Bukan Indigo

Bukan Indigo
Ada Apa Di Rumahku? 5


__ADS_3

Pov Siska


Beberapa waktu terakhir merasakan perasaan aneh, teman-teman entah mengapa selalu berkomentar melihat seseorang selalu bersamaku dan wajahnya hampir mirip denganku. dan beberapa hari terakhir juga aku merasakan kurang enak badan,seperti ada sesuatu yang salah dengan tubuhku.teringat cerita ibu semalam bahwa aku pernah dikerjai orang dengan sihir sewaktu aku masih kecil dan baru berusia 3 tahun. sebenarnya orang itu ingin mencobai ayah dan ibu, namun karena kondisi ayah dan ibu kuat, jadi yang terkena sasaran adalah aku yang bayi yang kata orang keadaannya memang rentan terhadap segala penyakit baik medis maupun disebabkan oleh hal gaib.Ayah lalu meminta gurunya yang bernama Dae Jaimin untuk membuat perisai ditubuh kami bersaudara. dan perisai itu ternyata adalah sosok tertentu atau yang akan selalu mengawasi dan muncul jika kita sedang dalam kondisi bahaya.sekarang aku meyakini, jika akan terjadi sesuatu kepadaku dan meyakini juga bahwa sosok yang terlihat bersamaku itu adalah penjagaku yang diberikan oleh Dae Jaimin.


"Sayang,kamu ngapain ngadem terus di kamar?" tiba-tiba ibu memanggil membuatku tersadar dari lamunan.beliau mungkin penasaran karena aku dari tadi pagi selesai mandi tidak pernah lagi keluar kamar." kamu nggak kerja? ayo nak,nonton kek, duduk ngobrol apa gitu sama ibu". panggilnya lagi.


aku memutuskan keluar kamar "nggak masuk bu, aku sudah minta ijin sama bos. nggak tahu ini bu, badan aku kok nggak enak". jawabku.


ibu lalu memegang dahiku "nggak panas kok".ujarnya.


"Iya, tapi tetap saja nggak enak".jawabku lagi.


" ya udah, ayo sini ibu pijitin". ibu lalu mengambil minyak hangat yang biasa untuk pijit lalu memintaku berbaring di sofa.ibu lalu mulai memijit punggungku,tangan hingga ke kaki. ibu memang seperti itu,selalu perhatian.


"mungkin kamu masuk angin". katanya


"iya kali bu".ucapku.


Setelah dipijit ,ibu lalu menyelimuti tubuhku.sambil menyalakan TV,beliau juga ikut duduk menonton TV sambil sesekali membelai rambutku.


" Bagaimana pekerjaanmu?". tanya ibu.


"Alhamdulillah Bu, Teman-teman pada baik,bos nya juga baik banget".jawabku.


"Syukurlah. tunjukkan dedikasi,apapun pekerjaanmu. kita mencari keridhoan Allah nak. Rejeki yang halal dan keridhoan Allah. InsyaAllah berkah".ujar ibu


"Juga Keridhoan ibu dan ayah. Kalau ayah ibu ridho, InsyaAllah Allah ridho. lagian tadi juga udah minta ijin sama bos juga sama mbak wina".jawabku.


"Aamiin, anak Pinter...".Kata ibu sambil mencubit pipiku.aku menanggapi dengan tertawa

__ADS_1


"oh ya bu, kok mata kakiku kayak melepuh ya bu".laporku


"Melepuh kenapa? kena api kena cacar atau gimana.kalau kena cacar kan kamu sudah pernah". cecar ibu.


"nggak tahu ya bu.pas bangun tidur tadi pagi udah begini. kayak kebakar kena api".ujarku


ibu lalu memeriksa kakiku. "iya ya, kayak melepuh. kamu ga nginjak rokok atau apa gitu?". tanya ibuku lagi.


"Ga ada bu,jalan yang kulalui mulus-mulus saja seperti mulusnya hati ibu pada ayah".jawabku sekenanya


"Ah, hati ibu nggak mulus-mulus amat".  lah kan,jadi bahas hati ibuku. aku dan ibu akhirnya tertawa lagi.


" Ya sudah, pakein Minyak Tawon saja, nanti pasti sembuh kok. minum obat paracetamol kalau rasakan nyeri".pesan ibuku


"Sip Ibu kesayanganku yang baik hati, tidak sombong,rajin masak".pujiku. ibu hanya menunjuk dahiku sambil bilang " modus".


***


tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu dibawah kakiku yang membuat aku merasakan geli. karena penasaran dan tidak tahan aku lalu membuka kain selimut yang menutupi tubuhku. dibawah sana, dari dalam kakiku yang melepuh sedang mengeluarkan sesuatu yang bergerak-gerak.setelah aku perhatikan, itu adalah semacam belatung besar. bukan hanya satu yang dari dalam ini saja, tapi satu belatung lagi ternyata sudah berada di sepraiku. aku berteriak panik karena merasa takut dan juga geli.teriakanku terdengar oleh ayah dan ibu, mereka terbangun dan segera menuju ke kamarku, ibu yang panik segera menghampiri, belum sempat  ibu mencapai tempat tidurku, aku segera melarang ibu mendekat, karena aku tahu ibu geli dengan cacing,ulat dan sejenisnya itu.


"jangan mendekat dulu bu. ayah tolong".kataku.


ibu segera berhenti dan gantian ayah yang mendekatiku


"ada apa nak". tanya ibu dan ayah serentak


"Lihat disepraiku, dikakiku". jawabku sambil menunjuk ke arah belatung-belatung itu berada.


ayah dan ibu sama-sama memandang ke arah yang aku tunjuk, ibu langsung mundur dan menutup matanya, merasakan perut dan tubuhnya geli melihat belatung itu.sedangkan ayah sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya.

__ADS_1


"Kenapa bisa begini?" tanya ayah.


Ayah segera pergi mengambil kain putih dan penjepit. setelahnya beliau lalu mengambil belatung-belatung yang keluar dari kakiku.ternyata jumlahnya ada tiga.belatung-belatung itu terus bergerak-gerak di kain putih yang membuat aku mual dan semakin geli membayangkan jika masih ada belatung di kakiku.


"Ayah, coba lihat lagi, apa masih ada di kakiku". pintaku pada ayah


ayah mengecek kakiku dan berkata " sudah tidak ada. sudah, ayah obati kakimu dulu". kata ayah sambil membaca sesuatu lalu meniupkan di tangannya yang kemudian ia usapkan di kakiku.


Setelahnya, ayah lalu membawa belatung-belatung itu keluar rumah lalu membakarnya, namun ternyata belatung-belatung itu tidak terbakar.kemudian beliau mencoba memukulnya dengan kayu dan batu, namun lagi-lagi kayu atau itu seperti terpental,Astagfirullah. Ayah mulai merasakan hal yang tidak beres. sedangkan aku yang berada didalam kamar terus merasakan kakiku seperti kepanasan dan terbakar,lalu merasakan kakiku seperti dipukuli.ibu yang menemaniku dan melihat keadaanku dilanda kepanikan.ibu kemudian pergi menemui ayah dan menceritakan keadaanku.ayah segera kembali menemuiku dan kembali memeriksa keadaanku.


"ada apa nak?" tanya ayah


"Nggak tahu pak, tadi kakiku seperti terbakar dan terasa panas sekali.kemudian terasa sakit seperti di pukuli".jawabku


"Astagfirullah, lalu sekarang bagaimana?" tanya ayah


"sudah hilang, tidak terasa lagi".jawabku lagi.


Setelah berpikir beberapa saat,ayah yang penasaran lalu membuka kembali belatung di kain putih yang dibawanya.kemudian ia mulai memelintir belatung itu dengan penjepit.lagi-lagi aku merasakan sakit yang luar biasa. melihat aku kesakitan, ayah lalu berhenti dan kembali mengucap istigfar."Astagfirullahaladzim, siapa lagi yang punya kerjaan ini? Ya Allah lindungilah keluargaku". Do'a ayah.


"Apakah sebelum ini,kamu merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhmu?" tanya ayah


"Badan selalu sakit yah,tapi beberapa hari yang lalu beberapa teman selalu berkomentar kalau melihat sosok yang selalu mengikutiku, katanya wajahnya mirip denganku". kataku


"Ayah juga selalu melihat sosok itu selalu ada disampingmu setiap saat,ayah sudah menduga akan terjadi sesuatu.hanya saja tidak berpikir akan begini,ayah bahkan tidak mendapat penglihatan apa-apa karena biasanya ayah akan diperlihatkan lewat mimpi. itu mungkin tandanya orang yang ingin mencelakaimu adalah sosok yang kuat dan berbahaya".ungkap ayah." tapi kenapa?". ayah berbicara tapi lebih kepada dirinya sendiri.


" lalu, sejak kapan kamu memiliki luka dikakimu?. tanya ayah lagi kepadaku


" baru tadi pagi yah,Siska mendapati kaki Siska

__ADS_1


Ayah lalu menelepon rekannya yang juga merupakan murid dari Dae Jaimin.perlu diketahui bahwa Dae jaimin sudah meninggal 5 tahun yang lalu karena sakit ginjal yang dideritanya selama 2 tahun lamanya begitu juga guru Ayah yang bernama ustad Ahmad, beliau juga telah meninggal 4 tahun yang lalu karena terjatuh saat hendak mengambil wudhu di waktu subuh, karena mungkin beliau sudah sepuh, beliau tidak bisa menjaga keseimbangannya.


Sekarang ayah hanya bisa berkonsultasi dengan bang Faiz selaku murid dari Dae Jaimin.ayah lalu menceritakan hal yang terjadi padaku dari A sampai Z. bang Faiz berjanji akan datang Esok hari.


__ADS_2