
"Ma..." terdengar ketukan dari luar ruang praktek bidan Mala.
"Ia sayang...masuk". jawab bidan Mala. kebetulan siang itu pasien sudah selesai di tangani,bidan Mala hanya sedang sibuk mengecek beberapa data pasiennya yang memiliki riwayat penyakit khusus.
setelah mendapat jawaban dari dalam,secepat kilat pintu dibuka dan sosok Airin masuk dengan muka pucat.bidan Mala yang melihat anaknya seperti itu segera memeluk Airin ,"ada apa sayang,kenapa mukamu pucat sekali?".tanyanya. beberapa kali Airin melafazkan istigfar sambil mengelus dadanya. setelah sedikit tenang ia lalu menceritakan apa yang dialaminya.
"kamu kecapekan kali nak...udah tenang dulu ya, banyak-banyak baca doa, berdzikir biar tidak kosong pikiran kamu". bidan Mala berusaha menghibur anaknya. "ia ma, tapi...sepertinya ini pertanda deh ma".ungkap Airin
"hus...jangan ngomong gitu ah". mamanya berusaha mengusir pikiran buruk anaknya
"beneran ma, pas ngelihat itu kok ada yang tersentak dalam hati aku ma, Airin takut akan ada orang dekat kita yang...". belum sempat menyelesaikan ucapannya,bidan Mala segera menutup mulut anaknya dan memberikannya nasehat; "sudah, jangan di ucap lagi. kita sama-sama berdoa semoga seluruh keluarga besar kita dilindungi oleh Allah SWT, Aamiin". meski hati sedikit was-was tapi bidan Mala memperlihatkan sikap tenang dihadapan Airin.
***Berita Duka Lagi.
Disebuah rumah kontrakan yang cukup besar,seorang wanita sedang sibuk memasak makan siang untuk suami dan anak-anaknya. didalam hati terus bertanya kemana gerangan sang suami pergi. karena sejak dari subuh sang suami tidak kelihatan sama sekali. bahkan kalaupun pergi,tidak ada kabar berita sama sekali.
"Ma...ayah kemana sih? kok ga kelihatan?". tanya Dini sang anak yang berusia 12 tahun
"ia sayang,mama juga tidak tahu kemana ayahmu pergi". jawab wanita yang bernama mariam itu
kepada anaknya. ia deh,nanti Dini tanya sama om Burhan,siapa tahu tadi ketemu ayah.
Sore hari Dini bertemu om Burhan teman ayahnya yang tinggal tak jauh dari kontrakan mereka.
"Assalamualaikum Om".sapa Dini
__ADS_1
"Waalaikumsalam Dini,mau kemana?". tanya om Burhan
"Mau ketemu Om. Om lihat ayah ga? soalnya dari tadi pagi ayah ga tahu pergi kemana, mama juga lagi pada nyariin".tanya Dini
"Perasaan tadi pagi -pagi banget usai shalat subuh. ayah kamu om lihat lagi di atap perbaiki genteng,om ga sempet sapa,soalnya om buru-buru mau ke pasar beli belanjaan buat di warung, sejak itu sampai sekarang belum ketemu lagi".ujar om Burhan."terus ayah kemana lagi ya om?". tanya Dini lagi.
"Ya udah,nanti om bantu cariin.kalau ketemu ayahmu, om bakal bilangin kalau kamu nyariin".ucap om Burhan.
"Ayah sih memang sering pergi-pergi lama, apalagi kalau lagi ikut pengajian,bisa berhari-hari jadi musafir. tapi ga pernah ga pamit kayak gini om. Hpnya juga masih di rumah,ga dibawa. Ya udah,minta bantuannya ya om ".tambah Dini
"Ok sip".
Dua hari berlalu,tidak ada kabar sama sekali dari sang ayah yang bernama Akbar. beberapa keluarga yang lain sempat ditanyai oleh sang istri dan anaknya,namun tidak ada petunjuk apapun tentang keberadaannya.tepat dihari itu,pukul 08 pagi. Mariam baru saja selesai menjemur pakaian.ia sendirian di rumah,kedua anaknya sudah berangkat ke sekolah. saat masuk ke dalam rumah dan berjalan ke arah dapur,saat itu mariam hendak membersihkan ikan untuk persiapan makan siang.dari atas atap dapur, tiba-tiba ada tetesan darah yang jatuh ke lantai dan ada bau menyengat seperti bau bangkai tikus. karena suaminya tidak ada di rumah,Bu Mariam menuju ke rumah pemilik kontrakan yang ada di sampingnya.
"Assalamualaikum,Bu Isa".
"Terima kasih Bu". balas Bu Mariam.
"Ada apa mama dini,apa ayahnya dini sudah kembali?".tanya bi Isa
"Belum Bu.justru itu karena tak ada ayahnya dini saya mau pinjam tangga Bu,sekalian mau minta bantuan dek Budi untuk mengecek di atas plafon dapur,soalnya disana seperti ada bau-bau bangkai tikus.darahnya juga ada yang merembes ke lantai".ungkap Bu Mariam
"wah,budinya sudah pergi ke acara temannya pagi-pagi tadi.tapi bapaknya ada kok. ya udah,nanti saya minta bapaknya ngecek kesana sekalian bawain tangganya".ujar Bu Isa
"Terima kasih sebelumnya Bu,saya permisi duluan". Bu Mariam pun pulang kembali ke kontrakan.
__ADS_1
selang beberapa saat, Pak Ipul suami dari Bu Isa datang mengecek ke rumah kontrakan Bu Mariam diikuti oleh Bu Isa dari belakang. Pak Ipul Lalu memasang tangga di sudut dapur yang disana terdapat lubang masuk ke atas plafon rumah yang hanya ditutup triplek. beliau lalu naik ke atas plafon lalu saat membuka lubang plafon,bau bangkai semakin menyengat dan belum sempat pak Ipul melangkahkan kakinya naik ke sisi plafon.betapa terkejutnya beliau.
"Astagfirullahaladzim...". seketika itu pak Ipul merasa lemas.beliau tidak naik dan juga tidak turun,hanya terdiam ditempatnya.
"ada apa pak?".tanya Bu Isa
sesaat pak ipul kembali tersadar ,lalu berusaha untuk memastikan kembali apa yang dilihatnya ,leher yang tergantung kain sarung,mata melotot ,lidah yang menjulur keluar,tubuh yang sudah mulai bengkak dan membiru, mengenali lebih baik lagi sosok yang tergantung di depannya. "Inalillahi wainailahirodziun... Astagfirullah... astagfirullah".ucapnya lagi, setelahnya segera ia turun ke bawah.
" kenapa pak, kok turun lagi?"tanya Bu mariam
"Bu Mariam,..yang sabar Bu" ujar pak Ipul
"sabar kenapa pak? kenapa saya harus sabar?".ucap Bu Mariam sedikit panik. ada yang tersentak dalam hatinya ketika mendengar kata-kata pak Ipul. dengan hati-hati pak Ipul akhirnya menjelaskan apa yang dilihatnya diatas loteng tadi
"Bu Mariam, Pak Akbar ada diatas Bu...sudah meninggal".ungkap pak Ipul
seketika wajah Bu Mariam berubah pucat,ia masih diam mencerna apa yang baru saja diucapkan oleh pak ipul.setelah sadar, iapun berubah histeris dan tiba-tiba jatuh pingsan. segera Bu Isa dan pak Ipul membopong bu Mariam dan memindahkannya ke kamarnya.
beberapa saat kemudian,personil kepolisian sampai di TKP setelah pak Ipul menghubungi mereka.melihat kedatangan polisi,warga masyarakat yang penasaran mulai ramai berkumpul. dan kabar itupun mulai tersebar di masyarakat.para wartawan pun banyak yang datang meliput kejadian tersebut.
Dini yang hari itu masih disekolah bersama adiknya Rian,sengaja belum dijemput dan dititip ke gurunya dulu hingga proses evakuasi selesai. anak-anak tidak boleh mendengar dan melihat keadaan ayahnya yang seperti itu, untuk menghindari trauma pada diri mereka.
Setelah selesai diotopsi dan dipastikan bahwa pak Akbar murni bunuh diri.pak Akbar dibawa pulang dan disemayamkan sebentar di rumahnya.
betapa hancur hati Bu Mariam dan kedua anaknya mengetahui suami dan ayah mereka telah tiada.Dini yang tidak diijinkan melihat jasad ayahnya,hanya menangis memeluk adik laki-lakinya.meski terlihat cukup dewasa karena dia anak tertua,tapi sebagai anak-anak ia tetap saja tidak sanggup jika harus kehilangan ayah yang sangat dicintainya,sedangkan adik kecilnya hanya menatap bingung dan ikut menangis karna melihat ibu dan kakaknya menangis. orang-orangpun tidak ada yang tahu sebab musabab pak Akbar bunuh diri,tidak ada pesan baik lewat secarik kertas ataupun dari dialog dengan keluarga ataupun teman-temannya,dan itu hanya menjadi rahasianya hingga ia meninggal.
__ADS_1
dan jauh disana di kota Jakarta dimana Airin berada. bidan Mala menangis tiada henti mendengar kabar adik sepupu kesayangannya meninggal dengan cara tragis seperti itu,dia tidak pernah menyangka Akbar bisa mengambil jalan pintas. Akbar sudah kehilangan ibunya,dan bidan Mala adalah salah satu kerabat dekatnya yang mau mengasuh dan menjaganya sedari ia duduk di bangku SMP.
lagi-lagi berita duka itu datang, setelah sebelumnya Airin sang anak menceritakan apa yang dilihat dan dirasakannya.