BUAH HATI KITA

BUAH HATI KITA
Sampai di Rumah


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Rasti berdoa agar hujan turun tidak terlalu lebat, karena dia tidak mengenakan jas hujan walaupun sebenarnya ada jas hujan di dalam jok sepeda motor.


Dalam perjalanan pulang, Rasti berpapasan dengan Bu Wahyu yang ternyata baru pulang dari sekolahan. Terlihat Bu Wahyu mengenakan jas hujan lengkap, mengingat jarak dari sekolahan ke rumahnya terlampau jauh. Rasti dan Bu Wahyu saling menyapa dengan membunyikan klakson sepeda motornya masing-masing.


Sesampainya Rasti di depan rumah, ia menjumpai kedua orang tuanya sudah berada di depan rumah untuk menyambut kedatangannya. Ketika Rasti turun dari sepeda motornya, bapaknya Rasti menghampiri dirinya untuk membantu Rasti menuntun sepeda motor milik Rasti dibawa masuk ke ruang tamu.


Sedangkan ibunya Rasti, menggandeng dia berjalan masuk ke ruang tamu. Rasti yang masih mengenakan helm mengikuti langkah ibunya untuk masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum, Bu! Pak!" ucap Rasti memberikan salam kepada ibu dan bapak yang sedari tadi sudah menunggunya pulang. "Waalaikumsalam, nak! Dari mana saja kamu? jam segini baru pulang." jawab Ibu cemas.


"Maafkan saya, bu! saya pulang terlambat tapi tidak pamit sama ibu terlebih dahulu." ucap Rasti sambil melepas tas selempang nya.


"Apakah acaranya begitu mendadak? sehingga kamu tidak sempat untuk berpamitan sama ibu atau bapak." tanya ibu menautkan kedua alisnya.


"Iya, Bu! pertemuannya sangat mendadak dan tidak ada rencana sebelumnya.


"Ya sudah! sekarang kamu bersih-bersih mandi! itu baju kamu basah." perintah ibu sambil membawakan handuk untuk Rasti.


"Baiklah, Bu? terima kasih atas perhatian ibu.Ibu memang sangat baik, ibu terbaik di dunia. sahut Rasti sembari meraih handuk di tangan ibu.


Ibu pun tersenyum manis dan melangkah menuju dapur, untuk membuatkan segelas teh hangat untuk Rasti serta secangkir kopi untuk bapak. Tak lupa Ibu menyuguhkan beberapa cemilan, makanan untuk penghangat tubuh. Apalagi Rasti yang baru saja kehujanan saat perjalanan pulang, tentunya butuh minuman dan makanan penghangat tubuh.


"Sudah selesai mandi kamu, Nak?" tanya ibu sembari membawakan segelas teh hangat untuk Rasti dan secangkir kopi untuk bapak. Ibu meletakkannya di atas meja makan, terlihat Bapak sudah duduk di depan televisi untuk menyaksikan siaran berita sore hari.


"Iya bu! saya sudah selesai mandi sebentar lagi adzan salat ashar berkumandang, Saya mau ambil air wudhu dulu lalu salat berjamaah di mushola." jawab Rasti sambil memegangi segelas air teh hangat untuk menghangatkan tangannya.

__ADS_1


Rasti meneguk air teh hangat buatan Ibu dan tak lama kemudian suara adzan salat ashar telah berkumandang, Rasti segera beranjak dari duduknya dan melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Selesai dia berwudu, dia segera masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil mukenah dan sajadah yang akan digunakan untuk menunaikan ibadah salat ashar berjamaah di mushola, depan rumahnya.


Ketika Rasti sudah mengenakan mukena dan hendak berangkat ke mushola, ia melewati kamar Kak Tiwi. Kak Tiwi pun melihat Rasti dan menyapanya, namun Rasti tidak menghiraukan karena ia merasa sudah terlambat pergi ke mushola. Apalagi suara iqomah sudah terdengar, jadi Rasti mempercepat langkah kakinya.


Salat ashar pun telah Rasti kerjakan dengan khusyuk, Dia segera pulang karena dia merasa sudah tidak enak badan jadi dia ingin beristirahat di kamarnya. Namun ketika dia baru saja merebahkan tubuhnya di ranjang, ketukan pintu terdengar dari balik kamarnya. Suara teriakan Kak Tiwi menyeruak ke dalam telinganya, hingga dia harus beranjak bangun dari tempat tidurnya dan membukakan pintu kamarnya.


Tok tok tok


Kak Tiwi mengetuk pintu seraya tak sabar menunggu Rasti untuk membukakan pintu kamarnya, cekrek! suara pintu terbuka terdengar nyaring.


Kak Tiwi pun segera masuk ke dalam kamar Rasti dan duduk di atas ranjang sambil memeluk bantal guling milik Rasti, terlihat di tangannya ia membawa kerudung berwarna hijau muda milik Rasti yang tadi pagi usai dipinjam Kak Tiwi untuk acara pemotretan bersama teman-temannya di sekolah.


"Ini dek, Kakak kembalikan kerudung kamu tapi belum Kakak cuci." kata Kak Tiwi sambil cengar-cengir. Kak Tiwi pun meletakkan kerudung tersebut di atas meja rias yang terlihat berantakan karena semalam Rasti membaca buku yang berisi karya baru milik dia sendiri.


"Hiks hiks, maaf Dek!" kata Kak Tiwi dengan santainya.


"Sekarang, silakan kakak keluar dari kamar saya! saya mau istirahat dan sana kakak salat Ashar dulu!" perintah Rasti dengan nada kesal. "Oke, Adik saya ngambek nih! Lagian kakak juga sedang tidak sholat, lagi ada tamu bulanan." jawab Kak Tiwi sambil tiduran.


Bukannya Kak Tiwi segera keluar dari kamar Rasti, tapi dia malah tiduran sambil memeluk bantal guling di kamar adiknya. Tingkahnya membuat Rasti semakin geram dibuatnya, akhirnya Rasti menarik tangan kanan Kak Tiwi agar segera bangun dan keluar dari kamarnya.


Namun Kak Tiwi menolaknya, malah pura-pura tertidur lelap.


"Ayo bangun! Keluarlah dari kamar saya!" pinta Rasti sambil menarik tangan kanan kakaknya.

__ADS_1


"Tidak mau! kakak mau tiduran di sini." tandas Kak Tiwi mendengus pelan.


Suara Rasti saat membangunkan kakaknya, terdengar dari ruang tengah membuat Ibu penasaran. Ada apa dengan mereka berdua? akhirnya ibu menghampiri Rasti dan Kak Tiwi di dalam kamar Rasti.


"Ada apa ini?" tanya ibu sambil mengedarkan pandangannya ke semua sudut ruang kamar Rasti.


"Ini Bu, Kak Tiwi tidak mau keluar dari kamar saya! saya kan mau istirahat, capek tahu!" jawab Rasti mengeram, dia merasa sebal dengan tingkah kakaknya.


"Tiwi, ayo bangun! biarkan Rasti beristirahat sejenak." ucap Ibu meminta agar Kak Tiwi segera keluar dari kamar Rasti.


"Emm ngantuk, Bu!" sahut Kak Tiwi menggeliat dan pura-pura menguap.


"Kalau kamu ngantuk lebih baik kamu tidur di kamar kamu sendiri, dan biarkan Adik kamu beristirahat . Kasihan dia habis kehujanan!" ucap Ibu memberikan saran kepada Kak Tiwi.


"Wah kehujanan? Emangnya di luar hujan?" tanya Kak Tiwi melotot, terkejut mengingat jemuran Dia sangat banyak di lantai dua. Dia langsung terjungkit dan bangun dari tempat tidur Rasti dan segera memeriksa jemuran pakaianya yang sangat banyak.


"Iya, hujan sejak jam tiga" sambung Ibu memberitahu.


"Aduh Ibu! kenapa baru memberitahu sekarang? pasti jemuran saya basah semua" tukas Kak Tiwi menyalahkan Ibu.


"Kamu saja yang dari tadi di kamar terus! Ibu dan Bapak kan di depan rumah, menunggu Rasti pulang! mana ingat ada jemuran di lantai dua. Ibu kan sudah tua, jadi sering lupa." jawab Ibu merasa bersalah.


"Ya sudah, saya mau mengecek jemuran baju dulu, Bu!" seru Kak Tiwi dan segera beranjak pergi dari tempat tidur Rasti.


"Huft, sekarang kamu bisa rebahan. Sejenak melepas lelah, mumpung kakak kamu sedang sibuk dengan jemurannya yang terkena air hujan." ucap Ibu tertawa kecil.

__ADS_1


Rasti pun menghempaskan napas panjang dan segera menutup pintu kamarnya, karena terlihat Ibu sudah keluar dari kamar Rasti.


__ADS_2