
Suara sepatu hak tinggi Intan menggebu rasa gusar di hati Alun, sedangkan Laras tersenyum kecut melihat kedatangan maminya di antara mereka yang tengah membicarakan rahasia besar.
“Kok pada diam? Ayo, jawab pertanyaan mami tadi!” kata Intan mendesak kedua anaknya.
“Tadi mami denger satu kalimat yang tidak jelas, bisa diulang dan kasih penjelasan pada mami!” Menatap penuh keseriusan wajah Alun dan Laras.
Degup jantung kakak beradik itu sama kencangnya, seperti mengikuti lari maraton ratusan kilo.
“Adik enggak mau bagi cerita sama mami, heum?” Masih menuntut akan kejelasan percakapan mereka.
Tidak mau menjadi anak yang tidak patuh Alun menyiapkan diri dengan penuh ketakutan. Bukan takut di usir atau semacamnya, dia takut darah tinggi maminya naik dan akan mengakibatkan hal fatal karena hal yang dia rahasiakan selama ini.
“Maafkan Alun Mam!” ujarnya lirih sambil menatap bola mata berwarna biru milik Intan.
Kening wanita itu berkerut dan bola matanya bergulir ke samping, dia melihat anak bungsunya sekilas lalu balik memandangi Alun lagi.
“Apa maksud permintaan maafan Abang?” katanya mencari kebenaran dari kalimat sang anak.
Laras menarik tangan sang kakak sambil menggeleng kecil, meminta Alun untuk tidak berkata jujur. Alun yang sudah membohongi keluarganya selama tiga tahun ini, merasa bahwa hari inilah yang tepat untuk mengungkap rahasia itu.
“Alun seorang muslim, Mam.” Pasrah, inilah yang terlihat di wajah pria itu.
Dia benar-benar tidak peduli lagi akan reaksi orang tuanya, tapi dia memikirkan Intan yang memiliki tekanan darah tinggi. Rasa khawatir tentu saja ada. Namun, dia sudah tidak tahan lagi akan kemantapannya menjadi seorang muslimin.
“Kita hanya bercanda saja Mam, tidak ada pembicaraan serius kok. Iya, ‘kan Bang?” ujar Laras dengan mata yang mendelik menatap sang kakak.
“Yang benar? Abang apa benar yang dikatakan adikmu?” todong Intan meminta penjelasan lain.
“Sesungguhnya Alun sudah— Laras yang tidak mau maminya mengetahui ini menyela ucapan sang kakak.
“Jangan hiraukan Abang, Mam!” kilah Laras terkekeh.
“Alun seorang mualaf,” katanya tegas tanpa mau disela lagi oleh Laras.
Intan yang semula menatap penuh keheranan pada anak gadisnya kini dibuat tercengang oleh pernyataan anak sulungnya.
Laras yang menghalangi hal ini hanya bisa diam sambil menyembunyikan wajahnya dibalik kedua telapak tangannya.
__ADS_1
“C-coba ulang u-ucapan Abang tadi!” perintah Intan terbata-bata.
Wanita itu sungguh terkejut akan perkataan Alun, dia yang sudah curiga tadi kini dibuat syok.
“Mami enggak salah denger. Alun sudah menjadi mualaf selama tiga tahun terakhir,” ungkapnya penuh kesadaran diri.
Intan yang syok seakan tidak memiliki tenaga untuk berdiri. Keseimbangan tubuhnya menghilang seiring kalimat itu tandas dari mulut anak laki-lakinya.
Tatapan sendu berubah menajam dan pandangan mata itu seolah-olah menuntut lebih dari kalimat yang terucap dari Alun. Sempoyongan wanita paru baya tersebut berjalan masuk ke dalam rumah, sesekali tubuhnya terhuyung hebat sampai menabrak tembok.
Laras mengacungkan telunjuknya ke wajah sang kakak.
“Laras akan bikin perhitungan!” ancam gadis itu, terlihat jelas bahwa dia tidak terima akan hal ini.
Di dalam sana, Intan meneriaki sang suami yang duduk di ruang kerja.
“P-papi!” Suaranya tercekat hampir tidak begitu jelas suara wanita paru baya tersebut.
“Ya Tuhan ... apa aku sedang bermimpi?” Intan benar-benar tidak percaya akan hal ini.
Saat dia menundukkan kepala, kilasan bayangan beberapa bulan lalu kembali terlihat. Penolakan halus Alun untuk pergi ke gereja membuat wanita itu terbengong dan tersadar.
Intan pikir waktu natal tahun lalu anaknya pergi ke keluar negeri hanya untuk berlibur. Kenyataannya, anak laki-lakinya itu menghindari pesta besar bagi umat kristiani. Suara tangisan yang menggema berangsur mereda.
Kakinya yang tak mampu berdiri tegap kini memiliki kekuatan kembali untuk berbalik menanti sang anak sulung masuk ke dalam, menemuinya di ruang tamu ini.
Betul, langkah kaki Alun terdengar meski lirih. Dapat di katakan laki-laki itu mengatur langkahnya sepelan mungkin masuk ke sana.
“I'm sorry, Mama! Alun ...." Anak sulung Intan tersebut menghentikan ucapannya dan terlihat kembang kempis dadanya.
Bisa diterka kalau dia menahan suatu hal di dalam sana.
“Apa? Kenapa kamu diam? Ayo, jelaskan semua ini!” jerit Intan tidak terima akan pembohongan anaknya.
“Apa kamu sudah tidak menganggap aku ini ibumu? Apa kau pikir aku ini manusia jahat, huh? Jawab!” tuntut Intan, dia benar-benar murka akan tindakan anak sulungnya yang selalu dia banggakan.
Jeritan wanita itu mengundang kedatangan Roberto.
__ADS_1
“Kenapa kamu teriak-teriak?” tanya Roberto sambil menuruni anak tangga.
Sesampainya dia di bawah pria berkumis tebal tersebut memandangi wajah pucat sang istri.
Buru-buru dia menghampiri Intan, "Kamu sakit?" Memandangi penuh rasa khawatir.
Tangan Intan terangkat menunjuk anak sulungnya yang berdiri diambang pintu.
"Kenapa dengan Alun? Dia tampak baik-baik saja," tutur Roberto.
Tiga orang itu masih saling menatap dan melempar sorot pandang yang berbeda. Sedangkan Laras duduk termangu, entah apa yang bersarang di otaknya. Ekspresi wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun.
"Ayo, kita istirahat!" ajak Roberto, suami Intan tersebut melingkarkan tangan istrinya di bahunya sedangkan tangannya sendiri melingkar di pinggang Intan.
"Kamu tahu anakmu itu!" tuding Intan dengan suara yang menggelegar bukan main.
"Tanpa sepengetahuan kita. Dia, dia ...." Membuang muka sambil menghela napas berat.
"Apa? Kenapa dengan dia?" Roberto menakupkan kedua tangannya di sebagian wajah Intan.
"Kamu tanya saja pada dia! Apa yang telah dia lakukan?" Suara tangisan kembali terdengar meski tidak seperti tadi.
Kepala Roberto menggeleng. Kaki panjangnya itu melangkah menuju ke tempat Alun berdiri. Sangat lirih dia bertanya tanpa memalingkan muka ke belakang.
"Kesalahan apa yang kau perbuat?"
Alun bergeming, seolah-olah lidahnya keluh dan bibir itu tak mampu berucap apa pun. Rasa bersalahnya mendesak untuknya bungkam.
"Kenapa tidak menjawab!" jerit Intan seperti orang kesurupan.
Sungguh amarahnya memuncak saat ini, emosi yang sedari tadi dia redam di hati membeludak bak air hujan memenuhi volume waduk.
"Ayo, masuk!" Di tarik tangan kekar anak laki-lakinya.
Roberto tidak begitu mempedulikan sang istri yang mengamuk melempar segala benda di hadapannya. Dengan sembarangan wanita itu melempar dan membanting furniture yang ada di lemari pojok, sungguh tiada orang yang bisa membujuk wanita itu ketika mengamuk seperti ini.
"Ayo, jawab pertanyaan papi! Lihat mamimu sangat emosi saat ini! Kamu tahukan? Jika sudah mengamuk tidak akan ada orang yang bisa merayu wanita paru baya itu.
__ADS_1
Saat keadaan semakin ricuh, Alun angkat bicara dan pernyataannya semakin mengimbuhi luka di hati Intan yang sudah berkarat.