
Di sini Alun bersikap lebih lembut dan tampak keseriusan di wajahnya. Tangan kanan pria itu terlepas dari tubuh Muezza dan dibelai mesra rambut gadis itu sambil berucap.
“Langit malam tidak akan indah tanpa kehadiran rembulan, begitu juga dengan aku. Hariku tidak bercahaya tanpa kehadiran dirimu.”
Deg, jantung Muezza seakan berhenti berdetak dan darahnya seperti membeku. Tidak ada oksigen dalam paru-parunya sehingga napasnya tercekat berulang kali.
Apa ini? Kenapa aku tidak dapat menolak pelukannya? Tatapan matanya meluluhlantakkan benteng yang kucoba bangun, gerutu Muezza menyesali dirinya yang tidak dapat berbuat apa-apa.
Di tengah situasi mesra bercampur rasa canggung, mereka berdua dikagetkan kedatangan Mario.
“Bro, gue—" Suara Mario tiba-tiba menginterupsi.
Sontak keduanya menoleh memandangi Mario yang telah berbalik badan.
“Silakan dilanjutkan! Sorry sudah mengganggu.”
Sontak Muezza mendorong dada Alun agar menjauh dari dirinya.
“Mau apa lo masuk ke sini?” tanya Alun dengan alis yang terangkat.
“Lupakan tidak penting!”
Mario terkekeh melihat Alun dan Muezza berpelukan layaknya sepasang kekasih.
Selepas kepergian Mario, Alun kembali mendekatkan diri.
“Bagaimana? Apa sudah terlihat bagus?” Matanya menatap sendu gadis muda yang tertunduk malu.
“Sudah Bos. Saya yakin cewek itu akan klepek-klepek kaya ikan kehabisan air,” tutur Muezza sambil menyelipkan beberapa helai rambut yang terlepas dari ikatan.
“Sungguh? Apa kau juga merasakan hal yang sama tadi?” Menundukkan kepala demi melihat wajah blushing Muezza.
Jangkrik, pertanyaan macam apa ini? Gerundel Muezza dalam hati kecilnya.
“Apa Anda sudah kehilangan akal?” bentaknya dengan tangan menyentuh kepalanya sendiri.
Lantas gadis itu pergi begitu saja dengan mulut yang mengerucut. Langkahnya dia percepat sampai Mario mengernyitkan kening melihat fenomenal ini, mulut Muezza yang komat-kamit kaya Mbah dukun semakin menambah penasaran pria berkaos Polo Shirt.
Ingin rasanya dia bertanya, tapi dia takut mengganggu gadis berkuncir kuda tersebut.
__ADS_1
“Dasar manusia eror! Enggak habis pikir dengan sikap gendengnya itu!” kesalnya sambil membanting ransel kecil kesayangannya.
Fenny yang sudah selesai mengubah penampilannya, melirik penuh penasaran rekan kerjanya.
“Baru datang kok emosi,” tutur Fenny yang mengikat separuh rambutnya.
Muezza menoleh dengan alis yang hampir bertaut.
“Kenapa Mue?” Fanny menyelipkan sekuntum bunga melati di ikat rambutnya.
“Ada manusia gila tadi, Kak.” Mulut Muezza mencebik.
Fanny mengikuti arah telunjuk Muezza mengarah, mata wanita itu mendelik mendapati sosok Alun yang berdiri di ambang pintu.
Pria itu menempelkan telunjuknya di bibir mengisyaratkan Fenny agar tidak berbicara. Muezza yang masih tidak sadar kepergian Fenny masih mengoceh tiada henti.
“Kakak tahu, pria gila itu tadi sudah membuat jantung ini hampir meledak. Dan dia—" Seakan ada remnya, bibir Muezza terkatup perlahan dan secepat kilat gadis itu berbalik menyembunyikan wajahnya ke dalam loker.
“Apa-apaan ini!” gerutu Muezza dengan tangan yang terus memukul bibirnya sendiri, “dasar tuman!” imbuhnya lirih.
Kehadiran Alun dapat merubah atmosfer bumi, hawa panas melanda ruang karyawan ini. Derap langkah pria itu terdengar menggema, gayanya yang menyimpan kedua tangan di saku celana menambah kesan cool dan keren melekat permanen di jati diri Alun.
“Apa kau gugup di dekatku?” bisik Alun, bibirnya hampir menempel di daun telinga gadis itu.
“Tolong jangan ganggu saya!” memohon sambil menakupkan kedua tangannya.
Permohonan itu terlihat tulus, tapi Alun tidak mau melepas gadis itu.
“Bagaimana jika hari ini kau jangan bekerja, temani saja aku!” goda Alun tanpa malu.
“Stop! Tolong pergi dari sini, jangan ganggu saya!” jerit Muezza tidak tahan mendengar desakan pria berkemeja navy.
Pria yang biasa terlihat kaku, datar tidak memiliki ekspresi kini tertawa terbahak-bahak.
“Apa yang membuatmu tertawa, Bos? Apa aku ini badut singga pantas ditertawakan?” todong Muezza sangat kesal.
“Hmm.” Alun bergumam demi menetralkan ribuan koloni kupu-kupu di dalam perutnya yang berdesakan menimbulkan rasa geli luar biasa.
Muezza hendak kabur dari hadapan Alun, tapi sayang kening gadis itu menabrak pintu loker yang terbuat dari seng aluminium sehingga keningnya berdarah. Entah kenapa gadis itu tiba-tiba mengingat wajah ayahnya.
__ADS_1
***
Sekitar pukul 7 lewat 40 menit, Azmi mengunjungi Toha di rumahnya. Kedatangan pria itu di sana untuk bersilaturahmi sambil meminta pendapat soal bisnisnya yang bangkrut.
Selain itu dia juga menceritakan perasaan perih saat mengetahui adiknya berkhianat bahkan tega menipunya. Toha yang sudah berteman lama dengan Azmi sangat paham betul sifat pria itu, ini sebabnya kemarin dia mendatangi temannya tersebut untuk memberi bantuan meski tidak sepenuhnya.
“Ya udah ikhlasin! Mungkin itu bukan rezeki kamu.” Menepuk punggung Azmi sambil menunduk melihat wajah sang sahabat.
“Manusia mana yang tidak akan marah dan mau mengikhlaskan uang sebanyak itu? Terkadang aku berpikir kalau diri ini terlalu banyak dosa sehingga diberi cobaan sedemikian rupa.” Azmi menyesali semua keadaannya saat ini.
“Sabar Azmi!”
Tak lama seorang wanita berjilbab orange keluar bersama dengan nampan berisikan dua cangkir kopi susu.
Istri Toha tersenyum lalu menyuguhkan kopi susu tersebut, “Silakan diminum!”
“Terima kasih,” ucap Azmi tanpa melihat istri temannya.
Dua pria itu kembali berbincang panjang lebar ditemani dengan secangkir kopi susu dan sepiring pisang goreng. Sesekali mereka tertawa dan setelahnya hening, bisa dipastikan setelah bercanda mereka melanjutkan pembicaraan serius.
Perbincangan serius itu mampu memanipulasi waktu sehingga mereka tidak sadar bahwa jarum jam sudah menunjukkan pukul 10 lewat 20 menit. Azmi mengakhiri percakapan mereka dan berpamitan, ketika dia keluar dari rumah Toha terlihat langit malam mencurahkan rintik air membasahi bumi.
“Gerimis, Az. Yakin mau pulang sekarang?” tanya Toha tidak tegaelihat temannya kehujanan.
“Lebih kasihan lagi anak gadisku jika tidak segera dijemput,” sahut Azmi sambil menghidupkan mesin motor bututnya.
Toha tidak bisa menahan temannya itu, di biarkan Azmi berlalu pergi didera gerimis.
Azmi mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, ketika lampu traffic menyala hijau, pria itu seakan tidak melihat denga jelas. Pengendara motor lain menekan klakson berulang kali untuk menyadarkan Azmi dari lamunan.
“Jangan bengong!” teriak seorang pemuda berseragam olahraga.
Azmi yang sudah sadar dari lamunan cuma bisa mengangguk sesal. Harusnya hidup pria itu indah, tapi dia tidak mampu berpikir lebih jauh lagi saat sebuah range Rover melaju dengan kecepatan penuh dari arah kiri.
Tidak sampai dua puluh detik, mobil itu berhasil menghantam motor sekaligus tubuh Azmi. Entah bagaimana persisnya, tapi pria itu hanya merasa tubuhnya mati rasa.
Hujan kian menderas hingga membasahi wajahnya. Perlahan-lahan memudarkan segala ingatan, hanya kelabu lalu kelam. Setelah itu pria paru baya tersebut kehilangan kesadaran.
Sementara di balik kemudi, seorang wanita hanya mampu menatap kaku sosok Azmi yang bersimbah darah di tengah jalan sepi. Hujan semakin deras, tapi wanita itu masih mampu melihat dengan jelas Bagaimana darah segar mengalir dari mulut dan hidung Azmi.
__ADS_1
Wanita itu tidak sengaja menabraknya, demi apa pun dia berani bersumpah. Namun, berulang kali dia berpikir, tidak ada yang berani dia lakukan. Tidak ada yang terlintas dalam kepalanya.
Sekujur tubuhnya bergetar disertai keringat dingin, tidak ada yang bisa dia lakukan selain menarik transisi mundur dan menginjak pedal gas dalam-dalam. Wanita itu memutuskan untuk meninggalkan tempat itu dengan kecepatan penuh.