BUAH HATI KITA

BUAH HATI KITA
Makan Telor Rebus


__ADS_3

Rasti beranjak dari tempat tidurnya, dan berjalan keluar dari kamarnya menuju dapur. Ketika Rasti hendak keluar dari kamarnya, dia mencium bau parfumnya padahal dia tidak memakainya.


Rasti menoleh ke arah meja rias, ternyata Kak Tiwi sedang menyemprotkan parfum ke seleruh tubuhnya.


"Masya Allah, Kak Tiwi!" teriak Rasti, histeris melihat Kak Tiwi sedang memakai parfumnya dengan begitu banyaknya.


"He, he, maaf Dik! Kak Tiwi mau keluar ada pertemuan dengan teman Kak Tiwi, biar baunya harum jadi Kakak pakai parfum kamu, sedikitttt!" ucap Kak Tiwi dengan suara ringan, di pun menyunggingkan giginya ke arah Rasti.


"Hmmm, terserah Kakak saja, deh!" kata Rasti mendengus pelan.


Rasti lanjut keluar dari kamarnya, Ibu sudah mengupas telor ayam rebus buat Rasti.


"Ada apa dengan Kakak kamu?" tanya Ibu, menaikan satu alisnya.


"Biasa, Bu! bikin ulah!" jawab Rasti, segera duduk di samping Ibu dan meraih telor ayam rebus yang sudah dikupas.


"Bismillahirrohmanirrohim, saya makan dulu ya, Bu!" ucap Rasti, lirih.


"Ini, nasinya!" Ibu menunjukan nasi kepada Rasti, namun Rasti menolak halus.


"Maaf, Bu! Saya mau diet dengan mengurangi makan nasi." terang Rasti, sembari menyingkirkan nasi dari hadapannya.


"Oh, begitu! apakah dietnya tidak beresiko?" Tanya Ibu, merasa cemas dengan diet yang hendak Rasti jalankan.


"Insya Allah, nggak ada resiko apapaun, Bu! Ibu tenang saja, ya!" sahut Rasti, meyakinkan perasaan Ibu yang sedang khawatir kepada Rasti.


"Syukurlah, Ibu harap semua akan baik-baik saja!" sambung Ibu, penuh harap.


"Enak juga ya, telor ayam rebus. Baru makan satu butir saja, perut sudah terasa kenyang. Bisa cepat langsing, nih! kalau tiap hari hanya makan telor ayam rebus." Gumam Rasti sambil menikmati telor ayam rebus, yang masih dikunyah.


"Walau kamu lagi diet, selain makan telor ayam rebus. Kamu juga harus makan makanan yang bervitamin, dan bergizi. Agar kamu tetap sehat dan tidak lemas." ucap Ibu memberikan saran kepada Rasti.

__ADS_1


"Baik, Bu!" Jawab Rasti mengangguk, pelan.


"Alhamdulillah, kenyang!" cetus Rasti, mengelus perutnya yang buncit.


"Ya, sudah! kalau sudah kenyang ya jangan dilanjutkan makannya. Tidak baik jika makan terlalu kenyang." Tandas Ibu kepada Rasti.


"Ini, sisa telor ayam rebusnya Ibu simpan buat sarapan kamu besok pagi." Sambung Ibu sembari memasukan telor ayam rebus ke dalam kulkas agar tidak cepat bau busuk.


"Iya, Bu! terimakasih." Sahut Rasti tersenyum ringan.


"Ibu, saya pamit mau ke tempat fotocopi. Ada berkas yang perlu difotokopi dan mau dikumpulkan besok ke Bu Wahyu." Ujar Rasti, sesekali dia meneguk air mineral yang sudah disediakan oleh Ibu di meja makan.


"Hati-hati, apakah perlu Ibu temani?" sahut Ibu, menawarkan bantuan.


"Tidak perlu, Bu. Ibu istirahat saja di rumah, nanti saya pergi sendirian naik sepeda motor." tukas Rasti, menolak halus tawaran ibu.


"Oh, ya sudah kalau begitu! Ibu mau salat Isya dulu." Sambung Ibu, berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Rasti membuka pintu lemarinya dan mencari berkas yang perlu difotokopi, pandangannya tertuju ke arah lemari paling atas ternyata berkasnya tersimpan di situ.


"Ini dia berkas yang saya cari, ketemu juga! ini berkas sangat penting buat masa depan saya, ini amanah dari kedua orang tua saya yang perlu saya jaga sampai kapanpun dan semoga ilmu yang saya dapat selama ini bisa bermanfaat untuk kehidupan saya dan banyak orang lainnya." Gumam Rasti, sembari mengecup lembut berkas yang ada di tangannya.


Rasti segera mengambil kunci sepeda motor beserta dompet yang hendak dibawa bersama berkas yang akan di fotocopy, dia menaruhnya ke dalam tas besar agar tidak jatuh dan aman.


Dalam perjalanan menuju tempat fotocopy, Rasti mengingat bahwa hp-nya tertinggal di atas kasur. Akhirnya dia berniat untuk putar balik dan mengambil hp miliknya namun, ketika Rasti akan membelokkan sepeda motornya dia berpapasan dengan Pak Ahmad yang ternyata mau ke tempat fotocopy juga. Rasti pun mengurungkan niatnya untuk mengambil hp-nya yang tertinggal.


Rasti berhenti di tepi jalan dan menunggu Pak Ahmad yang masih bersiap-siap menyebrang untuk menghampiri Rasti. Beberapa menit kemudian, Pak Ahmad berhasil menyebrang jalan raya dan segera menghampiri Rasti yang sejak tadi menunggu dirinya di tepi jalan raya.


"Hai, Bu! mau kemana malam-malam begini?" tanya Pak Ahmad menautkan kedua alisnya.


"Lah, Pak Ahmad sendiri mau kemana?" sahut Rasti bertanya balik kepada Pak Ahmad.

__ADS_1


"Ditanya, malah tanya balik. Kebiasaan buruk, nih!" Celetuk Pak Ahmad sambil menggaruk kepalanya.


"Emang, masalah buat Pak Ahmad?" Canda Rasti sembari menarik gas sepeda motornya dan meninggalkan Pak Ahmad di tepi jalan tanpa pamit.


"Nggak masalah, sih! tapi ya jangan meninggalkan saya begitu saja, Bu!" Gerutu Pak Ahmad dalam hati.


Tak lama kemudian, Pak Ahmad segera membuntuti dan menyusul Rasti.


Dengan sangat sabar, Pak Ahmad mengimbangi sikap Rasti yang angkuh dan sering membuat orang lain geram dibuatnya.


Tin, tin.


"Tunggu saya, Bu!"


"Sebenarnya Bu Rasti mau ke mana?" Tanya Pak Ahmad yang berada di samping kanan Rasti, mereka berdua masih mengendarai sepeda motor masing-masing.


Rasti tidak menjawab pertanyaan Pak Ahmad tapi, dia malah senyum-senyum sendiri melihat wajah Pak Ahmad yang berhasil dia kerjain.


Untung saja, kali ini Rasti bertemu dengan pria sabar seperti Pak Ahmad. Andai bertemunya dengan pria seperti mantan pacarnya yang tidak sabaran, sudah tentu dia bakalan ditinggalin lagi sama itu pria.


Rasti memang keras kepala, dia tidak mau merubah sikapnya. Maka dari itu, dia sering diputusin pacarnya hanya karena tidak dapat mengimbangi sikap Rasti yang super duper angkuh dan cuek.


Misinya, hanya ingin bertahan jadi diri sendiri sampai menemukan pria yang tulus mencintai dia apa adanya dengan segala kekurangannya. Kalau pun Pak Ahmad benar-benar mencintai Rasti, pasti Pak Ahmad akan bertahan dengan semua kekurangan yang dimiliki Rasti saat ini dan seterusnya.


Rasti berhenti di depan toko sembako, begitu pun Pak Ahmad. Mereka sama-sama berhenti di depan toko sembako, dan ternyata tujuan mereka sama-sama mau memfotocopi berkas.


"Pak Ahmad mengikuti saya?" Tanya Rasti, tercengang melihat Pak Ahmad berada di belakangnya.


"Idih geer banget, nih! Bu Rasti." Cetus Pak Ahmad, sembari mengedikan kedua bahunya.


"Lantas, mengapa Pak Ahmad berada di sini?" sambung Rasti sambil mengerutkan keningnya. Rasti merasa sebal, dia pikir Pak Ahmad mau mengikuti jejak dirinya. Padahal Pak Ahmad juga ada kepentingan sendiri.

__ADS_1


__ADS_2