
Pak Ahmad menambah kecepatan laju sepeda motornya, dia berharap agar cepat sampai di tempat Rasti mengajar. Perjalanan sekitar dua puluh lima menit, sudah Pak Ahmad tempuh dan sekarang dia sudah sampai di depan sekolahnya Rasti.
Pada saat Pak Ahmad Pak Ahmad sudah sampai di depan gerbang sekolahnya Rasti, dia melihat sepeda motor Rasti masih ada dan terparkir di depan ruang guru.
Pak Ahmad sengaja tidak memberitahukan bahwa dirinya sudah berada di depan gerbang sekolahnya Rasti, Pak Ahnad segera menuntun dan memarkirkan sepeda motornya di depan ruang kelas sebelah selatan.
Pak Ahmad sama sekali tidak merasa ragu dalam melangkahkan kakinya saat mau bertemu dengan Rasti, meskipun dia datang sangat terlambat.
Saat ini sudah pukul satu lebih sepuluh menit, sedangkan Pak Ahmad berjanji sama Rasti akan datang menjemput Rasti pada jam satu tepat. Berarti Pak Ahmad sudah terlambat sepuluh menit.
Pak Ahmad tak perduli, apapun resikonya yang penting dia datang untuk menemui Rasti. Dia melepas helm warna hitam yang masih 1dikenakannya, lalu meletakannya di atas spion.
qPak Ahmad bergegas melangkahkan kakinya penuh dengan keyakinan bahwa Rasti tidak akan marah padanya, dia berjalan sedikit merunduk karena sinar matahari semakin panas tepat di atas kepalanya.
Padahal gerimis mengiringi perjalanan menuju tempat Rasti mengajar, namun pada saat Pak Ahmad sampai di sekolahnya Rasti justru suasana langit semakin cerah. Mungkinkah ini pertanda baik buat perjalanan cintanya Pak Ahmad kepada Rasti.
Tok, tok, tok.
Pak Ahmad mengetuk pintu ruang tamu, dia mengingat saat pertama kali datang ke sini. Pandangannya mengitari seisi ruang tamu yang sudah sepi, dia melihat ke arah parkiran sepeda motor khusus guru. Di sana hanya ada dua sepeda motor, satu milik Rasti dan satunya milik Bu Wahyu.
Namun Pak Ahmad tidak mengetahui bahwa itu sepeda milik Bu Wahyu, karena antara Pak Ahmad dan Bu Wahyu belum saling mengenal.
"Assalamualaikum" ucap Pak Ahmad memberi salam.
"Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh," sahut Bu Wahyu menjawab salam.
Rasti yang mendengar ucapan salam dari Pak Ahmad, hanya menjawab salam di dalam hatinya dan pura-pura tidak mengenali Pak Ahmad. Bahkan Rasti meminta Bu Wahyu yang menemui Pak Ahmad di ruang tamu.
Bu Wahyu berjalan keluar sambil menggandeng Rasti, namun Rasti melepaskan pegangan tangan Bu Wahyu dan mendorong pelan tubuh Bu Wahyu agar cepat-cepat menemui Pak Ahmad.
__ADS_1
"Ayo, keluar! kita temui tamunya." pinta Bu Wahyu, mengajak Rasti keluar buat menemui tamunya entah siapa yang datang.
"Nggak mau, sana Bu Wahyu saja yang menemui tamunya!" tangkas Rasti sambil membalikan badan.
"Ya sudah, saya temui dulu tamunya!" kata Bu Wahyu berjalan menuju ruang tamu, untuk melihat siapa yang datang ke sekolah siang-siang begini.
"Eh, ada tamu. Maaf anda siapa, ya?" tanya Bu Wahyu kepada Pa Ahmad.
"Kenalkan, nama saya Ahmad!" jawab Pak Ahmad sembari mengulurkan tangan kanannya ke arah Bu Wahyu. Bu Wahyu pun meraihnya dan ikut menyebutkan namanya sendiri.
"Oh, Pak Ahmad! saya Wahyu. Silakan masuk!" sahut Bu Wahyu mempersilakan Pak Ahmad duduk di ruang tamu.
Mendengar Bu Wahyu menyebut nama Pak Ahmad, Rasti pun terkejut dan tersontak berdiri dari tempat duduknya. Rasanya tak percaya jika Pak Ahmad saat ini sudah berada di tempat ini.
Rasti pura-pura tidak tahu bahwa di dalam ruang tamu ada Pak Ahmad, dan sepertinya Bu Wahyu menanyakan maksud kedatangan Pak Ahmad ke mari.
"Ada perlu apa ya, Pak Ahmad datang ke mari?" tanya Bu Wahyu melempar senyuman.
"Ohhh, Bu Rasti? ada, ada, ada." tandas Bu Wahyu penuh semangat memberitahukan keberadaan Rasti.
"Bu Rasti ada di dalam, sebentar! saya panggilkan dulu." kata Bu Wahyu, meminta agar Pak Ahmad sabar menunggu di ruang tamu.
Bu Wahyu berjalan melambai masuk ke dalam ruang guru, dan memanggil Rasti yang terlihat sedang asik bermain hp nya.
"Bu Rasti, ada tamu tuh! tamunya pria tinggi nyariin Bu Rasti." ucap Bu Wahyu sambil menepuk punggung Rasti, pelan.
"Bilang saja, Rasti lagi tidur!" celetuk Rasti merasa kesal kepada Pak Ahmad.
"Jangan begitu! kasihan dia, sudah menunggu lama." tukas Bu Wahyu menegur Rasti dengan suara pelan, takut terdengar dari luar.
__ADS_1
"Males banget, Bu! bertemu dengan dia, janjinya jam karet. Huft sebel!!!" jawab Rasti, mendengus kasar.
"Temui dulu sebentar, dia sudah belain datang ke sini. Jauh-jauh datang ke mari untuk menemui Bu Rasti, tapi nggak ditemui 'kan kasihan dia." tandas Bu Wahyu mengerutkan keningnya, dia mencoba menasihati Rasti agar mau menemui Pak Ahmad di ruang tamu.
"Hmmm, nggak mau! suruh saja dia pulang, Bu!" gerutu Rasti meminta agar Bu Wahyu mempersilakan Pak Ahmad pulang.
"Apa perlu saya panggilkan Pak Ahmad, ke sini? agar Bu Rasti tak perlu repot-repot berjalan ke ruang tamu?" ucap Bu Wahyu memberikan ide baik kepada Bu Rasti.
"Jangan! tidak perlu, Bu! biar saya yang menemui Pak Ahmad di sana." Hardik Rasti menahan langkah kaki Bu Wahyu.
"Nah! begitu dong, jangan bikin orang lain kecewa kalau sendirinya nggak mau dikecewakan!." seru Bu Wahyu, menyindir Rasti yang berjalan gontai menuju ruang tamu.
Rasti yang sudah melangkahkan kakinya menuju ruang tamu, seketika menghentikan langkahnya dan berbalik badan menghampiri Bu Wahyu.
"Emmmmuahhh!" tiba-tiba Rasti mencium gemas pipi Bu Wahyu yang dari tadi ngomel terus, membuat Rasti geram dibuatnya.
Padahal menurut Bu Wahyu, ucapannya benar adanya. Namun Rasti tipe perempuan yang angkuh dan tidak mudah menerima saran dari orang lain. Jadi seringkali Rasti mengabaikan ucapan-ucapan Bu Wahyu yang memberikan nasihat kepadanya.
"Diem, ngapa! jangan ngomel terus!" pinta Rasti usai mencium gemas pipi Bu Wahyu.
"Huh, dasar keras kelapa! eh kepala!" dengus Bu Wahyu sambil membersihkan pipinya dari bekas ciumannya Rasti, pipi Bu Wahyu terlihat merah karena terkena lipstik yang dipakai Rasti.
Rasti segera menemui Pak Ahmad dan duduk di kursi samping Pak Ahmad, wajahnya murung dan ditekuk ke bawah. Dia tidak mau menatap wajah Pak Ahmad, Rasti sedikit sebal dan emosi karena ucapan Pak Ahmad tidak sesuai dengan kenyataan.
"Bu Rasti marah sama saya?" tanya Pak Ahmad dengan suara pelan.
"Tidak!" jawab Rasti, menggelengkan kepalanya, pelan.
"Bu Rasti mau pulang?" sambung Pak Ahmad lanjut bertanya.
__ADS_1
"Tidak!" sahut Rasti dengan suara lirih.
"Lantas, kenapa Bu Rasti diam saja! Bu Rasti lapar?" tandas Pak Ahmad menatap wajah Rasti yang masih merunduk dan memonyongkan bibirnya.