BUAH HATI KITA

BUAH HATI KITA
Cinta yang Tulus


__ADS_3

Pak Ahmad menatap tajam wajah Rasti yang sejak bertemu dengan dirinya, masih saja menundukan kepalanya dan tidak mau menatap balik wajah Pak Ahmad.


Sepertinya Rasti kecewa kepada Pak Ahmad karena sudah membuatnya menunggu terlalu lama, dan mengira Pak Ahmad tidak akan datang menepati janjinya.


Sejak awal ketika Pak Ahmad mengatakan bahwa dirinya ingin bertemu dengan Rasti walau hanya satu jam saja, karena hari ini Pak Ahmad punya jadwal untuk pergi ke sawah acara panen sayur bersama keluarganya. Jadi Rasti berpikir bahwa rasanya sangat percuma dia berlama-lama di sekolahan.


Ternyata dugaan Rasti salah besar Pak Ahmad yang awalnya bilang jika dirinya hanya mempunyai waktu 1 jam untuk bertemu Rasti, namun kali ini meluangkan waktunya lebih dari 1 jam untuk membujuk dan merayu Rasti agar tidak marah lagi kepada dirinya. Itu membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam setengah, Pak Ahmad pantang menyerah karena memang kenyataannya Pak Ahmad sudah menyimpan rasa kepada Rasti.


Sepertinya Pak Ahmad sudah jatuh cinta kepada Rasti dan sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengutarakan rasa cintanya kepada Rasti. Maka dari itu dia tidak menyerah menaklukkan rasa marah di hati Rasti dan kenyataannya dia memang mampu meluluhkan hati Rasti, dan Rasti pun mau memaafkan keterlambatan dirinya untuk datang menjemput Rasti.


Rasti tipikal perempuan yang tidak suka mengulur waktu karena bagi dirinya satu menit pun sangat berarti, dia tidak ingin menyia-nyiakan waktu akhirnya Rasti pun mau mengangkat dagunya dan menanggapi semua ucapan Pak Ahmad beserta alasan yang membuat Ahmad terlambat datang untuk menjemput Rasti di sekolah.


"Terima kasih sudah memaafkan saya" ucap Pak Ahmad tersenyum gugup.


"Lain kali jangan membuat saya menunggu lama karena saya bukan karet yang dengan mudah ditarik ulur, saya kan manusia biasa yang punya perasaan kecewa." balas Rasti wajahnya memerah.


"Iya bu, Insya Allah saya usahakan. Saya tidak akan datang terlambat lagi, tadi pun karena ada tugas mendadak jadi saya membuat Bu Rasti merasa kecewa karena menunggu terlalu lama." kata Pak Ahmad dengan suara terbata-bata.


"Baik lah, saya bisa mengerti kali ini. Tapi untuk lain waktu, jangan harap bisa bertemu saya lagi jika datang terlambat!" tandas Rasti dengan nada suara yang tegas dan membuat Pak Ahmad salah tingkah.


"Waduh! tega amat Bu, sama saya! saya juga manusia, Bu! punya keterbatasan waktu." tukas Pak Ahmad menyernyitkan keningnya.


"Makanya! lain kali jangan suka bikin janji, apalagi janjiannya hanya sepihak yang menyetujuinya. Emangnya janjian sama setan, yang kapan saja bisa datang? huh, hmm." gerutu Rasti mendengus kesal.


"Iya Bu, iya! semua ini kesalahan saya. Saya yang salah! salah! salah! salah!" sahut Pak Ahmad sambil memukuli dirinya sendiri, walau hanya bercanda.

__ADS_1


"Terus saja, pukuli tuh diri sendiri! sampai babak belur, biar tau rasa dan kapok! wakkkk." celetuk Rasti tertawa kecil dan segera membungkam mulutnya sendiri.


Rasti lupa, jika saat ini dirinya sedang marah sama Pak Ahmad. Walaupun marah, tapi sepertinya Rasti merasa kasihan sudah ngerjain Pak Ahmad sampai satu jam lebih untuk meminta maaf.


Terlihat Rasti juga ada rasa sama Pak Ahmad lho! buktinya dia marah-ketika Pak Ahmad datang terlambat. Itu artinya, Rasti ingin cepat-cepat bertemu Pak Ahmad tanpa ada penghalang.


"Uh, capek! tangan saya jadi pegal begini." Ucap Pak Ahmad sembari memijit pelan tangan kanannya yang terasa pegal.


"Rasain! emangnya enak?" celetuk Rasti meledek dan menertawakan tingkah Pak Ahmad yang aneh.


"Jahat banget sih, Bu Rasti! ada orang kesakitan juga, malah ditertawakan ehmm!" gerutu Pak Ahmad sambil berdeham lirih. Matanya melirik ke arah Rasti yang masih cekikikan menertawakan sikap anehnya Pak Ahmad.


"Dari dulu, saya memang terkenal jahat! makanya tidak ada yang suka sama saya. Huh, sebal!" kata Rasti, nampak senyum sinis menghiasi wajahnya yang cantik.


"Em, maaf jika saya salah ucap." sahut Pak Ahmad dengan suara pelan, Pak Ahmad menyesal telah mengatakan jahat kepada Rasti.


"Pak Ahmad tidak salah, dan ucapan Pak Ahmad betul adanya!" tandas Rasti membenarkan ucapan Pak Ahmad.


Rasti berpindah posisi duduknya, dia bergeser lebih jauh jaraknya dari Pak Ahmad. Rasti merasa bete, dan ingin menimpuk wajah Pak Ahmad menggunakan gumpalan kertas.


Bukkkk!


Akhirnya niat Rasti untuk menimpuk Pak Ahmad menggunakan gumpalan kertas, tersalurkan juga. Rasti merasa puas melihat Pak Ahmad kesakitan.


"Awwwww!"

__ADS_1


"Kenapa Bu Rasti menimpuk saya? tega benar, ya!" ucap Pak Ahmad sembari mengelus pipinya yang kesakitan.


"Gitu saja sakit! apalagi kalau saya timpuk pakai sepatu. Hiks hiks," ledek Rasti sambil menimpuk ulang ke wajah Pak Ahmad.


Bu Wahyu yang berada di dalam ruang guru bertanya-tanya.


"Mereka ngobrol apaan, sih? kedengaranya mereka bertengkar! apa saya yang salah dengar yah? hmm entah lah!" seru Bu Wahyu dalam hati.


"Bu Rasti, pulang yuk? sudah hampir jam dua siang. Apa Bu Rasti dan Pak Ahmad masih betah di sekolahan?" teriak Bu Wahyu, dari balik tembok.


Rasti mendengar ucapan Bu Wahyu dan segera menghampirinya, dia juga setuju kalau Bu Wahyu mau pulang. Karena Rasti juga sudah merasa bosan duduk-duduk di ruang tamu bersama Pak Ahmad.


Rasti mengajak Bu Wahyu makan siang, namun dia menolak ajakan Rasti. Selain sudah siang, Bu Wahyu mengingat anaknya yang belum minum asi. Alhasil Bu Wahyu pulang bareng Rasti dan Pak Ahmad.


"Bu, saya pulang duluan ya!" seru Bu Wahyu, berpamitan dengan Rasti yang sudah berada di tempat parkir khusus guru untuk mengambil sepeda motornya.


"Iya, hati-hati di jalan. Jangan lupa baca doa dulu sebelum jalan!" pesan Rasti, mengingatkan Bu Wahyu.


Mereka bertiga sudah siap pulang ke rumah masing-masing.


"Mari Pak Ahmad, saya pulang duluan!" teriak Bu Wahyu sambil mengendarai sepeda motornya, pelan.


"Iya, hati-hati di jalan Bu!" sahut Pak Ahmad berpesan pada Bu Wahyu.


Rasti yang baru saja mau menyetater sepeda motornya, tiba-tiba mengingatkan Pak Ahmad bahwa hari ini ada jadwal panen sayur bersama orang tuanya.

__ADS_1


"Ya Allah, saya sampai lupa jika siang ini mau ke sawah. Mama pasti nungguin saya, terimakasih Bu Rasti sudah mengingatkan saya. Kasihan Mama sudah tua, tenaganya sudah tidak seperti dulu lagi. Apalagi tangan Mama habis terkilir, kemarin." terang Pak Ahmad, sedikit bercerita tentang Mamanya.


Kali ini Rasti bisa mengerti perasaan Pak Ahmad, itu pun karena membawa-bawa nama Mama dalam pembicaraannya.


__ADS_2