BUAH HATI KITA

BUAH HATI KITA
Permintaan Maaf


__ADS_3

Ibu berjalan menuju ruang tamu untuk menutup pintu depan yang masih terbuka, sebelumnya Ibu membereskan semua majalah yang usai beliau baca.


Ketika Ibu kerepotan membawa gelas, piring, dan majalah sekaligus. Tiba-tiba Bapak datang dari bengkel dan menangkap salah satu majalah yang hampir terjatuh dari genggaman Ibu.


"Eitssss, tangan Ibu cuma dua. Tapi barang bawaannya banyak sekali, Bu!" Seru Bapak yang tiba-tiba muncul di hadapan Ibu.


"Eh, Bapak sudah pulang. Ibu pikir biar sekali jalan, jadi tidak perlu bolak-balik." Jawab Ibu sembari menatap wajah Bapak yang begitu gagah.


"Seberapa jauh sih, Bu? perjalanan dari ruang tamu menuju dapur." Tanya Bapak membalas teduh tatapan bola mata Ibu.


"Jauh sekali, Pa! apalagi jika tidak ada Bapak di rumah ini. Rasanya sepi dan hampa!" Cetus Ibu menggoda Bapak.


"Bapak akan selalu berada di rumah ini, buat menjaga Ibu dan anak-anak kita." Sahut Bapak meyakinkan hati Ibu.


"Semoga kita selalu bersama, selamanya ya, Pa." Ucap Ibu penuh harapan dalam setiap doanya.


"Aamiin, Bu!" Jawab Bapak mengamini doa Ibu.


"Ehem, ciye-ciye... so sweet." Celetuk Rasti sembari berdeham satu kali.


Kedua tangannya yang dilipat di atas dadanya, terlihat seperti orang yang sedang mengamati sesuatu. Rasti mendekat dan menghampiri Bapak dan Ibu, dia memeluk erat kedua orang tuanya yang sangat menyayangi anak-anaknya.


Sikap kedua orang tuanya, akan menjadi contoh dan panutan Rasti kelak ketika sudah berumah tangga.


"Ayo, tutup pintunya, Bu! sudah malam." Rasti meminta tolong kepada Ibu, agar segera menutup pintu rumah.


Hari telah larut, semua anggota keluarga masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.


Keesokan harinya, Rasti terlambat bangun karena dia tidur sangat lelap hingga tidak mendengar bunyi alarm di kamarnya.


Ketika Rasti terbangun, dia berteriak melihat jam beker. Ternyata sudah hampir jam tujuh pagi, dia pikir jam bekernya rusak. Padahal dia mimpi buruk dan susah bangun.


"Ibu..." teriak Rasti sambil berlari membawa handuk menuju kamar mandi.


"Saya bangun terlambat! hmm, sebel, sebel, sebel!" Gerutu Rasti mengerucutkan bibirnya.


"Ya sudah buruan mandi! Ibu kira hari ini kamu libur, makanya Ibu nggak bangunin kamu tidur." Ucap Ibu sembari menyiapkan sarapan untuk keluarga.


"Libur dalam rangka apa, Bu?" Tukas Rasti, di dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Dalam rangka kamu malas bangun, jadi tidak berangkat mengajar. Hiks hiks." Jawab Ibu terkikik-kikik.


"Idihhh, Ibu mah begitu deh! Saya kan selalu rajin berangkat pagi, Bu." Sambung Rasti, sedikit geram mendengar pernyataan dari Ibu.


Rasti buru-buru dan mandi hanya dengan beberapa gayung saja, yang penting sudah pakai sabun wangi dan menyikat giginya.


Setelah selesai mandi, Rasti segera menuju kamarnya. Dia berjalan jinjit penuh dengan rasa hati-hati, Ibu yang berada di ruang tengah hanya dilewati Rasti tanpa menyapa beliau. Ibu pun hanya menggeleng saja, sambil tersenyum melihat anaknya yang sedang gugup.


"Rasti, sarapan dulu, Nak!" Ucap Ibu sembari mengetuk pintu kamar Rasti.


"Sudah siang, Bu! Nggak sempat buat sarapan di rumah." Sahut Rasti, sedikit teriak.


"Ibu bungkusin nasinya ya? kamu sarapan di sekolah!" Seru Ibu, menawarkan nasi bungkus kepada Rasti.


"Boleh lah, Bu. Itu pun kalau Ibu nggak keberatan." Kata Rasti mengiyakan tawaran Ibu.


"Sama sekali Ibu nggak keberatan, Nak! Baiklah, Ibu bungkusin nasi buat kamu." Jawab Ibu penuh semangat.


"Saya juga pengin dibungkusin nasi sama Ibu," Celetuk Kak Tiwi yang terlihat sudah siap berangkat mengajar.


"Oh, kamu mau?" Tanya Ibu, menaikan kedua alisnya.


"Sip! tunggu sebentar ya, Ibu siapkan dulu nasinya." Ucap Ibu penuh kasih sayang kepada anak-anaknya.


"Ini nasinya," Ibu memberikan bungkusan nasi kepada Kak Tiwi.


"Terimakasih banyak, Bu. Saya pamit berangkat dulu, Bapak mana Bu?" Sahut Kak Tiwi sembari menanyakan keberadaan Bapaknya.


"Bapak sudah berangkat pagi-pagi, saat kalian masih di kamar masing-masing." Terang Ibu, sambil berjalan keluar mengantarkan Kak Tiwi yang hendak berangkat.


"Oh, tumben Bapak berangkat pagi-pagi?" Tanya Kak Tiwi menautkan kedua alisnya.


"Iya, hari ini ada senam pagi di sekolahnya." Terang Ibu memberitahu kepada Kak Tiwi.


"Emmm, begitu." Gumam Kak Tiwi sambil membawa bungkusan nasi ponggol.


"Saya berangkat dulu, Bu." Pamit Kak Rasti, segera mencium tangan kanan Ibu.


"Hati-hati di jalan, Nak!" Pesan Ibu kepada Rasti sembari mengulurkan tangan kanannya.

__ADS_1


"Ibuuuuuu, Saya juga mau berangkat." Teriak Rasti keluar dari kamarnya.


"Iya, Iya. Jangan teriak-teriak! bikin Ibu kaget saja, deh!" Seru Ibu, berjalan menuju ruang tamu dan membawakan nasi bungkus buat Rasti.


"Rasti berangkat, Bu" Ucap Rasti, mencium punggung tangan Ibu.


"Iya, hati-hati." Ibu mengusap kepala Rasti yang mengenakan kerudung berwarna merah terang dihiasi bros cantik di bagian dada sebelah kanan.


Rasti tacap gas karena dia merasa sudah sangat terlambat berangkat ke sekolah, ketika sedang gugup-gugupnya sepeda motor Rasti tiba-tiba oleng dan membuat Rasti panik.


Ternyata ban belakang sepeda motor Rasti, kempes.


"Aduhhh, sial banget hari ini! huft!" Gerutu Rasti sembari memencet ban luar sepeda motornya.


"Mana bengkel belum pada buka," Rasti mengedarkan pandangannya ke arah jalan raya.


Terlihat ada dua pemuda yang berboncengan hendak melintas ke depan Rasti, dia pun menghentikan kedua pemuda itu.


"Mas, mas, mas. Berhenti sebentar, tolongin saya." Pinta Rasti, mencegah laju sepeda motor yang lewat di depannya.


"Ada apa, Bu?" Tanya pemuda yang duduk di depan.


"Ini, ban sepeda motor saja bocor. Bisa minta tolong?" Ucap Rasti dengan wajah panik.


"Maaf, Bu! kami mau berangkat kerja, dan sudah terlambat." Sahut pemuda yang duduk di belakang.


"Yah...." Kelakar Rasti, dengan nada kecewa.


Kedua pemuda tersebut segera tacap gas meninggalkan Rasti, Rasti pun menuntun sepeda motornya untuk mencari bengkel. Dia berusaha menelpon Bu Wahyu, tapi panggilan teleponnya tidak tersambung.


"Uhh, hp Bu Wahyu tidak aktif." Hela Rasti mengendus kesal.


Sesekali Rasti melihat jam tangan di lengan kirinya, waktu sudah menunjukan pukul tujuh lebih lima belas menit. Nafasnya terengah-engah dan terus menuntun sepeda motornya, matahari sudah mulai terbit.


Dalam hatinya, Rasti berharap ada bengkel yang sudah buka agar cepat ditambal dan segera sampai di sekolah.


"Rasti, kenapa dengan sepeda motor kamu?" Tanya Herma yang hendak pergi ke kota.


"Ini, Ma. Ban sepeda motor saya, bocor." Tunjuk Rasti ke arah ban luar belakang.

__ADS_1


"Di depan sana ada bengkel yang sudah buka, kamu semangat nuntunnya ya?" Cetuk Herma dengan menunjuk ke arah ujung jalan.


__ADS_2