
"Oya, ngomong-ngomong Bu Rasti sudah sholat duhur?" tanya Pak Ahmad, mencoba mengingatkan kepada Rasti.
"Alhamdulillah sudah, tadi selepas mengajar." jawab Rasti memberi tahu bahwa dirinya sudah menunaikan sholat dulur di sekolah.
"Oh, syukurlah kalau begitu!" kata Pak Ahmad merasa lega.
"Bagaimana jika kita cari makan siang?" ucap Pak Ahmad, mengajak Rasti makan siang bersama.
"Ayok!" sahut Rasti mengiyakan ajakan Pak Ahmad dengan senang hati.
Perutnya yang lapar membuat para cacing keroncongan sepertinya protes karena belum dikasih makan, Rasti mengelus pelan perutnya menandakan dia sudah tidak sabar bertemu dengan makanan.
Mengingat tadi pagi Rasti belum sempat sarapan karena sudah terlambat berangkat ke sekolah, ditambah adanya insiden kecil yang membuatnya geram.
"Bu Rasti mau makan apa? tentukan menunya, saya ngikut saja!" kata Pa Ahmad menawarkan menu makanan kepada Rasti.
"Saya suka soto, bakso, dan mie ayam hiks hiks" jawab Rasti sambil menutup mulutnya sendiri.
"Boleh, mau tiga porsi juga boleh asal dihabiskan!" ucap Pak Ahmad mempersilahkan Rasti makan besar.
"Pilih salah satu saja lah, mana mungkin saya menghabiskan tiga porsi dalam satu waktu? yang ada nanti saya kekenyangan dan nggak bisa bangun dari tempat duduk." sambung Rasti, menampik halus tawaran dari Pak Ahmad.
"Ya sudah, kita makan mie soto saja ya! yang ada nasinya, karena Bu Rasti kan belum mencium bau nasi sejak pagi. Iya kan, Bu?" tanya Pak Ahmad menebak-nebak.
"Iya, saya belum sarapan! tidak sempat!" jawab Rasti memberikan keterangan kepada Pak Ahmad.
__ADS_1
Rasti dan Pak Ahmad berjalan kaki mengelilingi Alun-alun Brebes untuk mencari penjual soto, nampak dari jauh ada tulisan yang bisa terbaca sama mereka.
"Soto Ayam dan soto babad"
"Nah, itu di sana ada penjual soto. Ayo, kita ke sana!" ajak Pak Ahmad sambil menggandeng tangan kanan Rasti. Rasti pun kaget melihat sikap Pak Ahmad yang sepertinya sudah kenal dekat dengan Rasti.
"Lepaskan tangan saya!" pinta Rasti, dengan nada sedikit tinggi.
"Ma maaf, Bu! saya reflek, sungguh tidak ada niat apapun! saya hanya tidak ingin melihat Bu Rasti kecapean berjalan kaki." terang Pak Ahmad memberi alasan atas sikapnya tadi.
"Sudah lah! ayo kita makan soto, saya sudah sangat lapar." ucap Rasti terus berjalan menuju warung soto di penghujung jalan raya.
"Okay, Bu Rasti masih kuat berjalan?" tanya Pak Ahmad memberikan perhatian kepada Rasti.
"Tentu, saya masih kuat berjalan asal ada Pak Ahmad di sisi saya." celetuk Rasti hinggal membuat Pak Ahmad memfokuskan pandangannya ke arah wajah Rasti yang penuh semangat.
Kaki Rasti terasa sakit karena ia berjalan menggunakan high heel , setelah ia memeriksanya ternyata ada sedikit kulit kaki yang lecet terkena gesekan sepatu karena berjalan terlalu jauh dengan langkah kaki yang cepat agar segera mendapatkan kan menu makanan yang dia inginkan.
Rasti mengeram kesakitan dan mengompres kakinya dengan batu es agar cepat sembuh, tak lama kemudian pesanan dua porsi soto serta dua gelas es teh manis sudah datang dan siap santap.
Pak Ahmad menawarkan sambal kepada Rasti namun Rasti menolaknya, karena ternyata Rasti tidak menyukai sambal dan tidak menyukai makanan yang pedas. Bahkan Rasti menambahkan kecap manis yang begitu banyak hingga membuat Pak Ahmad tercengang melihatnya, Rasti pun tertawa melihat Pak Ahmad terpelongo dibuatnya.
"Apa tidak kebanyakan itu kecapnya?" tegur Pak Ahmad sambil melihat ke arah kecap dan melirik ke arah Rasti yang terus menuangkan kecap ke dalam mangkuk berisi soto ayam pesanannya.
"Oh, tidak! saya paling suka makanan yang manis-manis, seperti orang yang di depan saya." jawab Rasti merayu Pak Ahmad, seketika Pak Ahmad pun tersenyum rasa ke-gr-an hingga dia menumpahkan air es teh miliknya karena merasa grogi setelah mendapat pujian dari Rasti.
__ADS_1
"Aduh! yah tumpah, deh!" teriak Pak Ahmad terkejut melihat gelas tumpah tersenggol lengan kanannya.
"Bu, minta tisu!" teriak Rasti kepada Pelayan.
"Iya, iya! ini tisunya" balas Pelayan sembari membawakan tisu untuk mengelap tangan Pak Ahmad yang terkena tumpahan es teh milikinya.
"Lain kali hati-hati, tidak usah gerogi" ucap Rasti memberikan sedikit saran kepada Pak Ahmad yang sedang membersihkan tangan kanannya.
"Iya, maafkan kecerobohan saya, Bu!" sambung Pak Ahmad meminta maaf atas kelalaian sikapnya.
"Tak perlu minta maaf, ini tidak sengaja!" tandas Rasti memaklumi kejadian ini.
Setelah Pak Ahmad selesai membersihkan tangan kanannya, dia melanjutkan makan siangnya dan memesan kembali minuman yang telah Ia tumpahkan barusan.
Rasti bisa memaklumi kejadian ini tanpa merasa marah kepada Pak Ahmad, karena insiden kecil ini terjadi tidak sengaja. Pak Ahmad yang merasa grogi ketika Rasti memuji dirinya, membuat insiden ini tidak akan pernah terlupa dalam memori ingatannya.
Acara makan siang sudah selesai, Rasti segera mengajak Pak Ahmad pulang mengingat dirinya tidak berpamitan dengan orang tuanya ketika mau pergi ke Brebes. Dia takut barangkali Bapak dan ibunya khawatir, anak gadisnya belum pulang yang sedangkan waktu sudah menunjukkan jam dua siang.
Pak Ahmad pun segera membayar makan siang mereka dan mereka berjalan menuju parkiran depan Masjid Agung untuk segera pulang, apalagi suasananya sudah mendung langit terlihat sedikit gelap.
Sesampainya di depan parkiran mereka segera mengambil sepeda motornya masing-masing dan mengecek keberadaan jas hujan di dalam jok sepeda motor mereka, ternyata Pak Ahmad tidak membawa jas hujan sedangkan Rasti selalu membawa jas hujan kemana pun dia pergi.
Mereka mengendarai sepeda motornya masing-masing dan beruntun pulang bersama, ketika di pertigaan jalan Pak Ahmad mengambil arah yang berbeda.
Sebelumnya dia berpamitan kepada Rasti bawa dirinya akan melewati jalan pulang yang berbeda dengan Rasti, Pak Ahmad berpesan kepada Rasti agar Rasti mengendarai sepeda motornya dengan hati-hati dan segera memberi kabar kepada Pak Ahmad setelah sampai di rumahnya. Rasti pun membalas ucapan Pak Ahmad hanya dengan beberapa anggukan kepalanya, menandakan dia paham yang dimaksud oleh Pak Ahmad.
__ADS_1
Sesampainya di tetangga Desa, hujan pun turun namun Rasti tidak mengenakan jas hujannya karena dia menganggap akan segera sampai di rumah sebentar lagi jadi tidak perlu menggunakan jas hujan miliknya.