BUAH HATI KITA

BUAH HATI KITA
Makan Bakso


__ADS_3

Kegiatan belajar mengajar hari ini telah selesai, waktu sudah menunjukan pukul dua belas lebih tiga puluh lima menit. Rasti, dan semua Guru SMP P diperbolehkan untuk pulang. Rasti segera ke kantor untuk mengambil tas miliknya, Rasti berpapasan dengan Bu Wahyu. Bu Wahyu mempunyai jabatan sebagai guru Mata pelajaran Matematika.


“Hai, Bu Wahyu, kita pulang yu?” Tapi sebelum pulang, saya mau isi bensin motor saya dulu ya?” Sambil menyelempangkan tas miliknya, Rasti ngajak Bu Wahyu agar mau pulang bareng. Karena jarak rumah Bu Wahyu tidak terlalu jauh dari sekolah, sebelum pulang Bu Wahyu ngajak Rasti makan siang terlebih dahulu. Mereka mau makan siang yang menu makanannya bakso beranak.


“Ayo, kita pulang, tapi sebelum pulang. Saya mau ngajak makan di rumah makan biasa, yang sering kita tempati.” Yaitu rumah makan “Bakso Beranak” yang tempatnya sekitar lima belas menit jarak tempuhnya, jika dari SMP” Ujar Bu Wahyu semangat.


Sembari menunggu Bu Wahyu membereskan meja dan memasukan barang bawaan ke dalam tas punggungnya, Rasti pergi ke Pom mini depan SMP P.


Setelah selesai Rasti membeli bensin untuk sepeda motornya, tiba-tiba Bu Wahyu datang menghampirinya. Lalu mereka berdua menuju rumah makan yang telah mereka rencanakan beberapa menit yang lalu.


Sesampainya di rumah makan “Bakso Beranak”, mereka berdua pesan makanan menu kesukaan mereka yaitu bakso urat yang sangat lezat dan harganya pun ekonomis pas di kantong.


“Bu, Saya mau cerita, nih!” Tentang tadi saat ada sosialisasi di sekolah.” Sambil menunggu pesanan makanan datang, Rasti yang duduk berhadapan dengan Bu Wahyu menceritakan bahwa dia berkenalan dengan salah satu Guru SMK A bernama Pak Ahmad. Rasti juga memberanikan diri untuk minta nomer ponsel Pak Ahmad, dan menyimpan nomernya di dalam polsel milik Rasti.


“Waduh!” jawab Bu Wahyu, kaget.


“Hiks hiks”. Spontan Rasti menggunjukan gigi di depan Bu Wahyu. Bu Wahyu pun hanya membalas dengan senyuman kecut.


Sudah menunggu sekitar dua puluh lima menit, akhirnya pelayan datang membawa makanan dan minuman yang sudah mereka pesan, kurang lebih hampir satu jam. Mereka berada di sana, sampai akhirnya waktu sudah menunjukan pukul empat belas siang. Makan siangpun telah selesai.


Kring kring kring. Bunyi ponsel Rasti berdering keras di atas meja makan, membuat mereka kaget. Ternyata panggilan masuk dari Bapaknya Rasti, yang berniat mau ngajak Rasti membeli leptop di toko Elektro. Lokasi toko tersebut dekat dengan Kampus dimana dulu Rasti mengenyam bangku kuliah.


Karena sebelum berangkat ke sekolah, Rasti menyampaikan kepada Ibu kalau dia ingin belajar mengoperasikan leptop, sedangkan Rasti belum memiliki leptop. Serta bermaksud agar pada saat ada pelatihan, Rasti tidak perlu pinjam sama Guru lain.


Rasti berharap dapat hadiah dari Orangtuanya, disaat dia sudah menjadi guru. Jadi kemungkinan kedua orangtuanya memikirkan akan hal itu, dan orangtua Rasti berniat ingin membelikan leptop sebagai hadiah Ulang tahunnya yang ke dua puluh empat tahun. Yaitu bertepatan pada bulan Februari.


“Bu, saya pamit. Mau pulang dulu, barusan Bapak saya telpon agar saya segera pulang.” Rasti berjalan menuju kasir untuk membayar makanan dan minuman yang mereka nikmati. Rasti juga menyapa orang-orang yang ada di sekelilingnya, orang-orang yang belum Rasti kenal. Namun dia mau menyapa mereka yang sedang menikmati makan siang.


“Oh, iya. Kebetulan saya juga mau ada acara lagi, rencana pulang dari sini mau mampir ke rumah Bu Lastri untuk mengambil berkas sertifikasi yang belum difotokopi. Lagian ini Bu Lastri juga sudah menunggu saya di rumahnya.” Dengan suara gugup serta mengendong tas kesayangannya berwarna Pink, Bu Wahyu menyahuti ucapan Rasti yang sedang berada di kasir.


Selesai sudah, acara makan siang mereka. Mereka segera beranjak pergi dari rumah makan “Bakso beranak”.


“Hati-hati di jalan, ya Bu Wahyu?” Ucap Rasti, sambil melambaikan tangan ke Bu Wahyu.


“Iya. Sama-sama ya?” Jawab Bu Wahyu sembari menaiki motornya.

__ADS_1


*


“Assalamualaikum"


Sesampainya di rumah Rasti, dia memarkirkan motornya langsung masuk ke dalam ruang tamu. Dia mencium punggung tangan kanan kedua orang tuanya, dan berjalan masuk menuju kamar mandi. Lalu dia segera ambil air wudu karena waktu sholat duhur hampir habis.


Mereka terlalu asik bercerita panjang lebar sambil melepas penak seharian mereka mengajar, sampai tidak ingat waktu. Untung saja, ada telepon masuk dari Bapaknya Rasti. Jadi obrolan mereka segera terhenti dan segera pulang.


“Walaikumsalam" Terdengar suara Ibu membalas salam di ruang tamu. Ibu segera menghampiri Rasti, dan memberitahukan kalau Bapak sudah menunggu dia sejak Bapak pulang dari tempat ngajarnya.


“Dari mana saja kamu, nak?, jam berapa sekarang? kami cemas. Sejak tadi Ibu dan Bapak nungguin kamu pulang”.


Ibu melontarkan pertanyaan dengan raut wajah khawatir, karena tidak seperti biasanya Rasti pulang terlalu siang tanpa memberitahukan terlebih dahulu kepada Ibu atau Bapak. Bahwa dia akan pulang terlambat, apalagi sampai hampir melewati batas waktu sholat duhur.


“Maafkan saya, kalau saya membuat Ibu dan Bapak khawatir, Bu!” Tadi pas pulang dari sekolah, saya bersama Bu Wahyu makan siang di Rumah makan bakso beranak sangkin asiknya kami cerita-cerita, kami jadi lupa waktu Bu.”


“Saya tidak akan mengulanginya lagi, Bu.” Rasti mendekat ke arah Ibu yang sedang berjalan menuju kamar mandi, Rasti segera mencium tangan Ibu.


“Iyah, nak! Lain kali jangan diulangi.” Jawab Ibu sambil mempersiapkan baju yang akan dipakai Bapak saat mau pergi ke Tegal.


Rasti menunaikan sholat duhur di kamar dia, setelah selesai sholat. Rasti bersiap-siap dan berdandan karena mau diajak Bapaknya pergi ke toko leptop.


Dengan nada melengking, Rasti memanggil Bapaknya yang sedang menunggunya di ruang belakang rumah sambil membaca koran "Radar Tegal" yang setiap hari terbit membawakan kabar berita terbaru, serta menikmati secangkir teh manis hangat buatan Ibunya Rasti.


“Pa. Bapak. Saya sudah siap nih!" Dengan wajah riang Rasti menghampiri Bapaknya.


“Iya, Nak! Ayo kita pergi ke Tegal berdua, akan Bapak belikan leptop dengan merek yang kamu suka.” Dengan merangkul Rasti, Bapak berpamitan sama Ibu.


Mereka berjalan keluar, dan segera meluncur ke toko leptop dengan jarak tempuh kurang lebih sepuluh kilo perjam dengan mengendarai sepeda motor Bapak. Bapaknya Rasti tipe orang yang penyayang sama anak-anaknya, sama seperti Ibunya yang selalu ada buat anak-anaknya.


Sambil menyanyikan lagu Tomi J pisa, dan dengan santai Bapaknya Rasti mengendarai motor kesayangannya. Motor yang setiap hari menemani kemanapun Bapaknya pergi tugas, dan seringnya Bapaknya Rasti juga mengajak Ibunya Rasti jalan-jalan. Walau hanya sekedar mencari angin keliling desa.


Dalam perjalanan ke Tegal, Rasti teringat kegiatan tadi pagi di sekolah. Dia juga teringat sama Pak Ahmad yang orangnya sangat cuek, Rasti memeriksa kembali ponsel miliknya yang berada di dalam tas kecil.


Rasti membuka ponselnya dan mengecek nomer ponsel Pak Ahmad, memastikan kalau nomer Pak Ahmad sudah tersimpan dalam kontak ponsel miliknya.

__ADS_1


“Alhamdulillah. Ternyata sudah saya simpan,” Terucap lirih Rasti mengatakan bahwa ponsel Pak Ahmad sudah tersimpan dengan baik. Kembali Rasti menyimpan ponselnya di dalam tas kecil.


“Ada apa, Nak?” Tanya Bapak pada Rasti.


“Semuanya baik-baik saja, Pa!” Jawab Rasti ceria.


Bapak mengendarai motor dengan sangat hati-hati. Sebentar lagi sampai di toko yang menjual leptop.


Tepat pukul tiga sore, mereka sampai di tempat penjualan leptop. Mereka bertanya dan kepada pelayan, dan meminta agar pelayan toko menunjukan leptop dengan berbagai merek. Bertujuan agar Rasti bisa memilih leptop sesuai dengan pilihan dia.


Setelah beberapa menit berbincang-bincang dengan pelayan toko, akhirnya Rasti menentukan pilihannya. Yaitu leptop canggih, dengan Merek “Jeruk Kino”.


Pelayan toko segera mengecek leptop yang sudah menjadi pilihan Rasti, salah satunya pengecekan tampilan layar monitor, mouse, dan carger untuk penambah daya baterai pada leptop tersebut.


Pengecekan leptop telah selesai, pelayan toko memberikan nota pembelian, agar leptop segera dibayarkan di kasir depan toko. Bapaknya Rasti segera membuka dompet dan mengambil sejumlah uang sesuai dengan jumlah uang yang tertera dalam nota pembelian, yaitu sekitar Empat juta lima ratus tujuh puluh lima ribu rupiah.


Kebetulan Bapaknya Rasti membayar leptop dengan uang pas. Jadi, traksaksi jual beli leptop dengan cepat terselesaikan.


Transaksi pembelian leptop selesai, pelayan mengemas kembali leptop dan perangkat lainnya ke dalam dus. Kemudian, pelayan dengan ramah mempersilakan agar leptop bisa dibawa pulang.


Waktu sudah menunjukan pukul lima sore, mereka segera pulang dan memastikan sebelum adzan sholat maghrib berkumandang. Berharap mereka sudah sampai di rumah dengan selamat, tanpa halangan apapun di jalan.


Kebetulan hari itu cuaca sangat cerah, jadi tidak khawatir akan turun hujan dalam perjalanan pulang.


*


Beberapa menit setelah mereka sampai di rumah, adzan sholat maghrib telah dikumandangkan.


“Alhamdulilah ya Allah” akhirnya terlaksana sudah, Bapak membelikan letop buat kamu, nak!” gumun Bapak dalam hati, sambil mematikan mesin motornya.


“Ayo, Pa! masuk, kita sholat maghrib berjamaah.” Ajak Rasti kepada Bapaknya.


“Sebentar, Bapak parkirkan motor ke dalam ruang tamu. Kamu masuk saja dulu, samperin Ibu.” Bapak menjawab ajakan Rasti sambil menuntun sepeda motornya.


“Baiklah!” Sahut Rasti sambil tersenyum, dan masuk rumah untuk menghampiri Ibu yang ternyata sudah bersiap-siap mau menjalankan sholat maghrib.

__ADS_1


Dengan perasaan yang bahagia, Rasti segera menghampiri Ibu. Dia mengucapkan banyak terimakasih kepada Ibu dan Bapak yang sudah memberikan hadiah ulang tahunnya yang ke dua puluh empat tahun. Rasti berharap semua yang dia cita-citakan, dikabulkan sama Allah dan bisa tercapai. Yaitu dipertemukan dengan tambatan hatinya, yang masih menjadi rahasia Allah.


__ADS_2