Bukan Indigo

Bukan Indigo
Ada Apa Di Rumahku? 1


__ADS_3

Namaku Ana, aku mau sedikit bercerita tentang rumah yang aku tempati saat ini .Rumahku adalah rumah kayu yang dibangun oleh ayah dan ibu saat mereka masih muda, saat kedua kakek dan nenekku baik dari pihak ibu dan pihak ayah sama-sama masih hidup dengan kata lain,rumah ini adalah rumah tua yang berumur lebih dari setengah abad sesuai usia kakakku yang nomor dua.karena ayah dan ibu pindah ke rumah ini ketika kakak kedua baru lahir.


Rumah ini sudah beberapa kali direnovasi, dan tetap mempertahankan bentuknya dari dulu.rumah ini juga menyimpan banyak kenangan,rumah ini seperti panti untuk orang-orang tua. ibuku sangat perduli dengan orang tua ,mertua bahkan bibi pamannya bahkan saudara-saudaranya.jika mereka jatuh sakit,maka ibu akan menjemput mereka untuk dirawat di rumah dan beberapa dari mereka meninggal di rumah ini.beberapa saudara dan keponakan-keponakan dari kampung juga hampir semua pernah tinggal dirumah ini,biasanya mereka kesini untuk melanjutkan studi mereka di kota ini.ayah juga tidak keberatan,justru beliau bangga dengan aktivitas mulia ibu.


Ayahku adalah mantan guru dan juga mantan pejabat di sebuah kota di NTB. sedangkan ibu adalah seorang ibu rumah tangga yang sangat berdedikasi pada keluarga.kami adalah sembilan bersaudara, dan bagi orang-orang yang punya banyak saudara akan tahu bagaimana serunya saling berebut mainan,makanan,pakaian,apalagi kalau umurnya hampir sama,bisa diajak main bareng,ditambah lagi dengan adanya sepupu-sepupu yang tinggal di rumah,rame banget pokoknya.


aku adalah anak bungsu, hampir semua saudaraku yang nomor satu sampai delapan jarak umurnya satu,dua atau tiga tahun.tapi beda denganku,jarak usiaku dengan kakakku nomor delapan hampir terpaut 8 tahun,aku sering bilang ke ibu "Bu,sepertinya aku anak yang tidak diharapkan deh,lah ibu saja tak tahu sedang hamil aku".kataku,dan ibu hanya menjawab "bukan tak diharapkan nak,justru kamu itu rejeki tak terduga,rejeki nomplok,tiba-tiba saja lahir". dan aku menimpali jawaban ibu dengan tertawa.


Setelah hampir semua saudaraku memutuskan untuk menikah dan tinggal sendiri,otomatis di rumah hanya tersisa aku sendiri yang menjaga ayah dan ibu yang sudah tua. rumah menjadi sepi,kamar-kamar yang dulu sesak,kini tak berpenghuni.dan aku akhirnya bebas memilih kamar mana yang aku suka.


Kebetulan kamar yang aku pilih adalah kamar paling ujung ,paling belakang dekat dapur.karena kamar ini adalah kamar yang tenang,sepi,tak terdengar suara hingar bingar kendaraan dari depan jalan raya. dulu kamar itu adalah kamar abangku yang nomor 7.setelah abangku membangun rumahnya sendiri dan pindah,kamar itu terisi oleh saudara sepupuku yang melanjutkan SMAnya,namun setelah lulus,ia melanjutkan kuliah di pulau Jawa,dan kamarnya setelah kosong kini aku yang tempati.di belakang kamar ini terdapat halaman belakang yang ditanami pohon jambu dan pisang, disudut barat halaman ada dua buah kandang ayam peliharaan ayah. ayah suka memelihara ayam ,katanya sih untuk dikonsumsi kalau tidak ada lauk lain. walaupun proses pemotongannya harus mengsedih (bahasa konoha wkwkwkw) dulu saking sayang dan kasihannya sama ayam peliharaannya.

__ADS_1


Menurut cerita ayahku,area lingkungan rumahku ini dulunya adalah bekas aliran sungai yang sudah kering dan tidak ada lagi air yang mengalir ,oleh karenanya ramai penduduk membangun pemukiman disana.jadi wajar dibelakang rumah masih terlihat sisa-sisa dari ceruk air sungai tersebut walaupun halaman belakang sudah dipagari.


Dulu ibu sering bercerita,jika setiap malam nenekku selalu membakar sampah dibelakang rumah,tepatnya di belakang kamar yang aku tempati,katanya sih untuk mengusir nyamuk. saat kegiatan bakar sampah ini,akan selalu ada sosok-sosok yang lewat mengganggu aktivitas nenek.kadang yang terlihat hanya kakinya yang bengkak dan bernanah juga berbau,kadang hanya tangannya saja yang melambai,kadang ada cewek yang duduk di cabang pohon jambu sambil mengayunkan kaki. nenekku hanya mengomelinya saja "kalau lewat ya lewat saja,ga usah usik-usik,ga usah ganggu-ganggu,ga usah singgah lama-lama,disini bukan rumah kamu,pindah-pindah".katanya. dan wallahualam,menurut ibu mereka langsung hilang saat sudah diomeli begitu sama nenek.


saat pindah ke kamar belakang ini juga, saudara-saudaraku yang datang berkunjung sering menasihati "ngapain kamu pindah kamar belakang,ga serem kamu?".kata mereka, "lagian jauh dari kamar ayah ibu,kalau mereka ada apa-apa ya kamunya ga kedengaran".protes kakak cewekku yang nomor empat. kadang aku suka nyolot juga jawabnya " ye..siapa suruh pada jauh-jauh,makanya tinggal sini aja lagi,biar rame".


mereka paling hanya menjitak kepalaku sambil bilang "dasar".


Keesokan harinya aku menceritakan apa yang aku alami ke ibu, ibu hanya bilang " oh,Dia cuma mampir,dia tidak tinggal disini kok".


lalu aku menjawab " ya walaupun cuma mampir tapi serem bu".

__ADS_1


"Makanya baca-baca doa sebelum tidur,jangan lupa ambil wudhu". ujar ibu


"ia bu" jawabku


"terus, masih berani tidur di kamar itu?" tanya ibu lagi


"kan ibu bilang cuma lewat, ya udah. ga apa-apa aku tetap disitu".putusku.


"Ya Sudah kalau gitu, lanjut saja".


Aku hanya menceritakan apa yang aku alami pada ibu, aku tak mau kakak-kakakku akan menakuti terus-terusan dengan hal gaib lainnya. sudah tahu kalau mereka memang rada-rada usil bin jail.

__ADS_1


__ADS_2