
Keesokan harinya ketika hari sudah hampir sore, bang Faiz benar-benar datang ke rumah.terlihat dari perawakannya, ia masih berusia muda yaitu sekitaran 35 tahun, beliau datang bersama saudara sepupunya yang bernama Iksan yang usianya terlihat lebih muda darinya. ketika masuk kedalam rumah,beliau sudah merasakan hal yang tidak baik.setelah berbincang sedikit dengan ayah dan ibu, beliau lalu berkeliling mengitari rumah.beliau lalu mengambil bungkusan putih berisi belatung yang dimasukkan ayah ke dalam toples,saat beliau menyentuhnya dengan do'a-do'a aku merasakan tubuhku gemetar.beliau lalu meremas bungkusan kain itu,membuat tubuhku kembali merasa di remas dan membuatku sesak napas. beliau lalu melepaskan remasannya,setelah itu baru aku merasa lega.kemudian beliau berkata " Kita akan selesaikan malam ini". beliau berjanji akan menuntaskan apa yang terjadi padaku malam ini.dengan kata lain beliau akan tetap di rumahku hingga esok hari untuk mengobatiku.
Saat malam tiba,waktu menunjukkan pukul 19.00 dan sebentar lagi akan memasuki waktu Isya.kembali aku merasakan dadaku seperti bergemuruh,takut akan apa yang terjadi nanti ,semua campur aduk.aku lalu memeluk ibuku. ibu memberi kekuatan padaku "kamu tidak boleh sering melamun dan lupa,banyak-banyak berdzikir. jika jiwa dan iman kamu kuat,tidak seharusnya hal seperti ini terjadi sama kamu".ucap ibu. aku hanya mengangguk.
saat azan Isya berkumandang, bang Faiz lalu mengajak kami untuk shalat berjamaah,kebetulan semua saudaraku datang ke rumah.usai shalat berjamaah,kami melaksanakan dzikir bersama dan mendoakan keselamatan kami sekeluarga.
Setelah shalat dan dzikir bersama,bang Faiz lalu mulai melakukan aksinya. pertama-tama beliau berdiri di depan pintu masuk rumah menghadap ke dalam rumah,lalu terlihat berkomat - kamit membaca do'a. ditangannya ada satu buah tasbih dari kayu gaharu.di belakang beliau berdiri,sudah bertumpuk kayu dari pohon kusambi yang memang beliau bawa dari rumahnya. kayu kusambi ini adalah batang kayu dari pohon buah kusambi. yang terkenal tahan lama jika dijadikan arang atau kayu bakar.beliau lalu meminta kepada saudara sepupunya untuk membuat perapian dengan kayu kusambi itu di samping rumah.disisi lain salah satu abangku sibuk mempersiapkan cangkul dan sekop untuk menggali tanah.
__ADS_1
Bang Faiz lalu menunjuk ke arah kolong tangga rumah yang terbuat dari kayu, lalu meminta seseorang untuk menggali tanah dibawahnya. abangku yang nomor tiga menggali tanah tersebut, baru berjarak 15 cm, ditemukan kain kafan yang sudah kusam terikat benang.setelah di cek,di dalam kain kafan itu berisi paku,tanah kuburan,belatung,tulang entah tulang manusia atau binatang yang didalamnya berisi serbuk putih seperti bau belerang.ayahku lalu memasukkan kain itu ke dalam toples bersama belatung yang keluar dari lukaku kemarin.
Selanjutnya bang Faiz berjalan masuk ke dalam rumah beliau lalu menunjuk pada kayu penyangga rumah.disana beliau sendiri yang mencongkel kayu tersebut dengan pisau lipat kecil yang dibawanya,hingga pada salah satu sisi kayu tersebut membentuk seperti sebuah lubang kecil. dari dalam lubang itu, keluar belatung dan kain pengikat tali pocong yang sudah kusam."Astagfirullah.tega sekali yang melakukan ini".kata ayah. kembali benda-benda dimasukkan ayah ke dalam toples kaca yang dibawanya. selanjutnya di samping rumah, tepatnya di kumpulan pohon pisang di samping kamar ayah dan ibu.di tempat ini, bang Faiz justru meminta parang kepada abangku. setelah mendapatkan parang, beliau lalu menebang pohon pisang itu.dan dari dalam batang pohon pisang itu, keluar darah yang berbau amis.beberapa orang yang ada disana terkena semburan darah itu termasuk bang Faiz dan ayahku.aku yang menyaksikan kejadian itu melalui jendela dari kamar orangtuaku, merasakan tubuhku menggigil ketakutan. ibuku dan kakak-kakak perempuanku memegangi tubuhku dan membacakan serta memperdengarkan ayat-ayat suci Al Qur'an.
bang Faiz lalu meminta agar semua batang pohon pisang tersebut seluruhnya di masukkan ke dalam karung untuk di buang.setelah beres, bang faiz lalu meminta agar siapa saja yang terkena cipratan tadi untuk segera mengganti pakaian dan mengambil air wudhu,semua pun bubar dari tempat itu untuk membersihkan diri mereka. setelah semua membersihkan diri, kami semua berkumpul di perapian yang dibuat dari batang pohon kusambi tadi,selanjutnya segala sesuatu yang ditemukan tadi baik kain kafan,belatung,paku dan segala macamnya di buang dan di bakar ke dalam api yang menyala. aku berteriak histeris karena merasa kepanasan dan seperti terbakar setiap kali barang - barang sihir itu dilemparkan ke dalam api.tubuhku meronta seperti tak terkendali.saudara-saudaraku memegangi tubuhku dan disaat yang sama saat aku merasakan kepanasan itu, satu sosok yang mirip denganku itu berdiri dihadapanku,ia menangis seakan merasakan juga sakitku.ia lalu memeluk tubuhku,aku merasakan tubuh ku yang panas berubah dingin dan sejuk,perasaan panas berganti dingin, berganti kembali panas begitu terus menerus silih berganti,dan sosok itu terus saja memelukku dan aku merasakan ia membelai rambutku seakan berusaha menenangkan hatiku.bang faiz lalu membacakan do'a-do'a dan meminta ibuku untuk menyapu seluruh tubuhku dengan air itu,kemudian memintaku untuk meminumnya. beberapa saat kemudian aku jatuh tak sadarkan diri.
Pukul 03.00 dini hari. aku bangun entah dari tidur atau mungkin terbangun dari pingsanku, karena sesungguhnya aku sudah tidak tahu apa yang terjadi kepadaku setelah peristiwa tadi malam itu. lalu aku melihat ibu dan kakak keempatku sedang tidur disampingku di dalam kamar,sedangkan diluar terdengar suara banyak orang yang sedang berdzikir. aku lalu bangun dan duduk,ibu segera sadar ketika aku bangun. ia mengucapkan syukur melihat keadaanku .ibu lalu keluar memanggil ayah,kemudian ayah dan bang Faiz masuk ke dalam kamar. bang Faiz kembali mendoakanku. selanjutnya ia mengajak kami semua untuk pergi bersama-sama ke pantai guna memandikanku.pantai yang dipilih adalah pantai yang memiliki gelombang yang besar seperti laut selatan dan pantai itu ternyata dekat sekali dengan tempat tinggal bang Faiz yang harus di tempuh selama 3 jam.
__ADS_1
Kami semua akhirnya berangkat ke pantai,namun sebelum itu semua ,kami singgah di sebuah sungai karena abu sisa pembakaran semalam serta batang pohon pisang harus dilarung di sungai yang memiliki 3 cabang yang bermuara di tempat yang berbeda , dengan maksud agar abu dari barang sihir yang sudah di bakar itu bisa terpencar dan tidak bisa menyatu lagi,begitu menurut kepercayaan orang - orang di tempatku.usai membuang semua itu, kami lalu melanjutkan perjalanan ke pantai yang kami tuju. sesampai disana, aku dimandikan di gelombang pasang pantai selatan.setelah di ombang ambing oleh air laut,aku merasakan perutku mual. setelah berada di luar, aku baru memuntahkan semua isi perutku. kata bang Faiz itu lebih baik, karena dengan begitu InsyaAllah aku akan sembuh karena semua proses sudah dijalani.
Sepulang dari pantai, kami singgah di rumah bang Faiz yang kebetulan bang Faiz tinggal di sebuah perkebunan kelapa yang tak jauh dari pantai, sekalian rekreasi katanya. Bang Faiz sekeluarga menyiapkan banyak makanan untuk menjamu kami semua, bahkan beberapa tetangga bang Faiz yang kebetulan nelayan datang bergabung dan membawa ikan - ikan besar segar seperti Tuna dan sebagainya untuk dibakar dan dimakan bersama, suasana sangat kekeluargaan sekali.
Bang Faiz lalu bercerita jika ada orang yang iri dan cemburu kepadaku, karena aku banyak yang menyukai.dia juga tidak suka jika pimpinanku terlalu memperhatikanku. bang Faiz tidak memberitahu tentang siapa orang itu, beliau hanya berpesan agar aku bisa menjaga sikapku di tempat kerja, menguatkan imanku dan membentengi diri dengan rajin melakukan ibadah."tidak perlu membalas perbuatan orang yang jahat pada kita dengan cukup bentengi diri dengan perbuatan baik dan ibadah yang banyak".katanya, kami sekeluarga mengamini semua pesannya itu.
Setahun berlalu.aku benar- benar telah sembuh dari sakitku, dan aku benar - benar mendalami agamaku dengan lebih baik.tibalah saat yang membuat aku tak bisa berkata apa-apa. bang Faiz yang dulu membantu proses penyembuhanku datang bersama keluarganya untuk melamarku,meski sebelumnya di antara kami tidak ada hubungan apapun selain guru dan pasiennya namun keluarga kami memang sudah saling mengenal dan akrab. dan dalam hal ini, ayah lah yang tampak paling antusias.beliau sangat yakin, bang Faiz bisa jadi suami yang baik untukku. aku yang sudah mengenal kepribadian bang Faiz juga tak berniat menolak.
__ADS_1
Acara pernikahan kami berlangsung khidmat,dihadiri oleh seluruh anggota keluarga yang turut mendoakan kebahagiaan kami. kami saling berjanji untuk saling menjaga dan menguatkan dalam suka dan duka.