
Mendadak Muezza terpaku di tempat saat matanya menangkap sepasang mata yang berwarna cokelat tengah menatap dirinya. Sepasang manik cokelat itu menenggelamkannya dalam tatapan elang yang siap memangsa buruannya, setiap gerak tubuh lelaki itu terasa mengintimidasi membuat seorang Muezza bergetar sekaligus takut.
Bahkan Muezza merasa menjadi buruan empuk saat ini dan Alun adalah elangnya. Karena kegusarannya Muezza memejamkan mata dan kepalanya mengangguk seakan menguatkan diri untuk menghadapi situasi ini, yang sulit dia jabarkan dengan kata-kata.
Aku bisa! Tidak mungkin dia akan melakukan hal buruk terhadapku.
Ketika kelopak matanya terbuka dia menyadari bahwa sosok pria yang duduk di jok belakang sudah menghilang entah ke mana.
“Ke mana dia pergi? Bukankah, tadi ... dia berada di sini?” tanyanya pada dirinya sendiri.
Gadis itu kembali dikejutkan oleh suara debaman pintu mobil yang ditutup.
“Astagfirullah!” ucapnya sambil memegang dada.
“Kenapa kamu terkejut?” ujar Alun sambil meletakkan sekantung plastik makanan di jok belakang.
Bukannya menjawab pertanyaan Alun, Muezza malah melontarkan pertanyaan.
“Kapan Abang keluarnya?” Penuturan Muezza membuat lelaki itu kebingungan.
“Apa maksudmu,? ‘kapan aku keluar' bukankah tadi aku berpamitan?” tanyanya seraya menyodorkan minuman untuk gadis itu.
Muezza mengambil cup minuman itu sambil berpikir.
Apa aku sudah tidak waras? Jelas-jelas tadi dia menanyakan hal aneh kepadaku. Jangan bilang kalau aku tadi berkhayal! Gerutunya tidak terima.
Ah, yang benar saja, Muezza! Teriak gadis itu dalam hati.
Gadis yang memiliki tahilalat di ujung hidung tersebut membuang muka dengan mata yang terpejam, dia benar-benar malu akan pertanyaan konyol yang tadi dia lontarkan.
***
Awan di atas langit sangat cantik, secantik manisan kapas yang dijual di pinggir jalan. Muezza yang masih Bergelung selimut dikejutkan dengan suara alarm jam bekernya yang sudah berdering ke sekian kalinya.
Kelopak mata indah itu terbuka melihat angka yang ditunjukkan oleh jarum jam.
“Ya Allah ...!” teriaknya dengan mata yang melotot tidak percaya.
Tanpa menghiraukan tempat tidurnya yang berantakan, Muezza keluar kamar menuju kamar mandi. Dia tidak mandi dengan benar, pokoknya gadis itu membasahi tubuhnya sekenanya lalu dia kembali ke dalam kamar untuk bersiap-siap pergi ke tempatnya bekerja.
__ADS_1
Rahma hanya memandangi tingkah anak gadisnya yang berlarian ke sana kemari, tanpa bertanya apa yang tengah dia lakukan?.
Saat gadis itu mengenakan sepatu, barulah Rahma mendekat dan bertanya dengan suara lembut.
“Kakak mau ke mana? Kenapa buru-buru sekali?”
“Ini hari pertama Mue masuk kerja, Bun.” Masih sibuk mengikat tali sepatu.
“Kakak kerja di mana? Kok enggak cerita sama bunda dan ayah,” tegur Rahma terkejut mendengar pernyataan anaknya.
“Maafkan Mue, Bun! Mue lupa kasih tahu bunda dan ayah. Kemarin Mue pergi melamar kerja diantar Vita,” bebernya sambil merapikan rambut panjang yang dia ikat seperti ekor kuda.
“Lalu, sekarang mau naik apa? Ayah sudah berangkat ke mebel,” tanya Rahma setelah ber-oh mendengar penjelasan anak gadisnya.
Muezza memasang wajah jengah selepas mendengar ayahnya telah pergi.
“Naik angkot aja deh, Bun. Enggak mungkin Mue telepon ayah suruh nganter Mue,” putusnya sambil berlari.
Karena terburu-buru gadis itu lupa mengucapkan salam. Ibu dua orang anak itu menatap anak gadisnya berlari hingga menghilang dari hadapannya.
“Jaga dia ya Allah,” pinta Rahma setelah mengucap sholawat nabi.
Di sana, di ujung gang Muezza kebingungan harus naik apa ke Yoman kafe, tidak mungkin jika dia berlari untuk ke sana. Menunggu angkot juga tidak mungkin karena itu akan memakan waktu lama. Tidak mau berlama-lama di depan gang, Muezza memutuskan berjalan kaki sambil memesan ojol.
“Sungguh menyebalkan!” pekik Muezza dengan kaki yang terhentak ke bumi.
Dari kejauhan terdengar suara klakson motor. Muezza yang kesal mendengar kelakson itu langsung mencebik dengan tangan malang kerik, tapi setelahnya dia menurunkan kedua tangannya.
“Kamu mau ke mana?” tanya seorang pria tua yang mengenakan peci miring.
“Mau kerja, Om.” Wajah Muezza tampak sedih.
“Terus ngapain di sini?” katanya penuh heran.
Muezza menghela napas, “Menurut Om, Mue sedang apa?”
Pria tua itu menggeleng dan menggaruk kepalanya yang tidak ditumbuhi rambut.
“Ayo, naik! Om antar,” tuturnya dengan kepala bergerak ke samping, seakan memberi isyarat agar Muezza naik ke motor.
__ADS_1
“Serius Om?” tanya Muezza memastikan.
Kepala pria tua itu mengangguk, “Cepat naik!”
Motor ulung berwarna kuning cerah tersebut melaju dan menyelip diantara keramaian jalan. Sesekali pria tua itu menekan klakson agar pengendara lain di depannya menepi memberinya jalan.
Muezza bersyukur dipertemukan Om Jarwo. Meski penampilan seperti preman, tapi hatinya sangat baik.
“Kamu kerja di mana, Nduk?” Suara Om Jarwo terdengar lirih, tapi telinga Muezza mendengar sangat jelas.
“Di Yoman kafe, Om. Tempatnya di jalan Imam Bonjol,” jelasnya dengan tangan yang menunjukkan arah.
Pria itu melirik spion kiri dan berbelok mengambil jalan tikus agar cepat sampai di tempat kerja gadis muda yang dia bonceng.
“Kamu turun di ujung jalan ini, ya. Om tidak bisa nganter kamu sampai di sana,” kata Om Jarwo dengan mata yang terfokus menyapu jalanan.
“Siap Om!” sahut Muezza yang memberi hormat kepada pria tua yang mengantarnya saat ini.
Laju motor pun perlahan berkurang dan berhenti pas di ujung jalan. Muezza turun dari motor dan meraih tangan besar yang dipenuhi tato.
“Makasih banyak ya, Om!” pekik Muezza sambil berjalan mundur.
Om Jarwo mengangguk sambil mengibaskan tangan agar gadis itu berjalan dengan benar.
Muezza mencoba mengatur ritme pernapasannya yang tersengal-sengal. Mengusap keningnya dengan punggung tangan lalu mendorong pintu kafe tempatnya bekerja.
Harumnya aroma kopi dan makanan manis menyambut indra penciumannya.
“Lo baik-baik saja?” tanya Mario setelah mengantarkan makan pelanggan.
Muezza mengangguk menjawab pertanyaan Mario, pengelola kafe tempat Muezza bekerja. Mario selalu terlihat tampan dan keren dengan pakaian smart casual khas dirinya, kaus dan celana jeans ditambah tato kupu-kupu yang tergambar di punggung tangan kirinya mengingatkan Muezza dengan sosok Om Jarwo preman insaf setelah mengenal Tante Bella—janda kembang sebelah rumahnya.
Muezza menatap Mario yang telah menunggu jawaban darinya.
“Yeah, i'm fine. Hanya melakukan olahraga sedikit,” akunya disertai cengiran penuh rasa canggung.
Mario mengangkat sebelah alisnya dan terkekeh, “Olahraga di jam segini?” tanyanya menatap Muezza geli.
Gadis itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tiba-tiba menjadi canggung, tidak mungkinkan Muezza bilang kalau hari ini dia mengalami hari buruk.
__ADS_1
Suara bel berbunyi menandakan ada seorang pelanggan yang masuk ke Yoman kafe. Muezza memasang wajah ceria dan berbalik menatap seorang pelanggan yang membuatnya sangat terkejut bukan main.
“Apa-apaan ini?”