Bukan Lelakiku

Bukan Lelakiku
Langkah


__ADS_3

"Dia ada di luar, sebentar aku panggilkan!" sahut Gina seraya melepas genggaman tangannya.


Kemudian dihadiahi sepi yang panjang saat Gina keluar, dalam keheningan itu Azmi menerawang langit-langit ruangan tempatnya berbaring. Entah bagaimana bisa, tapi dia bisa melihat masa kecil Muezza dan Alif kembali terlintas di sana di saat-saat dia masih muda bersama kedua anaknya yang masih kecil-kecil.


Muezza yang duduk bersama Alun kini beranjak masuk, di ambang pintu dia terlihat ragu mendekati sang ayah yang tengah terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Wajahnya sayu pucat dan menyedihkan, rasanya dingin saat anak gadisnya menggenggam tangannya. Namun, kecupan ringan di punggung tangannya mulai menjalar rasa hangat, rasanya seperti duduk di depan perapian setelah musim hujan yang panjang.


"Ayo, kita pulang Yah! Ayah jangan lama-lama tidur di sini," ujarnya menahan tangis


"Iya, ayah janji akan pulang secepatnya." Di antara suara monitor dan hela pasnya sendiri, Azmi mulai mendengar suara isak tangis Muezza yang menyesakkan.


Seolah-olah ada tikaman benda tajam yang tepat di jantungnya.


"Anak ayah jangan nangis!" cegah Azmi bersusah payah mengangkat tangan untuk menyentuh pipi anaknya.


"Mue minta maaf ... Mue janji enggak akan membantah ucapan Ayah dan Bunda. Mue juga janji akan menjadi kakak yang baik untuk Alif dan Juwi. Jadi, Ayah harus cepat pulang!"


Azmi mengangguk lemah, kemudian perlahan-lahan tangannya terulur untuk mengusap pipi Rahma dan juga muezza. Bagaimana mungkin Azmi tidak cinta mati dengan perempuan yang berada di sebelah kirinya?


"Aku juga minta maaf, Mas. Maaf aku enggak bisa jadi wanita yang kamu harapkan." Rahma mengelus lembut punggung tangan suaminya.


"Aku mau kamu sembuh. Ayo, kita pergi ke tempat favorit kita dulu. Aku janji akan ada di sisimu! Kamu dengar Mas?"


Azmi mengangguk lagi kali ini disertai dengan senyum tipis yang susah payah dia tunjukkan. Sekujur tubuhnya sakit luar biasa. Kepala, dada dan kakinya nyaris tidak ada celah. Saat itu Azmi merasakan telapak tangan Rahma mengusap rambutnya lembut dan menenangkan, untuk kesekian kali dia merasakan bagaimana tangan itu menyentuh dengan penuh cinta. Sesaat, Azmi merasa utuh.


"Kakak! Itu punya Alif, balikin enggak!" Tiba-tiba suara cempreng Alif terdengar entah dari mana.


Alih-alih suara beratnya setelah beranjak ABG, yang Azmi dengar justru suara Alif bertahun-tahun yang lalu. Perdebatan kecil di masa lalu yang saat ini Azmi lihat, tingkah lucu Alif saat belajar membaca dan gelak tawa anak ke duanya itu membuatnya ikut tersenyum.


tiba-tiba saja Azmi dibuat linglung tidak ada angin tidak ada hujan dia sudah ada di rumah yang dia lihat bukan pekatnya malam berhujan melainkan dinginnya gerimis di langit jingga dia bukan lagi di tempat di mana seharusnya dia berbaring. melainkan kursi kayu di beranda rumah duduk berdua bersama kakek seperti sore-sore sebelumnya. Untuk sesaat Azmi menjatuhkan air matanya. Mustahil, tapi sosok kakeknya betulan ada di sana berbalut sarung dan singlet. Menyesap nikotin dengan aroma pisang goreng dan secangkir teh, kakek nampak berdiam lama menatap tetesan air yang jatuh dari pojok rumah.


"Kakek?"


Kakek akhirnya menoleh dengan senyum lebar yang menyebalkan.


lagi-lagi Azmi terbengong, dia tidak percaya apa yang dilihat saat ini. Namun, bibirnya kembali memanggil Babul Gani.


"Kakek?"


"kenapa? kaget kaki ada di sini?"

__ADS_1


Azmi mengangguk dengan tampang linglung sementara kakek mulai bergerak entah apa yang kedengaran lucu tapi kakak betulan tertawa terbahak-bahak.


"Kamu ingat apa pesan kakek dulu?"


Azmi mengangguk tepat saat kakek menjatuhkan putung rokok ke dalam asbak.


"hidup itu seumpama jalan yang harus kita lewati, pada akhirnya kita akan berhenti berjalan dan sampai ke tempat tujuan. Dalam perjalanan panjang ini, ada banyak hal yang harus kita lakukan. Ada beberapa macam rintangan yang harus kita lalui. Perjalanan itu membuat kita mempunyai dua pilihan, kamu mau meninggalkan jejak wangi atau jejak busuk yang merugikan banyak orang?"


Azmi menyimak ucapan sang kakek tanpa suara. Dia hanya sibuk menatap wajah kakek yang selama ini dia rindukan.


"Oleh sebab itu kakek selalu berusaha menyimpan minyak wangi yang paling wangi. Setiap kali kakek melewati mereka dalam perjalanan, yang mereka cium hanya wangi yang enggak pernah meraka lupakan. Meski kakek sudah berjalan jauh dari tempat itu." Kakek Babul Gani tersebut tersenyum dengan gigi yang nampak tinggal 3 di depan.


"Apakah Azmi bisa seperti Kakek?"


"Yakin?" tanya Kakek memastikan.


"Jadi kayak Kakek, memiliki jejak yang paling wangi."


"Meninggalkan jejak itu artinya kamu pergi," ujarnya tertawa kecil.


Ayah Muezza tersebut kebingungan, tapi dia mencoba memahami maksud kakeknya yang merawatnya sejak kecil.


"Ke tempat yang sangat jauh, jika kamu mau meninggalkan jejak wangi tersebut."


Azmi bergeming cukup lama, sampai-sampai dia mulai menyadari. Ini bukan rumah tua yang dia tinggalin dulu, melainkan ruang klaustofobic tempatnya berbaring.


Entah apa yang membuat pria itu tidak menyadarinya, tapi di ruang ini tidak hanya Azmi saja yang tinggal. Ada Alif yang memeluk kakinya dengan tangisan nanar. Sementara Muezza berdiri tidak jauh dari Alun, menggigit bibirnya dalam tangis yang tertahan.


Di sebelah kirinya ada suara parau Rahma yang memanggil-manggil nama suaminya. Meminta untuk sadar mengingat sang Pencipta, sementara di sebelah kanannya ada Tente Gina yang mengusap-usap pipinya.


Wanita itu entah berbisik apa, Azmi hanya mendengar suara gemuruh tanah dan lengkingan pada sepasang telinganya. Namun, saat itu dia masih merasakan tangan hangat Muezza yang menggenggam erat tangan kirinya.


Mata gadis itu menatapnya dengan pandangan kosong sama seperti yang dilakukan Tante Gina saat ini. Rahma masih menangis hebat di samping Azmi, mengatakan berulang kali agar suaminya itu tidak pergi meninggalkannya.


Malam ini Azmi ingin mengatakan banyak hal pada mereka satu per satu. Bagaimana Azmi mencintai sepenuh hati. Bagaimana Azmi merasa bersyukur telah menjadi bagian paling penting dalam hidup mereka terutama hidup Rahma—sang istri.


Azmi ingin menyampaikan ribuan maaf yang belum terucap, tapi bibirnya keluh. Lantas, entah apa yang terjadi, dia kembali duduk di beranda rumah tua milik kakeknya.


Sang kakek sudah tidak ada di sana. Gelas teh juga sudah tandas entah sejak kapan. Dingin menyekapnya perlahan-lahan, sampai rasanya Azmi menggigil, maka dengan langkah cepat Azmi berlari ke dalam rumah.

__ADS_1


Namun, sayang pintu terkunci rapat. Azmi tidak dapat membukanya meskipun dia sudah berusaha sekuat tenaga.


"Kakek! Buka pintunya Azmi mau masuk!" Namun, tidak ada jawaban sama sekali.


"Kak Gina!" teriak Azmi pada saat itu, tapi sepi tiada orang dalam rumah tua tersebut.


Sungguh lelah Azmi pada saat ini, berulang kali dia berteriak tidak ada satu orang pun yang membukakan pintu.


"Frian? Afrianto! Buka pintu! Mas mau masuk!"


Maka saat itu ada suara yang menyahuti dari dalam, suara serak milik Afrianto.


"Enggak bisa dibuka, Mas!"


Lalu, tiba-tiba wajah sedih Tante Gina muncul dari cela jendela.


"Baca doa dulu, baru bisa masuk."


Azmi terbengong memikirkan doa apa yang harus dia baca.


"Doa apa Kak?" tanya Azmi kebingungan.


Wanita itu tidak menjawab, tapi air matanya berlinang perlahan-lahan membasahi pipinya. Membuat Azmi terheran-heran.


"Kak apa doanya?"


"Tahlil Dek."


"Tahlil?"


Bak orang bodoh yang tidak pernah mengaji, Azmi lupa akan bunyi tahlil bagaimana?


"Gimana bacanya?" teriak Azmi dari luar.


Gina me no untun Azmi untuk mengucapkan kalimat tahlil yang dia minta. Hanya dengan begitu saja Azmi memekik kegirangan, pintu kakeknya terbuka lebar dan kakek menyambutnya dengan sebuah peluk yang hangat.


"Kamu siap?"


Azmi yang semula kegirangan kini terbengong menoleh ke belakang, terlihat wajah kedua anak beserta istrinya yang sangat sedih, seakan tidak rela akan jalan yang diambil Azmi.

__ADS_1


Keputusan yang mantap kini berubah dilema, dia ingin menjadi seperti Kakeknya. Namun, dia tidak tega melihat keluarga menangis memanggil-manggil namanya.


__ADS_2