
Kring... kring...
Suara alrm telah berbunyi nyaring, Rasti terbangun kaget. Dia merasa baru saja tidur, tapi pagi sudah mulai menyapa.
Rasti masih ngantuk dan tidak mau beranjak bangun dari tempat tidurnya, bunyi alarm terus terdengar nyaring menyeruak ke dalam telinga Rasti.
Rasanya sangat tidak nyaman jika Rasti membiarkan alrm terus berbunyi nyaring, dia menyingkab selimutnya dan melempar bantal guling ke arah lemari. Terjatuhlah itu selimut dan bantal guling dari ranjang Rasti, Rasti segera bangun dan mengambil barang yang jatuh.
"Uh, pakai acara jatuh segala!" ucap Rasti menggerutu sambil mengambil selimut dan bantal guling yang terjatuh. Padahal semua karena ulah Rasti, namun Rasti tidak sadar saat melempar bantal guling ke arah lemari.
"Ini lagi, alrm! diam ngapa, sih!" seru Rasti sembari mematikan alrm cepat-cepat.
Rasti segera melangkah keluar dari kamar untuk membersihkan nggota badannya dan mandi. Tak lupa Rasti mengambil air wudu untuk menunaikan ibadah sholat subuh berjamaah di musholah depan rumahnya.
Dengan langkah gontai dan mata belum melek sempurna, Rasti menarik handuk yang tersampir di atas pintu kamarnya. Sambil berjalan, dia merapikan rambut panjangnya yang terurai acak adul dan mengikatnya dengan menggunakan tali pita berwarna hitam seperti rambutnya.
"Rasti!" sapa Ibu, yang baru saja keluar dari Kamarnya.
"Iya, Bu!" jawab Rasti dengan suara mengambang.
"Mau sarapan apa hari ini? kamu tentukan menunya, biar Ibu yang masak!" tanya Ibu kepada Rasti.
"Emm, apa yah? Rasti juga bingung, Bu! terserah Ibu saja deh! semua masakan Ibu, Rasti pasti suka." puji Rasti kepada Ibu.
"Ya, sudah kalau begitu. Ibu mau masak sayur sop dan ayam goreng, kebetulan di dalam kulkas masih ada persediaan sayur dan ayam potong." kata Ibu sembari membuka pintu kulkas dan memastikan jika persediaan makanan masih ada.
"Ini dia yang Ibu cari, saatnya masak!" ucap Ibu sembari menunggu Rasti selesai sholat subuh berjamaah.
Kali ini Ibu sedang tidak sholat, karena ada tamu bulanan yang datang.
"Hai, Bu! selamat pagi, sudah mulai tempur di dapur nih! Ibu mau masak apa?" tanya Kak Tiwi yang hendak mandi.
"Ibu mau masak sayur sop dan ayam goreng, kamu suka?" sahut Ibu sambil menunjukan bahan makanan yang hendak dimasak pagi ini.
"Saya suka, saya suka semua masakan Ibu!" tandas Kak Tiwi, tersenyum ke arah Ibu.
__ADS_1
"Tumben, pagi ini anak-anak Ibu pada memuji Ibu. Sebenarnya ada apa ini? jangan-jangan ini akal-akalan kalian agar Ibu tetap mau memasak. Hmm!" tukas Ibu, menghempaskan napas panjang.
"Jangan begitu Ibu, masakan Ibu memang sangat enak! suer deh! saya nggak bohong, dan buat apa juga saya bohong sama Ibu." tangkas Rasti, menampik ucapan Ibu.
"Serius?" tanya Ibu sambil mengerutkan keningnya.
"Serius lah, Bu!" tandas Kak Tiwi, menatap wajah Ibu.
"Ada apa ini? pagi-pagi sudah ada cerita." sambar Bapak ingin tahu apa yang sedang dibicarakan sama Ibu dan Kak Tiwi.
"Hiks hiks Bapak, bikin kaget saja deh! ini Pak! Ibu tidak percaya jika anak-anak Ibu mengatakan bahwa masakan Ibu sangat enak." terang Kak Tiwi mencoba menjelaskan kepada Bapak.
"Lantas, bagaimana menurut Bapak mengenai masakan Ibu?" tanya Rasti melirik ke arah Bapak.
"Oh tentu, masakan Ibu paling juara! sangat enak dan lezat. Coba saja kalau Ibu buka warung makan, pasti laris manis. Banyak pelanggan yang datang memborong semua masakan Ibu." seru Bapak, ikut memuji masakan Ibu.
"Ah! Bapak, bisa saja deh! Ibu jadi malu." sahut Ibu tersenyum simpul.
Kak Tiwi, Ibu, dan Bapak tertawa lepas dipagi hari.
"Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh" jawab Kak Tiwi, Ibu, dan Bapak. Kompak!.
Rasti mencium semua tangan kanan anggota keluarga yang sedang tertawa di dapur.
"Wah, wah, wah! kumpul semua, nih!" celetuk Rasti yang masih mengenakan mukenah.
"Sudah pada sholat, belum?" tanya Rasti menggerutu.
"Belum!" jawab Kak Tiwi cengar-cengir.
"Kebiasaan nih, kalau bangun pagi-pagi nggak langsung mandi dan sholat." gurutu Rasti sembari berjalan masuk menuju kamarnya.
"Sudah, sana kamu mandi! itu Bapak sudah siap sholat subuh, sana makmum sama Bapak." perintah Ibu kepada Kak Tiwi.
"Siap, Bu!" sahut Kak Tiwi segera bersiap-siap sholat berjamaah bersama Bapak.
__ADS_1
"Pak! tunggu sebentar, Tiwi mau sholat berjamaah dengan Bapak." terang Ibu memberitahu kepada Bapak, bahwa Tiwi mau menjadi makmumnya Bapak.
"Iya, Bu. Bapak tungguin!" sahut Bapak sambil menggelar sajadahnya yang bergambar masjid dan pohon kelapa.
***
Rasti yang sudah berada di kamarnya, melepas mukenah dengan suasana hati yang tentram. Dia mengemas kembali mukenahnya dan melipas sajadahnya.
Rasti duduk di depan meja rias, tangan kanannya merain hp miliknya yang sedang diisi penambah daya.
Rasti menatap dalam-dalam wajah dirinya dan menggengam erat hp miliknya, dia segera menundukan kepalanya dan menatap layar hp nya. Ternyata ada pesan WA masuk jam tiga dini hari, pesan masuk dari Pak Ahmad.
"Bangun, Bu! sholat tahajud, yuk?" ucap Pak Ahmad, mengajak Rasti untuk sholat tahajud.
Namun Rasti baru sempat membacanya, dan dia pun tidak menunaikan sholat sunah tahajud semalam, karena dia masih terjaga sampai jam dua malam. Rasti tertidur karena lupa, saat dia sedang membuat puisi terbarunya yang berjudul "Membuka lembaran baru".
Puisi yang sudah siap Rasti kirimkan ke Pak Ahmad, agar Pak Ahmad tahu bahwa Rasti tidak selemah yang Pak Ahmad kira.
Rasti akan bangkit dari keterpurukan, semangat membuka lembaran baru. Lembaran baru bersama seseorang yang mau mencintai dirinya dengan tulus dan sepenuh hati, tanpa ada kata berpisah nantinya.
Pesan WA telah terkirim, Pak Ahmad yang hendak pergi ke sawah menyempatkan membaca pesan masuk dari Rasti.
Pak Ahmad tersenyum dan segera membalasnya, hanya dengan emoticon smille dan meletakan kembali hp nya karena suara panggilan dari Mamanya sudah terdengar di balik pintu kamarnya.
"Ahmad, ayo cepat kita ke sawah! matahari sudah mulai terbit." ucap Mama yang sudah tidak sabar menunggu Ahmad keluar dari kamarnya.
"Iya, Ma! sebentar lagi" teriak Pak Ahmad sambil cengar-cengir mengingat Rasti yang begitu angkuh namun ternyata dia cengeng.
Pak Ahmad berjalan keluar menuju ruang tamu untuk mengeluarkan sepeda motornya yang hendak dia kendarai menuju sawah bersama Mamanya.
"Ini, sandal kamu" ucap Mama sambil meletakan sepasang sandal di depan rumah.
"Terimakasih, Ma!" sahut Pak Ahmad segera memakai sandalnya dan bergegas memboncengkan Mama pergi ke sawah, untuk menyirami tanaman bawang miliknya.
"Pih, hati-hati!" teriak Abid dari balik jendela. Abid, keponakan yang lucu dan selalu menemani hari-hari Pak Ahmad.
__ADS_1
"Iya!" balas Pak Ahmad tak kalah teriak.