Bukan Lelakiku

Bukan Lelakiku
Kepastian Dalam Mimpi


__ADS_3

“Alun ....”


Tamparan keras mendarat tepat di pipi kiri Alun.


“Cukup!” bentak Roberto dengan mata yang mendelik.


Tiada lagi suara perdebatan hanya ada suara langkah kaki Intan dan Roberto yang menarik anak tangga.


Ketika dua orang tersebut sampai di kamarnya, Roberto mengambilkan obat rutin yang diminum istrinya.


“Kau sudah tahu?” tanya Intan pelan.


Kening suaminya berkerut, seakan tidak ingin menjawab pertanyaan sang istri.


“Sudah aku duga, sungguh malang nasibku. Kalian selalu merahasiakan hal besar dariku,” keluh Intan dengan air mata yang tidak pernah kering.


“Kau jangan salah paham. Dengarkan dulu penjelasanku!” kata Roberto sambil menggenggam tangan Intan.


“Apa ... apa yang harus aku dengar?” Mengangkat kepala dengan sorot mata yang melemah.


“Bahwa kau sudah bersekongkol membohongiku! Atau kau juga yang menyuruh anakku mengambil keputusan ini? Jawab aku Roberto Carlos!” Suara bentakan Intan memenuhi ruangan.


“Aku akan menjawab semua pertanyaanmu, tapi kau harus diam dan pahami semua ucapanmu ini!” pinta Roberto.


Intan pun diam dan mendengar dengan saksama penjelasan tentang keputusan anak laki-lakinya.


Sebelum Alun benar-benar masuk Islam, dia berbincang banyak hal pada ayahnya. Pria itu juga meminta pendapat semua kebimbangan hatinya.


“Jika, suatu hari Alun mengambil keputusan besar ... apa Papi akan mendukung?” Mendongakkan kepala melihat wajah sang ayah yang bingung.


“Hal apa yang ingin kamu putuskan sehingga papi harus mendukungmu?” Roberto hanya melontarkan pertanyaan tanpa menolehkan pandangannya.


“Selama beberapa bulan belakangan ini. Alun bermimpi tentang satu hal dan itu membuat Alun bimbang, setiap malam Alun berusaha terjaga agar tidak bermimpi hal itu lagi.”


Dari cerita itu, Roberto menghentikan jemarinya yang menari-nari di atas keyboard laptop.


“Mimpi apa itu? Kenapa kamu takut dengan bunga tidur? Jika mimpi itu berulang terus itu hanya sebuah kebetulan saja,” ujar Roberto menyepelekan cerita anaknya.

__ADS_1


Sekilas Alun sependapat dengan sang ayah, tapi logikanya tidak menerima akan pernyataan itu sehingga dia menyangkalnya.


“Tidak sesederhana itu, Pi. Ini mimpi lain dan Alun percaya ini sebuah pertanda,” kilahnya dengan wajah yang terlihat khawatir.


“Pertanda apa? Kamu jangan mempercayai hal takhayul!” sanggah Roberto yang nampak terganggu oleh anaknya.


Sekian menit berlalu dengan pendapat yang berbeda, akhirnya Roberto mengalah dan mendengar semua cerita mimpi Alun. Pria berkemeja kotak-kotak kecil itu menutup laptopnya lalu menatap serius wajah sang anak.


“Itu tidak benar Alun. Jangan jadikan mimpi sebagai landasanmu mengambil keputusan besar ini,” ucap Roberto memberi pengertian.


“Maafkan Alun, Pi. Alun percaya kalau ini adalah petunjuk dari-Nya. Jika tidak ... mana mungkin Alun memimpikan hal yang sama berulang kali selama in? Alun mohon dukung keputusan Alun, Pi. Hanya Papi harapan Alun satu-satunya,” putusnya dengan tegas.


Puas sudah Roberto mencegah dan memberi pengertian lebih. Dia merasa harus memberi kebebasan atas segala keinginan anaknya, tapi dia juga memberi syarat kepada anak sulungnya tersebut.


“Papi dukung segala keputusanmu, tapi ingat! Jangan sesekali mempermainkan agama!”


Senyum semringah terbit di bibir Alun. Dia sungguh tidak menyangka kalau papinya memberi izin secepat ini, dia berpikir kalau keinginannya akan ditentang.


Begitulah kesepakatan itu terjadi dan setelahnya Roberto selalu memberi jalan pada anak laki-lakinya untuk menghindari segala kegiatan umat kristiani. Ini bukan kisah manusia yang menjelajahi segala agama ataupun kisah manusia menjelaskan agama lain, setiap manusia memiliki keinginan dan tujuan yang berbeda dalam hidupnya.


**


“Apa aku ini hanya bayangan di sini? Apa pendapatku tidak penting?” teriak Intan sambil menangis.


Roberto yang merasa bersalah memeluk istrinya penuh kasih sayang.


“Maafkan aku! Bukan itu maksud kami,” ujar Roberto Carlos.


“Lalu apa?”


Suara jeritan Intan menggema dan sampai terdengar ke lantai dasar.


“Ini semua salahmu, Bang!” tuding Laras tidak terima keadaan ini.


Khawatir dan rasa cemas menyelimuti hati Alun. Dia sungguh tidak tahu harus berbuat apa, yang jelas dia sangat-sangat menyesal akan keadaan ini. Bukan menyesal karena dia sudah pindah keyakinan, dia menyesal telah menyakiti hati maminya.


Sesungguhnya Intan memiliki hati yang lembut, tapi jika dia dibohongi. Hati lembutnya itu berubah menjadi bara api yang siap membakar siapa pun.

__ADS_1


Kelopak mata Alun terpejam dan dengan keberanian yang besar dia menapakkan kakinya di setiap anak tangga yang menghantarnya menuju lantai dua. Rasa cemasnya dia tekan sangat kuat agar mereda, ketukan pintu yang mengalun di gendang telinga Intan dan juga Roberto membuat sepasang suami istri tersebut menolehkan pandangan mereka.


“Mam, ini Alun. Bolehkah Alun masuk?” Terdengar lirih suara anak sulungnya di balik pintu.


Hatinya menginginkan anaknya masuk, tapi kekecewaan itu muncul dan memerintahkan dia untuk berbuat egois.


Roberto yang tidak tega membukakan pintu, membiarkan anak laki-lakinya masuk ke ruangan besar ini.


“Kau ingin menambah luka ini, heum?”


“Bukan begitu, kedatangan Alun ke sini hanya ingin berpamitan.” Penuturan itu mampu membuat Intan menjerit dalam tangisannya.


“Sungguh tega hatimu itu! Aku ini ibumu, Alun! Apa kau tidak memiliki rasa kasihan terhadapku?” berondong Intan dengan isak tangisnya.


Bagai laki-laki jantan pada umumnya, Alun melangkah maju mendekati sang ibu. Dipeluknya erat-erat tubuh Intan, terlihat gerak bibirnya. Entah apa yang dia bisikkan pada telinga Intan, yang jelas wanita itu mengangguk dengan isak tangis yang sedikit mereda.


***


Di malam yang tenang Muezza duduk di dipan termaram buatan sang ayah. Penuh dengan harap dia memandangi rembulan yang bersinar redup, bagai gambaran hatinya saat ini.


Tatapan tegas itu berubah menjadi tatapan sendu menyimpan rasa kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupnya.


“Kenapa ayah meninggalkan kami? Apakah ayah tidak bisa menunggu sebentar saja? Sedikit lagi Mue akan kuliah, Yah. Di tempat ayah menimba ilmu dulu,” tuturnya lirih.


Manik cokelat itu menitikkan air mata. Tangisan lirihnya sungguh menyayat hati, separuh jiwanya seakan ikut lenyap tatkala tubuh ayahnya dikubur.


Isak tangis yang semula tidak begitu terdengar, kini semakin kencang.


“Kenapa kamu menangis? Bukankah saat itu kamu berjanji akan menjadi orang yang paling kuat ketika menjaga keluarga ini.” Sosok tersebut berdiri tidak jauh darinya.


Tentu, Muezza mengangkat kepalanya demi melihat wajah seseorang tersebut. Dengan kata yang terbata-bata Muezza bertanya.


“Ini sungguh terjadi?” tanya gadis itu dengan mata yang terbelakang tanpa kedipan.


Orang itu tersenyum lalu menanyakan hal lain.


“Kamu pikir aku siapa?”

__ADS_1


“T-tidak ini tidak mungkin!” sangkal Muezza dengan suara yang lantang sehingga terdengar sampai di dalam rumah.


Rahma melempar selimutnya ke sembarang arah. Langkah kecil itu membuang beberapa langkah tak berguna, niat dan tekat sudah menjadi satu dalam dada. Dia benar-benar tidak ingin mengulang kesalahan yang sama


__ADS_2