
"Lah, Bu Rasti juga ngapain berhenti di sini?" tanya Pak Ahmad, tertawa kecil melihat Rasti tercengang.
"Hmm, Pak Ahmad! ditanya kok malah balik tanya." Deham Rasti, sedikit sebal melihat Pak Ahmad yang sudah mengikutinya.
"Bagaimana rasanya, Bu? jika pertanyaan dijawab dengan pertanyaan lagi." tukas Pak Ahmad, membuat Rasti hampir mati kutu.
"Oh, jadi maksud Pak Ahmad. Nyindir saya, nih! Pak Ahmad balas dendam sama saya?" tandas Rasti, emosinya mulai memuncak.
"Bukan begitu, Bu! saya hanya bertanya saja, dan ingin tau jawaban dari Bu Rasti. Saya bercanda, Bu! dan tidak ada maksud buat balas dendam sama Bu Rasti." Ucap Pak Ahmad, menampik pernyataan dari Bu Rasti.
Rasti bungkam dan wajahnya memerah, dia tidak jadi memfotocopy berkas tapi segera pulang. Sepertinya Rasti marah, dan benci melihat raut wajah Pak Ahmad yang menyebalkan.
"Bu, Bu, tunggu! Bu Rasti!!!" Teriak Pak Ahmad, sembari mencegah Rasti pergi.
"Lepaskan tangan saya!!!" Ucap Rasti, tak kalah teriak. Suara nyaring Rasti membuat semua orang di depan toko sembako melihatnya.
"Lain kali, jangan jadi orang yang pendendam!" Pekik Rasti, matanya memerah dan berkaca-kaca.
"Tidak, Bu! sama sekali saya tidak dendam sama Bu Rasti!" Hardik Pak Ahmad, meyakinkan Rasti dan menahan tangannya yang hendak menyalakan stop kontak sepeda motornya.
"Biarkan saya pergi!" Tegas Rasti, memohon.
"Okey, baiklah! maafkan kesalahan saya, Bu!" Pinta Pak Ahmad, merengek meminta maaf hanya karena kesalahan kecil yang mampu membuat Rasti naik pitam dan suaranya meledak-ledak.
Rasti yang niat awalnya keluar rumah hendak memfotocopy berkas, justru tidak jadi karena lebih mengedepankan emosinya. Pak Ahmad pun hanya bisa mengelus dada dan menyesali ucapannya, meski dia sudah tau sifat Rasti yang pemarah. Namun tetap juga dia sering bikin Rasti bete saat bersamanya.
Pak Ahmad melanjutkan tujuan utama keluar rumah yaitu memfotocopy berkas penting yang akan dikumpulkan besok. Sedangkan Rasti pulang tanpa permisi dengan wajah penuh amarah hanya karena sindiran kecil.
"Kenapa pacaranya, Pak? kok marah-marah?" Tanya penjaga jasa fotocopy yang bernama Aris.
"Hmmm, biasa! lagi datang bulan hiks hiks." Jawab Pak Ahmad bercanda.
"Oh, kirain kenapa!" seru Mas Aris tertawa jahat.
Pada dasarnya Pak Ahmad suka bercanda namun, Rasti yang pemarah tidak bisa memahami sifat humoris Pak Ahmad.
__ADS_1
Sesampainya Rasti di rumah, dia langsung masuk kamar dengan kepala ditekuk. Ibunya Rasti jadi penasaran, ada apa sebenarnya dengan Rasti.
"Rasti!" sapa Ibu dengan suara sedikit keras.
"Kamu kenapa, Nak?" tanya Ibu penasaran.
"Ibu cemas dengan keadaan kamu," ucap Ibu sembari mengangkat dagu Rasti.
"Saya nggak apa-apa, Bu! saya baik-baik saja!" jawab Rasti sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Syukurlah, kalau kamu baik-baik saja!" Sahut Ibu merasa lega.
"Hu hu hu, Ibu... kenapa saya jadi orang yang mudah marah, mudah tersinggung, dan terkenal angkuh? padahal saya rasa, saya biasa-biasa saja, Bu!" jerit Rasti, seketika mengagetkan Ibu.
"Owalah dalah... sebenarnya ada apa ini, Rasti?" ringis Ibu semakin khawatir dengan anak gadisnya.
"Ajari saya biar jadi orang yang sabar, Bu!" rengek Rasti meminta tolong kepada Ibu.
"Ow... begitu!" cetus Ibu membulatkan bibirnya.
"Awwwww aduhhh! Tolong saya!" Teriak Kak Tiwi sambil minta tolong.
"Itu suara Tiwi, ada apa dengan dia? Ibu keluar sebentar." Ujar Ibu segera keluar dari kamar Rasti.
Ibu berjalan cepat dan menyingkab tirai kamar Rasti, Ibu melihat Kak Tiwi sedang duduk di atas lantai yang basah sambil meraung kesakitan dan mengelus kakinya yang menghantam tembok.
"Ya Allah, Tiwi! kamu terjatuh?" tanya Ibu merasa sangat kasihan melihat anak pertamanya terpeleset.
"Iya, Bu! aduhhhh sakit banget, Bu!" gerutu Kak Tiwi sambil meringis kesakitan.
Rasti yang sedang sedih pun segera keluar dari kamarnya, dia ikut membantu Ibu membangunkan Kak Tiwi dan memapahnya sampai di kamar Kak Tiwi.
"Siapa sih, Bu. Yang mainan air?" tanya Kak Tiwi merasa geram.
Akibat ada tumpahan air yang tidak dia lihat, Kak Tiwi jadi terpeleset karena sandalnya yang licin.
__ADS_1
"Ibu rasa tidak ada yang mainan air dari tadi, Rasti juga baru pulang dari tempat fotocopian. Bapak masih di bengkel, dan Adik sedang main ke rumah temannya sejak sore belum pulang. Ibu sejak tadi duduk di ruang tamu sambil membaca resep makanan, lalu siapa ya yang bermain air sampai tumpah seperti ini? Ibu jadi heran deh!" Gumam Ibu, sembari membersihkan lantai yang basah.
Meong...
"Kucing?" Ucap Ibu, pelan.
"Ada suara kucing, berarti yang menumpahkan air dalam gelas ini adalah kucing. Hmmm," terka Ibu sembari mencari-cari keberadaan kucing.
"Kenapa, Bu? sini saya bantu bersihin." Ujar Rasti cepat-cepat meraih kain pel yang dipegang Ibu.
"Tidak perlu, ini juga sudah selesai, Nak!" Ibu menolak halus bantuan dari Rasti.
"Gimana keadaan Kakak kamu?" tanya Ibu sembari menoleh dan melihat ke arah kamar Kak Tiwi.
"Kak Tiwi sedang istirahat, Bu. Kakinya masih kesakitan, jadi tadi saya bantu olesin balsem." Terang Rasti, sambil membawa bak berisi air kotor bekas mengepel lantai.
"Ternyata kucing yang menumpahkan air ini." Sambung Ibu memberitahu kepada Rasti.
"Owww, pantas saja! saya pikir juga kucing, masa setan hiks hiks." Canda Rasti hingga membuat bulu kuduknya berdiri.
"Hidih! masa setan sih?" Sambar Ibu seraya tidak percaya jika ada setan yang jahil menumpahkan air di dalam gelas.
"Ya sudah, lah! jangan dipikiri terus." Pinta Rasti kepada Ibu, agar cepat melupakan kejadian ini.
"Iya, ayo kita lihat Kak Tiwi di kamarnya!" Ajak Rasti kepada Ibu.
Walaupun Kak Tiwi termasuk Kakak yang jahil, tapi Rasti sangat menyayangi Kakaknya. Rasti lebih sering mengalah jika bertengkar dengan Kak Tiwi, beda lagi dengan Rasti dan Pak Ahmad.
Rasti tidak pernah mau mengalah jika adu mulut sama Pak Ahmad, Pak Ahmad selalu mengalah demi ingin mendapatkan cintanya Rasti.
Memang saat ini Pak Ahmad belum berani mengutarakan isi hatinya kepada Rasti, karena Pak Ahmad pikir jika Rasti susah untuk ditaklukan. Jadi Pak Ahmad masih menunda niatnya untuk segera melamar Rasti.
"Gimana keadaannya sekarang, Kak?" tanya Rasti sembari duduk di ranjang Kak Rasti dan memijat kaki Kakaknya.
"Sudah baikan, Dik." Jawab Kak Rasti menyirnyitkan hidungnya yang mancung.
__ADS_1
"Syukurlah, kamu istirahat dan tidur! sudah malam, Ibu mau ke ruang tamu dulu. Mau ngecek pintu depan yang masih terbuka." Ucap Ibu sambil mengelus pipi Kak Rasti.