"Habiskan dulu makanannya, baru masuk kelas. Jangan lupa minum, dan itu sisa makanan yang menempel di pipi segera dibersihkan sebelum masuk kelas! cuci tangan juga jangan sampai luoa!" ucap Bu Wahyu seketika memberi saran kepada Rasti, saat dia mengetahui temannya yang sedang gugup.
"Ha, ha, iya, iya! ini juga sedang membersihkan sisa makanan" sahut Rasti sembari mengusap lembut pipinya yang cuby dan mulus.
"Alhamdulillah, sudah bersih! saatnya masuk kelas" ucap Rasti yang masih berdiri di depan cermin memandangi dirinya sendiri.
"Hmm, cantik memang aku akui usia muda pun ia miliki. Lain dengan diriku ini, yang telah lama engkau khianati." Rasti menyanyikan lagu yang bertema sakit hati, sepertinya itu luapan hatinya saat ini yang baru saja ditinggal menikah sama mantan pacarnya.
"Hiks, hiks" terdengar suara tawa yang tertahan, ternyata Bu Wahyu yang sedari tadi masih memperhatikan Rasti walau dirinya masih sibuk di depan leptop.
"Tolong yah, Bu Wahyu jangan tertawa! nanti saya sumpahin, biar Bu Wahyu badannya berubah jadi gembrot." celetuk Rasti bercanda.
"Yee, nggak yah! badan saya selalu ramping setiap saat, badan Bu Rasti tuh! yang melebar kemana-mana" balas Bu Wahyu meledek Rasti.
__ADS_1
"Bentar lagi juga saya bagikan lemak ini buat Bu Wahyu dan juga untuk teman yang lain, hi hi" kata Rasti sambil mencubit gemas lemak yang menggelambir di pinggangnya dan melemparkannya ke arah Bu Lastri yang baru saja masuk ke dalam ruang guru.
"Weh, weh, weh! ada apa ini? kayaknya ada yang sedang berbagi?" tanya Bu Lastri sambil duduk dan menikmati segelas teh hangat buatan Pak Kebun.