Bukan Lelakiku

Bukan Lelakiku
Bukan Dia 'Kan


__ADS_3

Ketika gadis itu hendak memberi alasan, Mario menyela dan memerintah Muezza.


“Sudahlah, cepat ganti baju. Pelanggan tidak bisa menunggu!” Mario mengedipkan satu matanya kepada Muezza dan menyuguhkan senyum tipis.


Muezza membalas senyuman Mario dan mengangguk.


Beruntung Mario tidak marah, aku sangat beruntung memiliki wakil bos ganteng dan easy going.


Tanpa membuang waktu lagi gadis itu segera memulai langkahnya menuju ke ruangan khusus untuk karyawan kafe dan dia mengganti baju dengan seragam barista. Muezza memasukkan pulpen dan buku ke saku depan dari apron yang hanya sepinggang.


“Hallo!” sapa seorang perempuan begitu Muezza keluar dari ruang khusus karyawan, membuat Muezza terkejut dan reflek menaruh tangan di dada.


Gadis memilki tahilalat di ujung hidung tersebut mengganti ekspresi terkejutnya menjadi tersenyum.


“Hai Kak!” Muezza membalas sapaan perempuan berkulit putih.


“Karyawan baru?” tanya cewek itu menaikkan kedua alisnya ke atas.


Muezza menatap perempuan yang berdiri di hadapannya. Terlihat sangat cantik dan manis dengan senyum yang meninggalkan lesung pipi. Rambutnya yang sebahu mengingatkannya dengan Vita, teman sekelasnya yang menunjukkan kafe ini padanya.


Muezza mengangguk dan mengulurkan tangan, “Iya Kak. Kenalkan, namaku Muezza Irabela!”


Perempuan itu menjabat tangan Muezza.


“Aku Fenny!”


“Salam kenal Kak Fenny.”


Fenny tersenyum sangat manis, “Salam kenal juga, Muezza.”


Dari sudut matanya Muezza melihat seorang lelaki datang ke arahnya dan Fenny. Sepertinya Fenny sadar akan arah pandangan mata teman barunya itu, sehingga dia mengikuti arah pandang mata Muezza.


“Sorry mengganggu acara kalian. Hari ini kita kedatangan banyak pelanggan dan kita harus segera melayani mereka, jika tidak Mario akan melampiaskannya kepadaku. Secara aku cowok satu-satunya di antara kalian berdua,” ucap lelaki itu dengan senyum ringisannya.


“Emang penting bagi gue!” ledek Fenny pada lelaki itu, lalu dia melangkah pergi.


“Ck, dasar Mak Lampir!” gerundel lelaki itu.


“Aku mendengarnya!” seru Fenny dengan lirikan tajam.


Lelaki tersebut mendengus, lalu beralih menatap Muezza yang sedari tadi diam melihat pertengkaran mereka. Lelaki itu menampilkan senyum hangat dan ramahnya.


“Hai. Bapak kamu jualan kipas angin, ya?” katanya membuat Muezza menaikkan sebelah alisnya.


“Enggak!” jawab Muezza bingung, menatap lelaki di depannya ini dengan aneh. Namun, Muezza tersenyum untuk menutupinya.


Tampan dan terlihat friendly, hangat dan humoris. Itulah yang di lihat dari pancaran mata dan gestur tubuhnya.


“Ah, masak sih. Soalnya saat aku menatapmu hatiku terasa dingin dan nyaman banget,” seloroh lelaki humoris itu yang terdengar garing.


Muezza terdiam dan lelaki itu juga ikut terdiam. Sepertinya guyonannya gagal karena Muezza tidak tertawa dan sepertinya, dia mengetahui ekspresi wajah Muezza yang biasa saja.


Dia menyentuh leher belakangnya, sepertinya lelaki itu malu.

__ADS_1


“Enggak lucu, ya?” ujarnya dengan mata yang celingukan.


“Ha-ha-ha ... lucu kok!” kata Muezza sambil tertawa dibuat-buat.


Lelaki itu nyengir, lalu mengulurkan tangan.


“Namaku Satria Alatas.”


Muezza menyambut uluran tangan Satria, “Muezza.”


“Come to work sweet girl!” Satria mengedipkan satu matanya dan tertawa, membuat Muezza ikut tertawa.


Di hari pertama gadis itu sudah mendapatkan teman. Setidaknya dua orang baru itu mengurangi perasaan tidak enaknya karena telat datang di hari pertama bekerja.


Muezza kembali syok saat kedua matanya menatap sosok Alun tiba-tiba masuk ke kafe. Matanya sukses membulat sempurna nyaris melompat keluar, detak jantungnya berdegup dengan sangat cepat.


Di saat para pelanggan wanita di dalam kafe terpesona dengan karisma Alun, Muezza justru meringkuk ketakutan dengan sosok Alun.


“Apa-apaan ini!” ujarnya tidak percaya dengan Indra penglihatannya.


“Kenapa aku selalu membayangkan dia? Begitu tergila-gilanya hati ini sehingga melihatnya di mana-mana?” gerundel Muezza dengan tangan mengusap kasar wajah tanpa make-up itu.


Fenny menghampiri karyawan baru Yoman yang meringkuk di samping pintu.


“Kamu sakit?” tanya Fenny sambil menepuk pelan bahu Muezza.


Gadis itu menggeleng dan mengelus anak rambutnya yang berantakan.


“Tadi aku lihat serangga, Kak!” jawab Muezza gugup.


Kening Fenny mengerut mencerna perkataan teman barunya itu.


“Sekarang di mana?” Memalingkan wajah melihat ke bawah.


“Hilang entah ke mana Kak,” sahut Muezza cepat dan mencoba melihat ke arah di mana dia melihat Alun.


Gila! Aku sudah kehilangan akal! Muezza merutuki dirinya sendiri.


Fenny tersenyum lalu meninggalkan gadis itu sendirian.


“Sat, titip adik gue!” bisik Fenny lirih.


Satria mengacungkan jempol dengan bibir yang selalu dihiasi senyuman.


Meuzza yang berdiri di dekat meja bar menggenggam erat apron yang terikat di pinggangnya. Kedua bola mata berwarna cokelat itu menangkap sosok Muezza yang menatapnya.


Senyum miring terbit di bibir raunded cupids’s bow-nya membuat Muezza semakin menggenggam erat apronnya. Lagi-lagi gadis itu harus dalam lamunan hingga tidak sadar bahwa lelaki itu sekarang sudah berdiri di hadapan Muezza.


Seakan kejadian di dalam mobil itu kembali terjadi, gadis berambut panjang itu kembali mendaratkan aroma parfum yang menyegarkan dan menangkan dirinya. Ini sudah ke lima kalinya Muezza merasakan.


Jika aku terus merasakan aroma tubuhnya, aku tidak yakin akan mudah melupakannya.


“Apa kamu ingin membuatku bangkrut?”

__ADS_1


Suara bariton Alun memecahkan lamunan Muezza.


“Mue! Kamu tuli?” ketus Alun membuat hati Muezza sakit.


“Tolong maafkan saya! Tadi saya kurang fokus,” sanggah Muezza dengan senyum menghiasi bibir tipisnya.


“Kerja yang benar! Jangan membuatku rugi membayar mu,” decit Alun sambil menyelipkan anak rambut Muezza yang terurai akibat tertiup angin.


Hanya hal kecil, tapi tindakan Alun membuat hati Muezza dipenuhi beragam jenis bunga.


Jangan terlalu gr, Mue! Ini hanya hal kecil, katanya memberi peringatan pada dirinya sendiri.


Satria meletakan dua Americano di depan Muezza.


“Hi sweet girl, bawa pesanan ini ke meja nomor sembilan.”


Gadis itu masih sibuk dengan siluet pria yang memiliki nama lengkap Alun Erasmus.


Satria mengguncang tubuh Muezza cukup kencang lalu memanggil gadis itu.


“Muezza jangan banyak bengong!”


“Maaf!” cicit Muezza seraya membawa pesanan itu ke meja yang disebutkan Satria.


Lalu, gadis itu kembali ke tempatnya berdiri tadi. Sambil mengorek informasi dari lelaki yang tengah sibuk memilah biji kopi.


“Yang tadi itu siapa?” tanya Muezza canggung.


“Yang mana?” kata Satria tanpa melihat wajah Muezza.


“Yang baru datang barusan!” tunjuk Muezza dengan dagunya.


“Alun, ‘kah?” Menatap Muezza dengan serius.


Gadis itu mengangguk sebagai jawaban.


“Itu bos kita, sweet girl!” ujar Satria yang sudah meletakkan stoples biji kopi di rak.


“Yang benar saja!” ucap Muezza dengan kelopak mata yang berkedip tidak percaya.


“Why do you look so surprised, sweet girl?” Satria menatap penasaran gadis manis di hadapannya.


Muezza hanya tersenyum tidak memberi jawaban apa pun, tapi sorot mata Muezza menimbulkan sejuta pertanyaan di kepala lelaki yang bernama Satria.


Fenny yang sedari tadi menghilang kini muncul dengan senyum merekah indah.


“Muezza, kamu di suruh ke taman belakang!” ujar Fenny menyampaikan pesan.


“Aku?” Jari telunjuknya mengacung ke wajahnya sendiri.


“Hmm,” gumam Fenny seraya mengangguk.


Dengan kepala yang terus menoleh ke belakang, Muezza berjalan.

__ADS_1


__ADS_2