BUAH HATI KITA

BUAH HATI KITA
Segera Pulang


__ADS_3

Pak Ahmad menceritakan tentang Mamanya yang mengalami cidera tangannya, membuat Rasti merasa iba dan membolehkan Pak Ahmad segera pulang tanpa ada rasa marah di hatinya kepada Pak Ahmad.


"Cepat sana, pulang! kasihan Mama sudah tua ke sawah sendirian." pinta Rasti agar Pak Ahmad segera pulang.


"Iya, Bu! terimakasih atas pengertian Bu Rasti." sahut Pak Ahmad menatap wajah Rasti yang cantik.


"Baik lah, kalau begitu saya juga mau pulang. Hati-hati di jalan ya?" kata Rasti sambil menarik gas sepeda motornya.


"Jangan lupa kasih kabar, jika sudah sampai di rumah!" teriak Rasti sembari menambah kecepatan laju sepeda motornya.


"Iya!" balas Pak Ahmad, singkat.


Sesampainya di rumah, rasanya ingin sekali makan telor rebus. Rasti membuka kulkas untuk mengambil telor ayam mentah beberapa biji, tapi persediaan telor sudah habis. Mau tidak mau, Rasti harus pergi ke toko sembako untuk membeli telor.


Matahari sudah mulai turun, Rasti masih saja kepanasan saat keluar rumah. Dengan menyipitkan kedua matanya, Rasti berjalan di tepi jalan raya sampai tiba di sebuah toko besar yang menyediakan sembako.


Di sana Rasti bertemu dengan teman dekatnya yang sudah seminggu belum bertemu, Dia menyapa Zizi yang sedang membeli gula dan teh pesanan orang tuanya. Terlihat Zizi membawa hp baru, kiriman dari Kakaknya yang berada di luar nrgeri.


Zizi memperlihatkan hp barunya kepada Rasti dan mengajak Rasti foto selfi, Rasti terlihat cantik alami meski tanpa make up Rasti tetap jadi perempuan idola di desanya.


"Ehm ehm, ada yang liatin kamu terus tuh! dari tadi." ucap Zizi berdeham, dan memberitahu bahwa ada seorang pria yang memperhatikan Rasti saat sedang foto selfi bersama Zizi.


"Ah! itu perasaan kamu saja, Zi!" tangkas Rasti, sambil mendorong pelan bahu Zizi.


"Serius, Ras! saya lihat dengan mata kepala sendiri. Dia memperhatikan kamu dari tadi, apa kamu ngga merasa?" tanya Zizi, berbisik-bisik.


"Udah, ah! kamu ngaco!" tukas Rasti, mencubit gemas ujung hidung Zizi.


"Ngomong-ngomong kamu mau beli apa?" tanya Rasti, mengalihkan pembicaraan.


"Lah, kamu sendiri mau beli apa? tumben siang-siang keluar rumah." Celetuk Zizi, bertanya balik kepada Rasti.


"Saya lagi kepengin makan telor rebus, nih!" jawab Rasti sambil menunjuk arah telor yang berada di dalam rak.


"Hah! telor rebus? kamu diet, Ras?" sambar Zizi sembari melotot ke arah Rasti.

__ADS_1


"Emmm, enggak juga tuh! kebetulan saja, saya lagi pengin makan lauk telor ayam rebus." terang Rasti, segera mengambil telor yang sudah ditakar sebanyak satu kilo gram.


"Ini, Mba! uangnya dua puluh lima ribu." ucap Rasti, mengulurkan tangannya ke arah pelayan sambil memberikan uang pembayaran telor.


"Ini kembaliannya, dua ribu lima ratus." sahut pelayan sembari memberikan uang kembalian kepada Rasti.


"Terimakasih, Mba!" ucap Rasti menerima uang kembaliannya.


"Oya, Zi! saya pulang duluan, ya?" kata Rasti menyenggol bahu Zizi yang berada di sampingnya.


"Eits, tungguin! kita pulang bareng!" pinta Zizi sambil menarik lengan kiri Rasti.


"Yeilah, Zizi!!! kita datang sendiri-sendiri, pulang ya sendiri-sendiri juga Zi! saya sudah laper ini!" seru Rasti, menggerutu.


"Tahan dulu napa, lapernya!" tukas Zizi meminta agar Rasti nungguin sampai Zizi selesai belanja.


"Saya tunggu sampai lima menit! lebih dari itu, saya tinggal! hutf!" ucap Rasti sembali mengacungkan lima jarinya ke arah Zizi.


"Sip!" jawab Zizi singkat.


"Om, saya mau beli gula satu kilo dan teh satu pak! cepat ya Om! nggak pakai lama!" pinta Zizi kepada pelayan toko sembako.


"Ciye... ciye... ada yang memuji, tuh! Mba cantik, hiks hiks" ledek Rasti tersenyum ke arah Zizi yang tersipu malu karena kegeeran.


"Rastiii, apaan sih!" hardiknya sambil melotot, Zizi mencubit pinggang Rasti yang meledeknya.


"Saya kira ini sudah lebih dari lima menit, deh, Zi! kalau begitu, bayyyy" sambung Rasti sambil membalikan badan dan meninggalkan Zizi di toko sembako.


"Rasti!!! yah, dia pergi! hmmm!" teriak Zizi, sambil menggerutu.


Rasti berjalan dengan langkah cepat, perut laparnya sudah tidak dapat ditahan lagi. Dia mempercepat langkahnya dengan beberapa kali mengusap dahinya yang berkeringat, ketika sampai di rumah. Dia disambut oleh Ibu dan Bapaknya, nafasnya masih terengah-engah.


"Dari mana saja, Rasti? Ibu mencarimu sejak tadi." Tanya Ibu, menautkan kedua alisnya.


"Eh, Ibu! nih, saya habis beli telor ayam." jawab Rasti riang, dia menyunggingkan senyuman kepada Ibu. Rasti menunjukan telor ayam yang dia bawa kepada Ibu.

__ADS_1


"Ibu kira kamu ke mana? dari tadi tanya sama Bapak, tapi tidak tahu! tanya sama Kak Tiwi, juga dia tidak melihat kamu pergi ke mana." Terang Ibu, memberitahu kecemasannya.


"He, he, maaf tadi saya nggak pamitan sama Ibu." cetus Rasti dengan rasa bersalahnya.


"Ngomong-ngomong ini telor ayam mau dimasak apa?" tanya Ibu, meraih telor ayam yang dibawa Rasti.


"Direbus saja, Bu! saya pengin diet." jawab Rasti sembari berjalan masuk menuju dapur hendak mempersiapkan panci yang akan digunakan untuk merebus telor ayam.


"Diet?" sambar Kak Tiwi tercengang.


"Iya, diet! Kak Tiwi mau diet juga?" ucap Rasti ketus, sembari menuangkan air ke dalam panci.


"Diet pakai telor ayam rebus, emangnya bisa?" tanya Kak Tiwi, memiringkan bibirnya.


"Bisa saja, Kak! asal konsekwen!" jawab Rasti, tegas.


"Kalau begitu, Kakak juga mau dong! diet pakai telor ayam rebus." sahut Kak Tiwi, melirik ke arah Rasti yang sudah memasukan telor ayam ke dalam panci.


"Boleh, boleh, boleh, asalkan Kak Tiwi beli sendiri telor ayamnya ha ha ha." ledek Rasti, tertawa melihat Kak Tiwi yang kepo.


"Hmm, Kak Tiwi belum dapat gajian nih! nanti Kak Tiwi ganti deh uangnya, kalau Kakak sudah dapat gajian. Gimana? deal?" pinta Kak Tiwi, agar dia bisa makan telor ayam gratis untuk sementara waktu. Mengingat uang Kak Tiwi yang semakin menitip.


"Deal!" ucap Rasti lanjut tertawa.


"Hmmm, Rasti Rasti" Gumam Ibu, melihat sikap Rasti yang terlalu perhitungan sama Kakaknya.


"Maaf, yah? hari gini nggak ada yang gratis, Kak!" celetuk Rasti, berjalan menuju kamarnya.


"Ada, tuh!" tandas Kak Tiwi, mengikuti Rasti masuk ke dalam kamarnya.


"Apa?" tanya Rasti mengerutkan keningnya.


"Tidur! ha ha ha" jawab Kak Tiwi, tertawa terbahak-bahak.


"Huh, itu bukan makan! tapi mlororrrr!" sambar Rasti mersa geram.

__ADS_1


Rasti yang baru saja merebahkan badannya di atas ranjang, dia harus terbangun lagi karena mendengar suara Ibu memberitahu bahwa telor ayam sudah matang.


Perutnya yang lapar tergugah ingin segera menyantap telor ayam rebus. Rasti beranjak dari tempat tidurnya dan segera memenuhi panggilan Ibu.


__ADS_2