Bukan Indigo

Bukan Indigo
Ada Apa Di Rumahku? 2


__ADS_3

Sore hari menjelang magrib.aku membantu ibu membereskan bahan-bahan untuk pembuatan jamu yang dijemur di samping rumah.ibu memang hobi membuat jamu tradisional, jika sudah dibuat,ibu akan membagi - bagikan kepada beberapa tetangga dan kerabat,dan untuk kami sebagai anak-anaknya harus mendapat jatah jamu setidaknya 1 gelas.beberapa saat kemudian,azan magrib berkumandang.saat itu ibu hendak menutup jendela rumah, kebetulan rumah kami adalah rumah panggung dari kayu.jendela rumah kalau dilihat tingginya melewati atap kamar mandi yang memang dibangun dengan semen.saat ibu melangkah menuju ke jendela yang masih terbuka, saat itu aku berdirinya di belakang ibu dan menghadap ke jendela juga. tiba-tiba aku melihat sesuatu yang berwarna putih terbang melesat secepat kilat kalau aku bilang, ia terbang melintas diatas atap kamar mandi rumah. awalnya aku kira itu burung merpati yang berwarna putih, tapi kok ukurannya besar dan terbangnya cepat banget,hampir seperti bayangan.aku cepat-cepat berlari ke jendela dan memastikan apa yang aku lihat, hasilnya tidak ada apa-apa.tidak ada tanda-tanda apapun entah itu burung atau benda apapun disekitar itu yang berwarna putih cerah seperti yang aku lihat barusan. ibu aku terkejut melihat reaksi aku. ibu bertanya "kamu kenapa sih nak? bikin terkejut ibu saja".


"ibu tadi lihat nggak yang terbang depan jendela tadi?" tanyaku balik


"ibu nggak lihat apa-apa". jawab ibu "memang kamu lihat apa?" tanya ibu balik


"tadi ada yang putih-putih terbang di atas atap kamar mandi bu, cepat banget terbangnya".ceritaku


ibu sepertinya mengerti, lalu ia segera memerintahkanku untuk segera menutup jendela rumah.


"Ya udah, nggak usah dipikirin. tutup jendelanya udah magrib ini".ujarnya.


Malam harinya kakak pertamaku Kak Min bersama suaminya dan kakak keempatku Kak Rosna sendiri tanpa suami datang berkunjung ke rumah, kebetulan malam itu adalah malam minggu, jadi mereka bertiga berencana menginap di rumah.saat itu sudah pukul 9 malam,semua pintu rumah bagian belakang,jendela semua sudah ditutup dan dikunci olehku.hanya pintu dan jendela kaca depan saja yang terbuka,gerbang depan hanya dikunci dengan besi dan belum digembok.kak Rosna sudah tidur lebih dahulu di kamar bekas kamarnya dulu.aku sedang menemani ayah dan ibu yang sedang makan malam,sedangkan kak Min lagi asyik duduk bersama suaminya dikamar tamu sambil mencabut uban suaminya. saat itu suasana sedikit gerimis, tiba-tiba dari arah samping kanan rumah yang menuju ke pintu belakang ke arah dapur ada yang menegur kakak dan suaminya


"asik sekali duduknya,permisi ya". suara itu sangat lembut dan suara itu sama persis dengan suara kak Rosna.


kak Min lalu membalas teguran itu "ia Ros,kamu darimana?".


tidak ada jawaban. kak Min kembali memanggil 'Ros...Rosna...kamu darimana?". masih tidak ada jawaban.

__ADS_1


Kak Min dan suaminya akhirnya turun dari rumah, mereka tidak melihat siapa-siapa.mereka berjalan ke gerbang samping yang menuju ke dapur,sudah dikunci.mereka mengecek lagi pintu gerbang depan rumah, kalau ada yang membuka pintunya pasti kedengaran karena gerbang terbuat dari besi dan berat. mereka berdua saling memandang lalu naik ke atas rumah untuk mengecek keberadaan kak Rosna. mereka lalu medapati kak Rosna sudah tidur pulas. mereka lalu bertanya padaku dan ibu yang ada di dapur " Sis,Bu.Lihat Rosna masuk lewat dapur sini?".


"Nggak ada, orang pintunya udah Siska kunci dari tadi magrib, kak Rosna lagi tidur  di kamarnya".Jawabku


Kak Min dan suaminya semakin heran, terus cerita tentang apa yang mereka alami tadi. Ayah hanya menasehati " mungkin memang mereka yang numpang neduh,diluarkan gerimis mau hujan. baca-baca saja doa dan pintu depan ditutup saja biar mereka nggak neduh didalam".seketika mendengar kata-kata ayah,aku dan juga kak Min langsung mengangkat kedua tangan kami dan merasakan semua bulu ditangan berdiri, " Merinding aku" kata Kak Min.


Akhirnya pintu depan ditutup oleh suami kak Min.kami semua memilih duduk diruang tamu.baru beberapa saat kami duduk,dari depan gerbang terdengar suara pintu gerbang dibuka dan ada yang mengucap salam.


"Assalamualaikum".


"Waalaikumsalam". Kami menjawab serentak. aku lalu membuka pintu dan menemukan tetangga kami mbak Asma ada di depan pintu.


"Mbak As, Mari Masuk Mbak". Kataku mempersilahkan


"Inalillahiwainailahirojiun,kapan mbak?". tanyaku


"Baru tadi, tiba-tiba sesak napas terus meninggal".cerita mbak asma


"Ya Allah,Makasih ya mbak infonya.nanti kita kedepan".kataku

__ADS_1


"iya Sis, mbak balik dulu".pamit mbak Asma


"Sekali lagi makasih mbak".ucapku


"Ia sama-sama" balas mbak Asma.


aku kembali menutup pintu rumah dan menyampaikan kabar duka kepada ayah dan semua yang ada dirumah.


kak Min langsung berasumsi sendiri " Inalillahiwainailahirojiun, jangan-jangan mbak Munah yang negur kita buat minta pamit".


"Hus, ga baik ngomongin orang meninggal". ibu menimpali.


"Bukan begitu bu, hubungan aku sama  mbak Munah kan bisa dibilang dekat, dia dulu yang ngasuh anakku Agam.akukan cuma berasumsi karena memang waktunya berdekatan dengan kejadian tadi".sewot kak Min


"benar tidaknya ,ga usah disebut lagi". jawab ibu.


setelah mendengar kabar itu, kami semua melayat kedepan rumah,kak Rosna juga yang sudah tidur kami bangunkan agar bersama-sama ke rumah mbak Munah sekalian bantu-bantu mempersiapkan segala sesuatu untuk penyelenggaraan jenazah.


Esok harinya jenazah mbak Munah dikuburkan usai shalat Dzuhur, menunggu anak-anaknya yang saat itu kuliah diluar kota. Agam Anak Kak Min juga yang bekerja diluar kota turut hadir menyaksikan ibu asuhnya dimakamkan.justru dia yang menjemput anak-anak mbak Munah untuk bersama- sama pulang dan mengantar mbak Munah ke peristirahatannya yang terakhir.

__ADS_1


Setelah acara pemakaman, kami dan beberapa tetangga dan warga membantu keluarga mbak Munah terutama anak-anaknya untuk acara doa, karena memang mbak Munah terlebih dahulu telah kehilangan suaminya karena kecelakaan beberapa tahun yang lalu sehingga sekarang anak - anaknya telah menjadi anak yatim piatu.kewajiban kami tetangganya lah yang membantu meringankan beban mereka. dan Agam anak Kak Min sudah berjanji akan membantu biaya kuliah anak -anak mbak Munah sampai selesai dan siap untuk bekerja.


Warga dikampung kami orang-orangnya terkenal suka bergotong royong dan saling membantu. hampir tak ada yang merasa kesusahan. ada acara apapun, jika harus menggunakan kendaraan, mereka siap menyiapkan kendaraan, jika butuh bahan makanan, mereka siap mengumpulkan bahan makanan.begitu juga dengan yang dilakukan pada keluarga mbak Munah ini.


__ADS_2