
"Ini! pakailah kerudungnya!" ucap Rasti dengan ramah, Rasti melepas kerudung yang baru saja dia kenakan dan memberikannya kepada Kak Tiwi.
"Tumben kamu baik, Dik!" sahut Kak Tiwi memuji Rasti sambil mencubit kecil ujung hidungnya yang pesek.
"Bukankah saya baik dari dulu? Kakak saja yang ngga pernah sadar, punya Adik sebaik Rasti hmm." tandas Rasti mendengus kesal sama Kak Tiwi.
"Iya, iya! Kak Tiwi sadar kok, terimakasih Adik yang baik hati dan suka menolong" ucap Kak Tiwi merayu Rasti sambil tersenyum.
Rasti tak menjawab apapun, dan dia langsung mengganti kerudungnya menjadi warna hitam.Mengingat waktunya sudah siang, Rasti meninggalkan Kak Tiwi yang masih berdiri di depan kamar Rasti.
"Yah! dia pergi deh!" gerutu Kak Tiwi sambil memakai kerudung hijau muda yang baru saja dia pinjam ke Rasti.
"Terimakasih, Dik! atas keikhlasan mu hiks hiks" teriak Kak Tiwi sambil tertawa kecil. Dia berjalan melenggok menuju kamarnya.
Rasti telah selesai mengganti kerudungnya, dia keluar dari kamarnya dan mencari Ibu serta Bapaknya. Dia menjumpai Ibu sedang menyiapkan sarapan untuk keluarga, sedangkan Bapak masih serius menonton berita pagi.
"Rasti pamit berangkat dulu, Bu! Pa!" ucap Rasti sembari mencium tangan Ibu dan Bapak.
"Kamu ngga sarapan dulu, Nak?" tanya Ibu yang terlihat sedang membawa lauk menuju meja makan. Nampaknya Ibu hari ini masak dengan berbagai menu makanan yang lengkap.
Di situ terdapat tumpukan piring dan sendok yang tertata rapi di atas meja makan, nasi pun sudah tersaji sejak habis subuh.
"Saya sudah terlambat, Bu! sarapannya di sekolah saja, nanti!" sahut Rasti segera keluar dari rumah dan tacap gas sepeda motornya sedikit lebih kencang dari pada biasanya.
'Ini gara-gara Kak Tiwi bikin ulah pagi-pagi, saya jadi terlambat ke sekolah!" Rasti terus menggerutu dan merasa sangat kesal sama Kak Tiwi, dia mempercepat laju sepeda motornya.
Seakkkkkkkkkk
Suara roda depan ketika Rasti mendadak menarik rem sepeda motornya, ada seekor kucing yang hendak menyebrang. Untung nya, Rasti baik-baik saja! kucing pun tidak tertabrak olehnya.
"Astaghfirullahal adzim!!" ucap Rasti menghempaskan napas panjang.
"Lindungi saya di mana pun saya berada ya Allah" gumun Rasti berdoa dalam hati.
__ADS_1
Rasti berhenti sejenak di pinggir jalan raya, untuk menenangkan jantungnya yang berdetak kencang.
"Hati-hati, Rasti! konsentrasi, bismillahirrohmanirrohim" seru Rasti berdoa sebelum melanjutkan perjalanannya ke sekolah.
Sepuluh menit kemudian, Rasti telah sampai di.depan gerbang pintu masuk sekolah yang terlihat sudah tertutup rapat karena pembelajaran hari ini sudah dimulai.
Teng, teng, teng
Rasti memukul keras gerbangnya dengan menggunakan alat pemukul yang sudah disediakan di situ.
"Pak! Pak Edi! tolong buka gerbangnya, saya mau masuk" ucap Rasti dengan suara lantang dan terdengar hingga ke pos satpam.
Pak Edi keluar dari pos satpam dengan langkah badannya yang tegap dan berwibawa sebagai satpam penjaga sekolah.
"Iya, Bu! tunggu sebentar" teriak Pak Edi berlari kecil menuju gerbang.
"Tumben, Bu Rasti datang terlambat!" sambung Pak Edi, yang merasa heran dengan kebiasaan barunya.
"Iya, Pak! tadi ada insiden kecil yang mampu menguras tenaga dan membuat saya terlambat ke sekolah, mana hari ini akan diadakan ulangan harian." terang Rasti sambil memarkirkan sepeda motornya, di tempat parkir guru depan kantor guru.
"Oh, begitu! baik lah, saya segera masuk kelas sembilan." ucap Rasti sembari melihat jam yang berada dalam hp nya.
"Ternyata sudah memasuki jam pembelajaran kedua." cetus Rasti segera melangkahkan kakinya cepat.
"Bu guru datangggg!" teriak semua siswa kelas sembilan, antusias menyambut kedatangan Rasti.
"Selamat pagi, anak-anak!" sapa Rasti, memberi salam kepada siswa kelas sembilan.
"Selamat pagi juga, Bu!" jawab kelas sembilan, kompak!
"Maafkan saya, karena terlambat masuk kelas. Tadi ada sedikit kendala di rumah, namun sudah teratasi" kata Rasti sambil memandang satu persatu semua siswanya.
"Apakah kalian sudah siap untuk ulangan hari ini?" tanya Rasti mengecek kesiapan siswanya untuk mengikuti ulangan harian mata pelajaran Bahasa Indonesia.
__ADS_1
"Sudah siap, Bu!!!" jawab siswa, kompak.
"Baiklah kalau kalian sudah siap ulangan harian, sekarang kalian siapkan lembaran kertas dan bolpoin. Selain itu, tolong semua buku disimpan dalam tas masing-masing. " ucap Rasti mengarahkan aturan untuk mengikuti ulangan harian." sambung Rasti dengan suara yang lemah lembut.
"Baik, Bu!" sahut siswa, mengerti apa yang dimaksud oleh Rasti.
Semua siswa mengikuti aturan Rasti, mereka nampak sangat siap untuk mengikuti ulangan harian. Sepertinya mereka sudah belajar dengan giat, jadi tentu saja mereka sangat optimis untuk bisa memperoleh nilai diatas KKM.
"Ulangan harian segera dimulai, ingat pesan Ibu apa?" tanya Rasti kepada siswa.
"Tidak boleh mencontek pekerjaan temannya!" sahut siswa dengan suara nyaring, mereka sangat kompak.
"Ibu kasih waktu untuk mengerjakan selama tiga puluh menit, ketika jarum panjang tepat berada di angka enam maka kalian harus segera mengumpulkan hasil kerja kalian. Kalian paham? bisa dimengerti?" tanya Rasti menegaskan kembali aturan yang harus ditaati.
"Paham, Bu!" ucap Siswa dengan nada suara mendayu.
Selama dua puluh lima menit ulangan harian sudah berlangsung, Rasti memberikan peringatan waktu kepada siswa bahwa waktu mengerjakan sisa lima menit lagi. Semua siswa harus sudah selesai mengerjakan dan siap-siap mengumpulkan hasil ulangan mereka di meja guru secara urut absen kelas.
"Waktunya sisa lima menit lagi" kata Rasti mengingatkan kepada siswa agar cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya.
"Iya, Bu!" sahut siswa mengangguk.
"Erwin!!!" teriak Rasti memanggil siswanya yang sedari tadi menengok ke belakang mencontek hasil kerja Esa.
"Eh, i iya, Bu! ma maaf, Bu!" sahut Erwin gugup. Sepertinya dia ketakutan melihat tatapan tajam Rasti kepadanya yang tidak berkedip selama beberapa detik, Erwin menundukan kepalanya dan kembali mengerjakan soal ulangan harian.
"Sudah Ibu peringatkan, tidak boleh mencontek! kerjakan sendiri sebisanya, percaya diri dan yakin lah jika kamu akan mendapatkan nilai yang memuaskan hari ini dengan hasil kerja kamu sendiri. Bukan menyalin hasil kerja temannya!" tegur Rasti dengan nada rendah, sehingga Erwin tidak merasa tertekan lagi.
"Iya, Bu! saya tidak akan mengulanginya lagi" tukas Erwin sembari menundukan kepalanya dan menatap lembar jawabnya.
Erwin merasa bersalah karena tidak percaya diri, dan akhirnya dia kena teguran oleh Rasti saat ketahuan mencontek hasil kerja Esa.
"Okelah kalau begitu, waktu mengerjakan sudah selesai. Saatnya kalian mengumpulkan hasil kerja kalian, kumpulan di atas meja Ibu sekarang." tandas Rasti mempersilahkan kepada siswa agar segera mengumpulkan lembar jawab ulangan harian.
__ADS_1
Erwin beranjak dari tempat duduknya dan berjalan merunduk ke depan meja Rasti, dia tidak berani menatap wajah Ibu gurunya karena merasa bersalah.