Bukan Lelakiku

Bukan Lelakiku
Lamaran Kerja


__ADS_3

Sekian lama mengobrol dan pembicaraan mereka semakin melebar.


“Kalau kamu ... mau kuliah di mana, Mue?” Meletakkan minumannya di atas meja sambil mencomot tahu bulat.


“Kayaknya aku kerja dulu. Setelah itu mungkin akan kuliah,” jawab Muezza dengan anggukan kecil yang dibarengi senyum getir.


“Udah dapet kerjaan?” Bertanya seraya menyeruput minuman.


“Belum,” sahut Muezza cepat


Tiba-tiba Vita mengingat sesuatu ketika dia keluar dari sebuah cafe di jalan Imam Bonjol, sebelum dia mengunjungi rumah Muezza.


“Ngomongin kerjaan. Tadi, kalau enggak salah aku lihat pengumuman lowongan kerja,” katanya mengingat-ingat.


“Yang bener kamu, Vit?” Menatap penuh penasaran.


“Iya, tadi aku lihat di sana. Masak iya aku bohong,” katanya menimpali ucapan Muezza.


“Bisa anter aku ke sana?”


Vita mengangguk setuju.


“Boleh, sekarang atau besok?” Menyandarkan tubuhnya disandarkan kursi.


“Kalau sekarang ... kamu keberatan enggak?” Mencondongkan tubuhnya ke depan.


“Tentu saja tidak. Yuk, gaskeun!” ucapnya antusias.


“Bentar, aku pamitan dulu biar enggak kena omel bunda.”


Vita mengangguk membiarkan temannya menghilang dari hadapannya, tidak lama kemudian Muezza keluar dengan berbagai perabotan yang memberatkannya.


Bukan perabotan seperti panci atau penggorengan, yang dimaksud perabotan itu tas dan berkas lamaran kerjaan gitu loh.


Vita si anak kalem membawa motornya dengan kecepatan tinggi yang membuat Muezza jantungan. Dia pikir Vita sekaleng itu rupanya temannya itu melebihi pembalap liar di luar sana.


“Bisa enggak dikurangi kecepatannya?” teriak Muezza di sebelah telinga Vita.


Namun, teriakan Muezza tidak didengar jelas oleh Vita.


“Apa Mue?” seru Vita di sela kefokusannya mengendarai motor matic injeksi.


“Jangan ngebut-ngebut aku belum ngerasain malam pertama!” jerit Muezza tidak peduli dengan pengendara lain yang mendengar perkataannya.


Sontak Vita tertawa mendengar pernyataan konyol Muezza—manusia slengekan yang minim ahlak.


“Gila ya, kamu!” decak Muezza ketika Vita mengendurkan gas motornya.

__ADS_1


“Kenapa?” tanya Vita dengan tawa yang belum bisa berhenti.


“Aku pikir kamu manusia kalem sekalem-kalemnya. Tapi, dugaanku salah besar,” protes Muezza tidak menduga kebrutalan Vita mengendarai motor.


“Kamu lebih enggak waras!” cibir Vita mencemooh Muezza.


“Kenapa aku?” Mata Muezza melotot.


“Orang naik motor tuh asyik, Mue. ‘Lah kamu malah mikirin malam pertama, ‘kan gila!” ejek Vita yang tidak habis pikir dengan isi kepala Muezza saat itu.


“Orang bener kok, aku mau ngerasain malam pertama dengan Al—" Muezza menghentikan perkataannya.


Gadis itu tidak mau Vita tahu tentang pria pujaan hatinya dan lagi pria itu tidak menganggapnya ada meski ada di hadapannya. Nasib seorang gadis mencintai dalam kesunyian, perasaannya bagai kapuk tertiup angin terombang-ambing bertebaran di udara dan akan mendarat perlahan menghilangnya angin.


Begitulah kisah cinta Muezza, rasa cintanya akan kandas jika mendapat penolakan secara lisan dari Alun—kakak sahabatnya.


“Al siapa Mue?” Melirik wajah Muezza dari spion, “kamu udah punya cowok, ya?” tuduh Vita dengan wajah penasarannya.


“Belum! Al yang aku maksud itu Al-Ghazali anaknya Maya Estianti,” tukasnya dengan kedua alis yang bergerak naik turun.


“Hu ... dasar kang halu! Aku pikir Al itu nama cowokmu,” seloroh Vita yang sudah memberhentikan laju motornya tepat di depan cafe.


Netra Muezza menelisik bangunan kokoh di hadapannya, gadis itu tampak menyukai cafe itu. Setelah Vita selesai memarkirkan motornya dia menghampiri Muezza yang berdiri tepat di depan pintu.


“Yuk!” ajak Vita dengan tangan yang melingkar di lengan Muezza.


Suara dentingan bel pintu pun berbunyi seiring dengan Muezza mendorong pintu kafe. Gadis itu melihat desain dan interior yang dimiliki oleh Yoman kafe yang menyita perhatian Muezza sejak beberapa menit yang lalu dia datang.


Ada salah satu sisi dinding yang menarik perhatian Muezza selain warna dinding yang biru cerah. Namun, di dinding itu terdapat sebuah prosa yang Muezza sukai.


Reach love with a sincere heart.


Sangking asyiknya mengagumi interior kafe Muezza sampai tidak sadar ada seorang laki-laki jangkung menghampirinya.


“Hai, ada yang bisa saya bantu?” sapa laki-laki itu penuh senyum.


Saat Muezza dan Vita berbalik rahang mereka berdua seperti akan jatuh melihat wajah laki-laki yang memakai white t-shirt dan repped jeans dengan celemek barista yang diikat di pinggangnya.


Mendapati sapaannya tidak mendapat respons, lelaki itu kembali melontarkan pertanyaan.


“Nona cantik mau pesan sesuatu?” Menatap wajah Muezza dan Vita secara bergantian.


Vita yang telah sadar dari keterkejutannya langsung menyikut sang teman.


“Mue.”


Muezza berdeham untuk menghilangkan kegugupannya.

__ADS_1


“Hmm, apakah pemilik kafe ada? Saya mau bertemu,” kata Muezza sambil menyelipkan anak rambutnya di belakang daun telinga.


Lagi-lagi lelaki itu menyuguhkan sebuah senyuman manis, “Kalau boleh tahu, ada urusan apa kalian ingin bertemu dengan pemilik kafe ini?”


Kini giliran Vita yang menjawab dengan segala kegugupan yang ada.


“Begini ....” Ucapan Vita terhenti sambil menatap lelaki itu dengan tatapan penuh arti.


“Panggil Mario saja,” sahut Mario yang peka akan tatapan Vita.


Vita terkekeh lalu melanjutkan perkataannya, “Tadi saya lihat papan pengumuman di luar sana. Itulah alasan kami ingin bertemu dengan pemilik kafe,” jelas Vita dengan tutur bahasa yang lugas.


“Kalian bertemu dengan orang yang tepat, Nona.”


Belum selesai berbicara Muezza menyodorkan surat lamaran kerjanya sambil mengutarakan isi hatinya.


“Alhamdulillah, jadi Abang pemilik kafe ini. Tolong terima saya kerja di sini! Insyaallah saya akan bekerja dengan giat,” selorohnya tanpa menunggu penjelasan lengkap lelaki itu.


Mario terkekeh mendengar ucapan Muezza, setelahnya dia menggerakkan tangan kiri ke bawah agar gadis penuh energik ini diam. Vita menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, sedangkan Muezza membungkam mulutnya dengan satu tangan. Mario sangat menyukai tingkah Muezza yang mengedipkan matanya dengan cepat.


“Dengar baik-baik dan jangan menyela, oke!” titah Mario yang menggiring dua gadis itu untuk duduk di meja dekat pintu.


“Pertama, gue bukan pemilik kafe ini. Gue hanya mengelola Yoman kafe jadi panggil gue Mario saja tanpa ada embel-embel apa pun itu, mengerti!” ungkap Mario panjang lebar.


Muezza dan Vita mengangguk mengerti, tapi gadis yang memiliki tahi lalat di ujung hidung tersebut kembali bertanya.


“Lantas apa saya bisa bekerja di sini Bang Mar—" Muezza memberhentikan ucapannya lalu dia mengulang kalimat yang sempat terhenti.


“Maksud saya Mario, apa saya bisa kerja di sini?”


“Tentu bisa. Tapi kami hanya mencari satu karyawan saja,” ujar Mario menatap bimbang dua gadis di depannya.


“Tenang, yang ingin bekerja hanya dia bukan saya,” tunjung Vita sambil mengibaskan tangan kirinya.


“Alright, besok lo bisa datang jam satu siang. Kita bukannya jam dua dan akan tutup di jam sebelas malam,” kata Mario menjelaskan jam operasional di Yoman kafe.


Muezza menatap Vita dan kembali menatap Mario, “Itu artinya saya diterima bekerja di sini?”


Mario mengangguk, “Iya, besok siang jangan telat. Dan dengan siapa gue berbicara saat ini?” tanyanya dengan mengedipkan satu matanya.


“Muezza, bisa dipanggil Mue dan ini Vita. Temanku yang nunjuki kafe ini cari karyawan,” sahut Muezza dengan nada yang terdengar bahagia.


Setelah perkenalan singkat, Mario mengembalikan surat lamaran Muezza dan dua gadis itu kembali dengan senyum sumringah. Tidak lupa mereka memberikan salam perpisahan kepada Mario—pria yang membuatnya bahagia, bukan karena cinta melainkan pekerjaan yang dia berikan.


Selepas kepergian Muezza dan Vita, Mario mengirim pesan singkat kepada memiliki kafe.


Yoman my brother, gue udah dapat karyawan baru namanya Muezza. Dia gadis yang lucu dan cantik, pesan Mario pada siang itu kepada sang pemilik kafe atau lebih singkatnya bos Mario.

__ADS_1


Di ruangan yang berbeda, pria yang mendapat pesan singkat tersebut membaca dengan mata yang melotot tidak percaya dengan nama karyawan barunya.


“Dunia ini memang sempit,” keluhnya dengan suara bariton.


__ADS_2