
"Hm, telpon tidak yah?" tanya Rasti, bingung.
"Kalau saya telpon dia duluan, nanti dia malah kegeeran! huft!" sambung Rasti, mendengus kesal.
Rasti yang awalnya enggan menghubungi Pak Ahmad duluan, kali ini rasanya sangat menggebu ingin segera menghubungi Pak Ahmad.
"Gengsi? uhh!" tanya Rasti pada dirinya sendiri depan pantulan cermin di kamarnya.
"Kalau saya gengsi, lalu bagaimana komunikasi ini bisa berlanjut! tandas Rasti mencaci diri sendiri.
Rasti terus menatap layar hp nya yang sudah siap untuk menelpon Pak Ahmad, rasanya begitu menggebu namun di sisi lain Rasti gengsi untuk menghubungi Pak Ahmad lebih dulu. Padahal tidak ada salahnya menyambung tali silaturohim.
"Rasti, Rasti! hari ini mikiri gengsi? keburu Pak Ahmad disambar sama perempuan lain!" seru Rasti menasihati dirinya sendiri.
"emmm, baiklah! saya tekan tombol oke" kata Rasti, memberanikan jarinya menekan tombol telpon.
Tut, tut, tut.
Panggilan telpon telah tersambung, jantung Rasti berdebar kencang sepertinya dia gugup untuk mendengar suara Pak Ahmad lewat telpon.
"Hallo! selamat siang, dengan siapa saya berbicara?" ucap Pak Ahmad dengan nada tegas.
"Se selamat siang juga, Pak!" jawab Rasti gugup.
'Suaranya perempuan' gumam Pak Ahmad dalam hati.
"Kalau boleh tahu, siapa nama anda?" tanya Pak Ahmad, ingin tahu dengan siapa dia berbicara.
"Nggak kenal dengan suara saya, Pak?" tukas Rasti, seraya menyuruh Pak Ahmad untuk mengingat suara dirinya.
"Sebentar, saya ingat-ingat kembali!" seru Pak Ahmad meminta waktu untuk berpikir.
"Hiks hiks, lucu deh! Pak Ahmad" sahut Rasti tertawa kecil.
Hanya beberapa menit Pak Ahmad mengingat-ingat suara yang baru saja dia dengar, Pak Ahmad mencoba menebak-nebak beberapa kali menyebutkan nama-nama perempuan yang dia kenali.
"Emmm, ini Tuti? yah!" tebakan pertama Pak Ahmad.
"Bukan!" jawab Rasti, cepat.
__ADS_1
"Kalau bukan Tuti, lalu siapa yah?" kata Pak Ahmad berpikir keras.
"Rani? iya, kamu pasti Rani!" Pak Ahmad menerka-nerka kembali kedua kalinya.
"Huft! bukan!" tampik Rasti dengan nada kesal.
"Yah! salah lagi, deh! Lantas ini siapa? coba kasih tahu sama saya! siapa di sana?" paksa Pak Ahmad, penasaran dengan suara yang begitu jutek.
"Bukan Tuti atau pun Rani! huft!" tangkas Rasti merasa sangat kesal kepada Pak Ahmad yang ternyata tidak mengenali suara dirinya. Maklum saja! kan baru satu hari bertemu, itu pun tidak ngobrol terlalu banyak saat itu.
"Ya sudah, kalau tidak mau memberitahu. Lebih baik telponnya diakhiri saj!" pinta Pak Ahmad memberikan saran.
"Baik lah, telpon saya matikan!" kata Rasti, mengeram.
Sambungan telpon terputus, Pak Ahmad pikir jika dia ada yang neror barusan.
"Hmm, siapa sih dia sebenarnya?" dengus Pak Ahmad penasaran.
"Bikin penasaran saja!" sambung Pak Ahmad merasa bete.
Pak Ahmad kembali fokus pada pekerjaannya,
"Tak usah dipikiri, bikin pusing saja!" kata Pak Ahmad menasihati dirinya sendiri.
Rasti yang masih berkutat dengan rasa sebalnya kepada Pak Ahmad, dia memilih menyimpan hp nya ke dalam tas kecil selempang miliknya.
"Ah, Pak Ahmad! nebak suara saya saja nggak bisa!" seru Rasti, melempar bantal ke arah tembok dalam kamarnya.
"Lebih baik saya bersiap-siap berangkat ke sekolah, hari ini akan ada ulangan harian kelas sembilan. Saya tak boleh datang terlambat!" ucap Rasti sembari berdandan di depan cermin.
Rasti terlihat masih sebal kepada Pak Ahmad, namun sebenarnya dia sedikit cemburu karena Pak Ahmad ternyata punya beberapa teman dekat yang dengan gamblang dia sebut ketika Rasti menelpon dirinya.
"Sudah siap! saatnya berangkat, hmm" ucap Rasti sembari mengusap kedua lengannya yang tidak kotor.
"Oh, iya! lupa, belum pakai kerudung" gerutu Rasti sambil mencari-cari kerudung paris segi empat berwarna hijau muda.
Setelah Rasti sudah menemukan keberadaan kerudung pilihannya, teriakan suara di balik pintu kamarnya terdengar sangat kencang. Dia pun segera berdiri, beranjak dari jongkoknya di depan loker yang berisi berbagai macam kerudung.
"Rasti! sudah bangun kamu, Dik?" teriak Kakak Rasti yang memanggil namanya dengan suara nyaring.
__ADS_1
"Huft! Kakak! pasti deh mau bikin ulah lagi, ada apa sih sebenarnya?" tanya Rasti sambil membawa keluar kerudung hijau muda yang hendak dia pakai hari ini.
Rasti berjalan cepat melewati pintu kamarnya, segera menghampiri Kakaknya yang ternyata sudah berdiri di depan kamarnya dengan senyuman yang sangat aneh diterka maksudnya.
"Ada apa ya, Kak? pagi-pagi sudah teriak-teriak! apa tidak malu jika didengar tetangga sebelah?" tanya Rasti sembari memakai kerudungnya yang berwarna hijau muda.
"Tetangga sebelah? hmm bukannya tetangga sebelah sudah pindah rumah?" terang Kak Tiwi menyernyitkan keningnya.
"Mana saya tahu, emangnya saya mantau kegiatan mereka!" jawab Rasti membalikan badan dan kembali masuk ke dalam kamarnya.
"Eist, tunggu Dik!" ucap Kak Tiwi, menahan langkah kaki Rasti.
"Ada apa lagi sih, Kak? saya buru-buru, sekarang sudah terlambat ke sekolah!" gerutu Rasti dengan nada sedikit tinggi.
"Kakak pinjam kerudung hijau muda milik kamu, Dik!" seru Kak Tiwi memberitahu maksud kedatangan dia ke kamar Rasti.
"Kerudung hijau muda?" tanya Rasti menautkan kedua alisnya dan menatap kesal Kakaknya.
"Iya, kerudung hijau muda!" tandas Kak Tiwi mempertegas maksudnya.
"Apa Kak Tiwi tidak melihat? ini yang saya pakai kerudung hijau muda!" kata Rasti sambil memegangi kerudungnya yang hendak dipakaikan bros di bawah dagunya.
"Iya, Kakak lihat! makanya Kakak bilang sama kamu, Kakak mau pinjam kerudung yang itu!" sambung Kak Tiwi mendaratkan jari telunjuknya di dada Rasti.
"Hidih! Kakak sangat menyebalkan deh! harusnya kan Kak Tiwi bilang dari semalam, jadi kerudung ini tidak saya pakai di hari ini!" gerutu Rasti sembari mengerucutkan bibirnya karena marah dengan sikap Kakaknya.
"Emmm udah lah, Kak! saya mau berangkat, sudh telah nih!" sambung Rasti berjalan masuk ke kamar untuk mengambil tas miliknya.
"Ayo lah, Dik! pinjemin Kakak kerudung yang kamu pakai, ploss!" ucap Kak Tiwi terus merengek.
"Ploss? pliss kali, Kak!" sahut Rasti membenarkan ucapan Kak Tiwi.
"Hiks hiks iya deh, iya! Pliss Dik! penting banget buat acara foto bersama dan momennya hijau daun, Dik!" terang Kakak sambil memohon kepada Rasti.
Mendengar Kak Tiwi merengek, mana tega Rasti membiarkan Kakaknya kecewa. Akhirnya Rasti rela mengalah demi Kak Tiwi, dan segera mengganti ke rudungnya dengan warna hitam agar terlihat netral.
Seragam batiknya yang berwarna hijau bercorak daun, mana mungkin Rasti memasangkan seragamnya dengan kerudung berwarna merah, atau oranye, apalagi warna biru. Sepertinya sangat tidak cocok, alhasil Rasti memilih kerudung berwarna hitam polos.
Rasti cepat-cepat melepas kerudungnya dan memberikannya kepada Kak Tiwi, yang sedari tadi masih saja merengek meminta tolong kepada Rasti agar Rasti mau meminjamkam kerudung berwarna hijau muda kepada dirinya.
__ADS_1