BUAH HATI KITA

BUAH HATI KITA
Ulangan Harian


__ADS_3

"Erwin!" sapa Rasti dengan mengelus rambut Erwin yang tertata rapi.


"Iya, Bu!" jawab Erwin sembari mendongakan kepalanya.


"Sebenarnya kamu anak yang rajin dan cerdas, hanya saja kamu kurang percaya diri." ucap Rasti sambil memuji Erwin yang masih ketakutan sama Rasti.


"Iya, Win! aslinya kamu anak yang pintar Win! hanya saja kamu kurang percaya diri" celetuk Esa yang duduk di belakang Erwin.


"Kamu juga Esa! jangan sok pintar di kelas saat ulangan harian sedang berlangsung, biarkan Erwin mengerjakan sendiri. Jangan selalu mengandalkan kamu," ucap Rasti menegur Esa yang memperlihatkan hasil kerjanya kepada Erwin. Akibatnya membuat Erwin malas untuk berfikir.


"Baik, Bu! saya tidak akan mengulanginya lagi" sahut Esa menundukan kepalanya, dia berjanji tidak akan membantu siapapun yang membutuhkan jawaban soal-soal ulangan hatian.


"Sip! sekarang kamu boleh duduk kembali" cetus Rasti mempersilahkan Esa duduk ke tempat semula.


"Terimakasih, Bu" jawab Esa dengan suara mengambang.


Esa kembali ke tempat duduknya, berjalan gontai setelah mendapatkan teguran dari Rasti dan segera mendaratkan bokongnya di kursi sekolah berwarna coklat tua.


"Hmm, apakah semuanya sudah menyerahkan hasil ulangan kalian?" tanya Rasti yang masih berdiri di depan siswa.


"Sudah, Bu!" jawab siswa sebagian.


"Lho kok, yang menjawab hanya separo? yang lain kenapa diam saja!" tanya Rasti sembari menutkan kedua alisnya.


"Saya belum selesai, Bu!" ucap Endah dengan terbata-bata.


"Lalu siapa saja yang belum selesai?" sambung Rasti, bertanya kepada siswa.


"Saya, Bu! soalnya agak susah, Bu!" celetuk Ega sambil menggaruk-garuk kepalanya yang terasa gatal karena pusing mengerjakan soal ulangan harian.


"Baiklah, bagi yang belum selesai mengerjakan. Ibu kasih waktu tambahan lima menit untuk mengerjakan soal lanjutan." seru Rasti memberikan tambahan waktu kepada siswa.


"Horeeee, asik!" sorak siswa bergembira mendengarkan ucapan Rasti yang begitu baik terhadap siswanya.


"Kerjakan sendiri!" tandas Rasti mengingatkan peraturan ulangan harian.


Tet, tet, tet


Suara bel istirahat telah berbunyi, semua siswa bersorak senang sambil berlarian di kelas. Semua siswa terlihat sudah mengumpulkan hasil kerjanya hari ini.

__ADS_1


"Okey, kalian boleh istirahat! terimakasih atas tatap muka kali ini, Ibu berharap kalian mendapatkan nilai yang memuaskan dan tuntas KKM." kata Rasti sambil merapikan tumpukan lembar jawab ulangan harian.


"Ayo! istirahat dulu" ajak Rasti kepada siswa untuk keluar dari kelas.


"Baik, Bu! sebentar lagi saya juga mau beli sosis dan nuget goreng di kantin." Sahut Endah sambil menghitung jumlah uang yang dia pegang.


"Katanya Endah mau nlaktir kita, Bu!" celetuk Alya, gadis cantik berparas jelita jadi idola di kelasnya.


"Wah, benarkah?" sahut Rasti terkejut.


Selesai sudah, Rasti memeriksa hasil ulangan harian siswa kelas sembilan. Namun dia belum memberitahunkan kepada siswa mengenai pencapaian nilai yang mereka peroleh, berhubung waktu pertemuan pembelajaran mata pelajaran Bahasa Indonesia telah selesai dan akan dilanjut pelajaran Bahasa Inggris usai istirahat.


"Haloo, Bu Rasti yang cantik" sapa Bu Wahyu yang hendak menuju ke ruang koprasi siswa.


"Haloo juga Bu Wahyu yang baik hati, ehm ehm" sahut Rasti sambil berdeham.


Mereka saling menyapa dan saling memuji satu sama lain, Bu Wahyu adalah teman dekat Rasti yang paling bisa mengerti isi hatinya Rasti.


"Sudah sarapan apa belum, Bu?" tanya Bu Wahyu kepada Rasti.


"Saya belum sarapan nih, Bu Wahyu!" jawab Rasti sambil mengelus perutnya yang rata.


"Bagaimana jika saya belikan nasi bungkus di warung makam Mbak Ijah, Bu Wahyu mau?" ucap Rasti sembari menawarkan makanan kepada Bu Wahyu yang sedang merasa lapar.


"Oh, boleh! itu sih, kalau Bu Rasti tidak keberatan menolong saya." tukas Bu Wahyu tersenyum ringan.


"Saya siap membantu, Bu Wahyu tenang saja!" tandas Rasti meyakinkan Bu Wahyu.


"Okey kalau begitu, saya ambil uang dulu buat bayar." kata Bu Wahyu segera menuju ruang kantor guru untuk mengambil uang di dalam tas miliknya yang berwarna coklat muda.


"Baik lah, Bu!" sahut Rasti berjalan mengikuti Bu Wahyu.


Drttttt, drtttt.


Hp Rasti bergetar di dalam saku baju seragamnya, dia pun terkejut setelah mengetahui ada pesan singkat masuk dan berisi sapaan untuk dirinya.


"Bu Rasti" ucap sesorang, menyapa Rasti dengan memanggil namanya lewat pesan singkat.


"Iya!" balas Rasti cepat dan singkat.

__ADS_1


"Sedang apa?" tanya seseorang yang belum jelas identitasnya.


"Lagi mau jalan naik sepeda motor nih!" jawab Rasti memberitahu kegiatannya siang ini.


"Ngomong-ngomong mau kemana, nih?" sambung seseorang ingin tahu hendak kemana Rasti akan pergi naik sepeda motor.


"Kemana saja, anda tidak perlu tahu! karna saya juga belum mengetahui identitas anda dengan jelas." ucap Rasti menjawab pesan singkat dengan nada kesal dengan seseorang yang sok kenal sok dekat dengan dirinya.


"Ya sudah, kalau saya nggak boleh tahu kegiatan Bu Rasti hari ini!" hardiknya dengan nada mengambang.


"Sebutkan dulu, siapa namamu?" sambung Rasti penasaran dengan pemilik nomer baru yang sedang menghubunginya lewat pesan singkat.


"Ahmad Habibi, itu lah nama lengkap saya." jawab Ahmad lengkap.


"Ahmad Habibi? orang mana? kenapa bisa tahu nomer saya?" jawab Rasti dengan penuh pertanyaan yang beruntun.


"Ya, jelas saya tahu nomer Bu Rasti! kan tadi pagi Bu Rasti menelpon saya! iya kan?" sahut Ahmad mengingat kejadian tadi pagi.


"Tadi pagi saya hanya menelpon satu orang yaitu Pak Ahmad" kata Rasti memberi penjelasan.


"Nah, itu saya! yang Bu Rasti telpon tadi pagi!" tandas Ahmad memberitahu kepada Rasti.


"Oh, jadi ini Pak Ahmad? kenapa pakai nomer hp baru? kemana nomer hp yang lama?" pertanyaan beruntun terjadi lagi deh.


"Betul, Bu! saya Pak Ahmad yang kemarin memberikan nomer hp saya di lembaran kertas kecil.


"Iya, iya saya ingat Pak!" terang Rasti sambil tersenyum. Sepertinya dia bahagia mengetahui jika yang menghubunginya adalah Pak Ahmad.


"Bukankah tadi pagi Pak Ahmad salah sebut nama dua kali? dan tidak menyebut nama saya saat menebak!" tukas Rasti menggerutu.


"Sengaja! saya sengaja, pura-pura nggak mengenali suara Bu Rasti. Hiks hiks" jawab Pak Ahmad menggoda Rasti.


"Huft, sebel deh! jahat banget sih Pak Ahmad!" kata Rasti sambil mengerucutkan bibirnya yang seksi dan merona menggunakan lipstik warna merah cabe.


"Maafkan saya, Bu! sudah membuat Bu Rasti kesal dan bete." jawab Pak Ahmad meminta maaf kepada Rasti karena dia sudah ngerjain Rasti.


"Hmmm, tiada maaf bagimu!" jawab Rasti mendungus kesal.


"Ayo lah, Bu! maafkan saya, apa Bu Rasti mau saya belikan sesuatu agar bisa memaafkan kesalahan saya?" tanya Pak Ahmad merayu.

__ADS_1


"Tidak perlu!" balas Rasti tegas.


__ADS_2