
Rambut blonde lurus sebahu melengkapi kecantikan paras wanita yang memanggil pria yang dicintai Muezza. Tanpa sadar mulut gadis itu ternganga akibat keayuan wanita anggun yang mengenakan midi dress biru, langkah kaki wanita blonde tersebut lenggak-lenggok bagai model tengah mengikuti catwalk.
Sedangkan pria yang dia sapa masih termangu mengingat-ingat siapakah wanita yang memanggilnya barusan.
“Apa kabar?” sapa wanita itu ramah-tamah.
Alun masih tidak mengenali wanita itu, jadi tampang datarnya masih menyuguhkan kebingungan yang hakiki.
“Aku yakin kamu lupa sama aku,” cetus wanita itu dengan mulut yang mengerucut.
“Maafkan saya! Saya benar-benar tidak mengingat Anda,” kata Alun memecahkan ketegangan.
“Astaga belahan Kutu Utara ... ini aku, Monica. Kamu sungguh lupa denganku?” decak Monica sesaat mengenalkan dirinya.
“Monica?” sahut Alun dengan alis yang bertaut.
Terlihat bahwa pria itu berusaha keras mengingat wanita blonde di depannya ini, dalam kepalanya tidak asing dengan nama ‘Monica’. Namun, dia tidak begitu mengingat siapa gerangan wanita yang berdiri di hadapannya ini.
“Dasar belahan Kutub! Nyesel aku sapa kamu,” ketus Monica sambil mengeluarkan dompetnya yang dia simpan di tas branded hijau botol.
Diperlihatkan fotonya di masa sekolah dulu, penampilan sangat culun persis toko utama di dalam drama-drama kebanyakan. Kacamata bulat besar, rambut dikepang dua dan ada banyak jerawat yang menghiasi seluru pipinya.
Alun yang tadi tampak bodoh kini mengulas senyum sangat tipis lalu menjabat tangan Monica penuh rasa bersalah.
“Sorry Mon! Pangling aku lihat penampilanmu saat ini,” ucap Alun seraya melepas jabatan tangannya.
“Karena sekarang aku cantik, iya ‘kan?” celetuk Monica tanpa malu-malu.
“Dulu kamu sudah cantik dan sekarang kamu tambah cantik,” pungkas Alun tanpa ekspresi.
“Kamu sedang memuji atau tengah mengejek aku?” ujar wanita blonde itu dengan senyuman yang dibuat-buat.
Muezza yang sudah kesal sejak tadi langsung merutuki teman Alun yang bernama Monica.
Dasar genit. Enggak tahu malu! Dia pikir aku enggak tahu, kalau semua wajahnya dia permak. Dasar ubur-ubur beracun ...!
Lain lagi dengan Laras, gadis itu mencebik melihat keakraban kakaknya dengan Monica-wanita blonde bertubuh molek. Ya, bisa dibilang bahwa wanita itu memiliki tubuh yang seksi.
“Abang!” pekik Laras tanpa rasa sungkan.
"Bentar," jawabnya halus.
Alih-alih mengerti dengan isyarat yang dia berikan, Alun malah tambah asyik mengobrol bersama Monica.
__ADS_1
“Kita pulang naik grab aja, Yas,” saran Muezza yang tidak tahan melihat Alun melempar senyuman manisnya.
Tanpa sepengetahuan Alun, dua gadis itu melenggang meninggalkannya bersama Monica.
Cukup 10 menit saja mereka menunggu, grab yang mereka pesan sudah datang. Kedua gadis itu di bawa melaju cepat membelah keramaian jalan, tidak ada percakapan apapun.
Suasana malah terasa senyap, hanya ada suara deruman mobil dan klakson. Niat hati, Laras ingin menanyakan suatu hal yang memicu amarah kakaknya, tapi dia sungkan memulai percakapan ini.
Bagai anak kembar, Muezza juga ingin membahas masalah di restoran tadi. Namun, dia sedikit tidak enak hati dan merasa bersalah juga karena sudah membuat sahabatnya menangis.
Kedua gadis itu saling membuang pandangan ke luar jendela, sesekali mereka melirik satu sama lain tanpa ketahuan. Di saat hendak mengintip pandangan mereka bertabrakan dan membuat kecanggungan semakin terasa.
Laras menggigit bibir bawahnya dengan sorot mata yang tidak pernah terputus ke arah Muezza. Begitu pun Mue, dia juga melakukan hal sama, tapi dia tidak menggigit bibir melainkan tangannya tidak pernah berhenti *******-***** baju yang dia kenakan.
Pelan-pelan Muezza angkat bicara, “Maafkan aku, ya!” Menegakkan tubuhnya dengan percaya diri.
“Untuk apa?” tanya Laras memastikan alasan.
“Di restoran tadi aku sudah buat kamu menangis,” kata Muezza lirih.
Laras memeluk sahabatnya penuh kasih sayang, sekian detik kemudian Laras melepas dekapan tangannya. Lantas gadis itu menatap lekat-lekat manik hitam milik Muezza, seakan mencari sesuatu di dalam sana.
“Lalu kenapa kau lebih sedih dari aku, Mue?” Pertanyaan Laras semakin membuat gadis itu menekuk wajahnya.
“Cerita, jangan kamu pendam!” ujar Laras lembut.
Muezza menghela napas panjang nan berat, perlahan-lahan dia mengembuskan napasnya.
“Di restoran tadi, ada teman Alun. Dia menceletuk tentang kami awalnya aku senang, tapi setelah itu aku malu," ucap Muezza dengan nada berat.
Karena penuturan Muezza belum lengkap, Laras semakin mendesak sahabatnya.
“Lantas?”
“Abangmu marah besar sampai-sampai dia ingin memukul temannya itu,” jelas Muezza setengah-setengah yang membuat Laras kesal dan membentaknya.
“Cerita yang bener Muezza!”
Sahabatnya itu terjingkat akibat suara menggelegar Laras, bukan Muezza saja. Sopir taksi online yang mengantar mereka juga sampai membunyikan klakson, selepasnya pria berkumis tebal itu menatap tajam ke arah dua gadis itu melalui kaca spion tengah.
“Maaf Pak,” kata Laras dengan senyum canggung.
Akibatnya percakapan itu terhenti, tapi Muezza kembali melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
“Bener kata kamu, Yas.”
“Apa?” ketus Laras tidak paham.
“Sepertinya aku harus menyerah,” tuturnya sambil tersenyum getir.
“Gila! Karena hal sepele aja udah mau nyerah. Mana Muezza yang aku kenal?” pungkas Laras bersungut-sungut.
“Hilang ditelan bumi.” Muezza menyandarkan kepalanya di jendela.
***
Tiga hari sudah Muezza dan Laras tidak bertukar kabar. Mereka tidak bertengkar, tapi hubungan mereka sedikit terganggu akibat kejadian itu.
Laras terlihat sering merenung dan gadis itu tampak tidak bergairah melakukan hal apa pun. Bagai gadis yang tengah dilanda patah hati, makan tidak berselera suka menyendiri sampai-sampai mandi pun jarang dia lakukan.
Padahal seminggu lagi dia akan terbang ke kota istimewa untuk melanjutkan studinya. Mami dan papinya sangat mengkhawatirkan kondisi anak gadisnya, selama ini anak gadisnya itu tidak pernah semurung ini.
Jika dia marah, paling-paling hanya satu atau dua jam. Itu pun dia akan segera membuat keributan demi mendapat perhatian lebih dari sang mami dan papinya.
Intan berdiri di ambang pintu dan wanita berkulit kuning langsat tersebut mengetuk pelan pintu kamar anak laki-lakinya.
“Mami boleh masuk?” tanya Intan sembari menatap anaknya.
“Silakan Mam!” Alun berbalik menatap sang mami yang terlihat melangkah.
Pria yang hampir menginjak kepala tiga itu memundurkan kursinya mencari posisi ternyaman untuk mengobrol.
“Ada apa Mam?” tanya Alun serius.
“Mami khawatir dengan adikmu. Kira-kira apa yang terjadi pada adikmu?” Menyekat buliran-buliran bening yang menetes dari pelukan matanya.
“Semenjak kepulangannya waktu itu, dia terlihat murung dan ... jarang berbicara. Sebenarnya apa yang terjadi waktu itu? Apa kamu yang membuatnya marah?” tuduh Intan sekonyong-konyong.
“Lah, kenapa Alun yang disalahkan Mam?” cetus Alun merajuk.
“Waktu itu Atas pergi bareng kamu. Kalau bukan kamu lalu siapa yang membuatnya begini? Apa iya, adikmu patah hati?” tukas intan dengan mata yang berkaca-kaca.
“Mami ... Alun tidak tahu menahu tentang itu. Lagi pula waktu itu dia pulang sendirian tanpa memberitahu Alun,” jelas Alun yang sudah memeluk ibunya.
“Mami tenang, ya. Nanti Alun akan tanyakan pada Ayas, apa yang membuatnya seperti ini?” bujuk Alun dengan suara lembut.
Intan mendongak menatap wajah anak bujangnya, “Janji bantu mami!”
__ADS_1
Alun mengangguk memberi kepastian dari ucapannya tadi, dalam kepalanya dia berpikir. Apa yang harus dia lakukan untuk membujuk adik manjanya itu. Seper detik kemudian dia mengingat seseorang yang bisa membantunya mengatasi masalah ini.