BUAH HATI KITA

BUAH HATI KITA
Puisi Cinta


__ADS_3

Pada saat Rasti sedang menikmati segelas teh hangat di ruang tengah sendirian, Ibu Pun keluar dari kamarnya. Langkah kaki Ibu hampir tidak terdengar sama Rasti, Ibu menyapa Rasti, sambil menepuk pundaknya dari belakang. Dia pun merasa kaget dan terjungkit dari tempat duduknya.


Untung saja Rasti tidak tersedak, karena kebetulan dia sedang meneguk air teh hangat buatan Ibu.


"Rasti, belum tidur kamu, Nak?" tanya Ibu menepuk Pundak Rasti.


"Wah, Ibu! mengagetkan saya deh!" ucap Rasti segera membalikan badan dan menatap Ibu.


"He, he, maaf! lagian Ibu lihat dari tadi kamu melamun. Apa yang sedang kau pikirkan, Rasti?" tanya Ibu sembari menatap tajam kedua bola mata Rasti, yang ternyata masih terlihat sembab.


"Rasti!" Sapa Ibu sedikit keras.


"Iya, Bu!" sahut Rasti memalingkan pandangannya ke arah tv.


"Kamu habis nangis yah? kok, mata kamu sembab?" tanya Ibu penasaran.


"Nggak, Bu! saya nggak nangis, cuma tadi kelilipan." terang Rasti, mengeles.


Rasti tidak bisa berbohong sama Ibu, walaupun dia mencoba menghindari tatapan mata Ibu. Ibu adalah wanita yang mengandung,melahirkan, dan membesarkan dia. Maka dari itu, Ibu paham betul dengan sikap Rasti.


"Kamu jangan berbohong sama Ibu, Ibu ini orang tuanya kamu, Rasti!" seru Ibu menegaskan kepada Rasti.


"Ibu tidak suka dibohongi, apalagi anak Ibu sendiri yang berbohong sama Ibu!" tandas Ibu sedikit kecewa.


"Maafkan saya, Bu! tadi saya memang menangis sebentar." terang Rasti sambil mengusap matanya pelan.


"Setiap masalah, pasti ada jalan keluarnya. Selesaikan masalah dengan bijak ya, Nak! kamu yang sabar!" ucap Ibu menenangkan hati Rasti.


"Iya, terimakasih banyak, Bu!" kata Rasti sambil memeluk erat tubuh Ibu.


"Iya, Nak!" Ibu mengusap pelan rambut Rasti dan mencium keningnya.


"Lebih baik sekarang kamu istirahat, biar besok fresh" saran Ibu dengan suara lembutnya.


"Baik, Bu!" sahut Rasti mengangguk pelan.


Rasti berjalan masuk menuju kamarnya, dengan langkah gontai Rasti meninggalkan Ibu yang masih berdiri depan tv di ruang tengah.

__ADS_1


"Rasti, Rasti!" ucap Ibu menggelangkan kepalanya pelan.


Rasti sedang merasa sedih hatinya, jadi kali ini dia tidak bercanda dengan siapapun di rumah. Seringkali dia mencoba untuk move on dari mantan pacarnya, dengan mencari penggantinya.


Namun belum juga Rasti berhasil melupakan mantan pacarnya, apalagi baru tiga bulan mereka putus hubungan.


Harapan Rasti saat ini, bisa mendapatkan pacar yang setia dan tidak meninggalkannya lagi.


Kring, kring, kring.


Mendengar suara panggilan telpon di hpnya, tangan Rasti bergerak meraih hpnya yang berada di meja rias.


"Pak Ahmad?" tanya Rasti sambil melotot.


"Jam berapa sekarang?" ucap Rasti, matanya tertuju ke arah jam dinding di kamarnya.


Ternyata waktu sudah larut malam, tetapi Pak Ahmad berani menelpon Rasti malam-malam.


"Angkat nggak, yah?" kata Rasti, bingung.


"Halo, Pak!" sapa Rasti dengan suara pelan.


"Iya, Bu! belum tidur yah?" tanya Pak Ahmad kepada Rasti.


"Tadi sempat tertidur, dan sekarang terbangun mendengar suara panggilan telpon dari Pak Ahmad." terang Rasti dengan suara ngambang.


"Jadi saya ganggu tidur Bu Rasti, yah? maaf yah, Bu!" tandas Pak Ahmad merasa dirinya sudah mengganggu istirahatnya Rasti.


"Nggak apa-apa, Pak! santai saja, lagian sekarang rasa kantuk saya sudah hilang ketika Pak Ahmad telpon saya." kata Rasti, ucapannya membuat Pak Ahmad terkejut.


"Masa sih, Bu? membuat saya GR saja, deh!" sahut Pa Ahmad tertawa lirih.


"Oya, Bu! ngomong-ngomong puisi yang saya kirim, bagus nggak?" tanya Pak Ahmad malu-malu.


"Puisi? puisi yang mana, yah?" sahut Rasti penasaran.


"Puisi yang saya kirim ke Bu Rasti, beberapa menit sebelum saya telpon." terang Pak Ahmad memberitahu.

__ADS_1


"Maksud Pak Ahmad, Pak Ahmad membuat puisi dan mengirimkannya kepada saya?" sambung Rasti memastikan.


"Iya, betul banget Bu! puisi ciptaan saya, buat Bu Rasti. Puisi khusus saya persembahkan buat perempuan cantik, seperti Bu Rasti." kata Pak Ahmad, merayu.


"Ternyata Pak Ahmad pandai juga ya, membuat puisi." ucap Rasti memuji Pak Ahmad.


"Oh, tidak juga Bu! baru kali ini saya mencoba merangkai kata untuk seorang perempuan yaitu buat Bu Rasti. Suer, deh!" tandas Pak Ahmad meyakinkan Bu Rasti, bahwa dirinya bukan seorang pria yang pandai merayu perempuan menggunakan puisi.


"Masa sih, Pak? seraya nggak percaya saya mendengarnya. Saya jadi terharu, tapi jujur saja kalau saya belum membacanya." ucap Rasti berbunga-bunga.0p


"Bacalah dulu, Bu! puisi ciptaan saya, walaupun dengan keterbatasan kata." pinta Pak Ahmad, agar Rasti menyempatkan diri untuk membaca puisi karya dari Pak Ahmad.


"Baiklah kalau begitu, saya matikan dulu telponnya. Akan saya sempatkan baca, bila perlu sekalian saya balas puisinya hiks hiks" tukas Rasti, menggoda Pak Ahmad.


"Okey, kalau begitu saya matikan teleponnya." Kata Pak Ahmad meminta ijin kepada Rasti.


"Selamat malam wanita pujaan hati" celetuk Pak Ahmad meluapkan isi hati.


"Apah?" tanya Rasti terkejut.


"Halo, halo, halo, Pak!" ucap Rasti berkali-kali.


Tut.. tut.. tut... Sambungan telepon terputus.


Pak Ahmad tersenyum lebar setelah memutuskan sambungan telepon dengan Rasti, sepertinya Rasti penasaran dengan puisi yang diciptakan oleh Pak Ahmad untuk dirinya. Jadi Rasti cepat-cepat membuka pesan Whatsapp dan membaca puisi dari Ahmad, ternyata puisi tersebut membahas tentang rasa cinta atau luapan hati.


Rasti pun terkejut melihat isi puisi yang diciptakan oleh Pak Ahmad untuk dirinya, namun dia merasa bahwa itu hanyalah sebuah puisi. Jadi Rasti tidak perlu bawa perasaan atau ke-gr-an, barangkali itu hanya rangkaian Kata biasa.


Kemungkinan Pak Ahmad hanya menuangkan hobinya saja membuat puisi, Rasti pun mencoba membalas pesan whatsapp dari Pak Ahmad, dengan menggunakan puisi juga. Namun di situ tersirat pesan bahwa Rasti sedang mengalami patah hati, berbeda dengan Pak Ahmad yang isi puisinya tentang seseorang yang sedang jatuh cinta.


"Perasaan macam apa ini? Ya Robbi!" ucap Rasti mengeram.


"Saya nggak mau terluka untuk kesekian kalianya, Ya Allah! huft!" kata Rasti mendengus resah.


Rasti mengedarkan pandangannya, ia mencari-cari kertas dan pulpen untuk menuliskan sebuah puisi yang bertema Patah Hati. Dirinya masih menyimpan luka karena perbuatan mantan pacarnya yang telah menyakitinya, dan meninggalkan Rasti. Lalu mantan pacarnya menikah dengan teman dekat Rasti, saat itu Rasti sangat terpukul ketika mendengar berita pernikahan mantan pacarnya dengan teman dekatnya sendiri.


Namun kini setelah Rasti mengenal Pak Ahmad, sedikit demi sedikit dia berusaha untuk mengikhlaskan mantan pacarnya menikah dengan teman dekatnya sendiri. Sepertinya Rasti merasa nyaman dekat dengan Pak Ahmad yang selalu memberikan perhatian kepada dirinya, baik lewat telepon, pesan whatsApp ataupun saat mereka bertemu.

__ADS_1


__ADS_2