
Malam ini, Muezza berlari ke arah ayahnya yang entah bagaimana keadaannya. Hatinya sakit, tapi rasa sakit itu dia campur dengan untaian doa. Berharap apa yang dia takutkan berangsur-angsur mereda.
Di belakangnya, Alun tampak mengejar dengan perasaan campur aduk. Pria itu berjalan lebih cepat, dia bahkan tidak mengingat bahwa ini rumah sakit yang dia pikirkan. Bagaimana caranya untuk menenangkan Muezza yang tengah khawatir akan keadaan ayahnya.
Ada seorang perawat yang keluar dari ruangan itu, Muezza memperlambat gerak langkahnya. Lalu memberhentikan perawat tersebut dan bertanya.
“P-asien atas nama Azmi Abdullah ada di dalam?” Suara terbata-bata Muezza membuat perawat tersebut mengernyitkan keningnya.
“Mbak keluarganya?”
Muezza mengangguk, “Saya putrinya.”
“Iya, ada di dalam. Tapi belum bisa masuk, Mbak tunggu sebentar. Nanti jika dokter sudah selesai memeriksa akan diperbolehkan masuk,” ungkap perawat itu dengan jelas.
Kemudian wanita berseragam berlalu cepat, meninggalkan Muezza dan Alun. Ruang ICU tertutup rapat, pintu yang kokoh seakan menjadi pembatas antara dua dunia.
Rasanya Muezza ingin sekali menerobos pintu itu dan memeluk tubuh Azmi erat-erat. Ingin sekali Muezza bisikkan ke telinganya, bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Dari kejauhan terdengar derap langkah cepat mendekat ke arah dua orang yang tengah gelisa menanti dokter keluar.
“Ayah enggak apa-apa, Kak? “ Rahma tidak terisak, tapi suaranya kedengaran bergetar. Jauh di dalam hatinya Rahma tersiksa. Kini hanya satu hal yang sangat dia inginkan, dia ingin melihat suaminya. Hanya itu saja.
Dunia Rahma seolah-olah hancur lebur saat dua polisi tanpa seragam tiba-tiba mendatangi rumah. Hanya untuk mengatakan bahwa suaminya mengalami kecelakaan tunggal.
Lantas, 10 menit yang lalu berubah kasus menjadi sebuah insiden tabrak lari. Jelas ibu Muezza pontang-panting menata kesadaran beserta hati nuraninya.
Sementara Om Mulyadi pergi ke kantor polisi, Rahma memilih ke rumah sakit bersama istri Om Mulyadi. Separuh nyawa Rahma sedang dipertaruhkan, antara kehidupan atau kematian.
Dengan ketegaran yang tersisa Muezza menjawab pertanyaan Bundanya.
“Enggak akan kenapa-kenapa, Bunda berdoa saja.” Muezza berbisik lirih. Sok-sokan menguatkan, padahal dia sendiri bergetar ketakutan.
Tak lama, suara langkah kaki terdengar memenuhi koridor. Irama konsisten, tapi terdengar seperti lagu kematian yang bisa mencekik kapan saja. Seorang wanita berseragam serba putih mendekat.
“Keluarga Azmi Abdullah,” tanyanya super ramah.
“Iya, Dok.” Muezza buru-buru menyahuti.
__ADS_1
Seulas senyum terbingkai dibibir seorang dokter.
“Mari, kita bicara sebentar!” Wanita itu mengambil langkah, mengiringi Muezza, Gina dan Rahma dalam sebuah ruangan di ujung koridor yang tidak begitu jauh dari ruang ICU.
“Silakan!”
Rahma dan Muezza menurut duduk dalam kegamangan, sementara genggaman tangan Muezza seakan berbisik, bahwa mereka harus menerima atas segala hal buruk yang mungkin saja terjadi.
“Dari rekam medis, 6 tahun lalu pernah operasi transplantasi hati di rumah sakit ini ya?”
Kini giliran Gina yang menjawab, mengiyakan.
Wanita berjilbab hitam tersebut mengangguk dengan senyum nanar.
“Suami saya baik-baik saja ‘kan, Dok?”
Namun, alih-alih menjawab, wanita itu hanya tersenyum tipis. Dia memutar engsel kursinya untuk mengambil sebuah berukuran besar.
“Saya jelaskan dulu keadaannya agar lebih jelas.” Dokter bernama Mirna membuka amplop, kemudian mengeluarkan hasil radiologi.
“Suami saya tidak bisa dioperasi, Dok? Tolong bantu kami, Dok!” mohon Rahma sambil menakupkan kedua tempak tangannya.
“Ibu sabar ya, kita bisa melakukan operasi. Tapi pemeriksaan biopsi dan mencari donor juga butuh waktu lama, sementara kondisi pasien terus menurun sejak masuk UGD sudah beberapa kali muntah darah.”
“Lalu, adik saya gimana, Dok? Gina memberanikan diri untuk bertanya dengan suara yang lirih.
Bukannya menjawab, dokter terbut malah menatapnya dengan pandangan iba. Tatapan itu perlahan-lahan membuat jantung Gina seakan-akan digenggam erat sampai-sampai rasanya dia kesulitan untuk bernapas.
“Selamab 24 jam akan terus kami pantau perkembangan pasien. Berdoa saja agar kondisi pasien membaik dan kamu bisa menindak lanjuti penanganan,” ucap Dr. Mirna sambil menyuguhkan senyuman.
Saat itulah tangis Rahma jatuh terurai. Dia memeluk Gina yang sama-sama bergetar. Jika ada satu keajaiban saja di dunia ini, bisakah Rahma mengemis untuk suaminya. Bisakah?
...****************...
“Mas, denger suaraku enggak?” Perlahan-lahan meski terasa semakin memberat, sepasang kelopak mata Azmi terbuka menyiratkan pandar teduh yang menyakitkan.
"Sayang?" Suaranya terdengar lirih. Tangan penuh lukanya mencari tangan Rahma untuk dia genggam. Begitu Azmi mendapatkannya, perasaan menghangat perlahan.
__ADS_1
"Mas kenapa kayak gini, Mas?" tanya Rahma dengan air mata yang susa payah dia tahan.
"Aargh, sakit Yang ...," katanya sempat terpenggal sebab untuk waktu yang lama, susah payah Azmi mengambil napas.
Rahma yang mendengar ucapan suaminya sontak menunduk demi melihat luka yang mana yang parah, sehingga suaminya mengeluh sakit.
"Mana yang sakit, Mas?"
"Semuanya ...," rintihnya sambil meringis, pria itu tidak bohong saat dia mengatakan itu. sekujur tubuhnya nyeri minta ampun.
Dalam sisa kesadaran menuju rumah sakit, Azmi sempat bertanya-tanya pada dirinya.
Apa begini rasanya sebelum nyawa lepas dari raga?
"Mas!" pekik Rahma lirih melihat kelopak mata suaminya terpejam.
Sekian lama Rahma memanggil akhirnya suaminya itu sadar kembali. Di sana ada Tante Gina duduk di sebelah ranjang Azmi. Mengusap kepalanya dengan pandangan yang paling menyakitkan yang pernah Azmi lihat.
"Adek masih ingin memiliki usaha sorum motor enggak?" tanya Tante Gina sambil menyekat air matanya.
"Waktu itu katanya Adek sudah ada sebagian uang buat modal, nanti sisanya kakak yang tambahin. Pulang dari sini kita cari lahan yang strategis, ya Dek?"
"Ikhlas enggak?" Pertanyaan konyol yang Azmi tanyakan, entah kenapa sejak tadi pria ini terlihat seperti anak kecil bukan lagi seorang ayah dari kedua anak-anaknya.
Tante Gina mengangguk berat, "Ikhlas."
"Tapi, kok nangis?" cicit Azmi.
Sedikit nyeri dan perih saat tiba-tiba Tante Gina mengecup pelipis adik laki-lakinya.
"Jangan kayak gini 'lah, Dek. Sehat lagi, ya?"
Siapa yang tega melihat Azmi dalam keadaan seperti ini? Sekujur tubuhnya dipenuhi luka. Sebagian tampak bengkak dengan semburat hijau keunguan, ada bagian rambutnya yang dicukur. Hanya untuk memperlihatkan jahitan yang masih basah.
Tubuh Azmi dipenuhi kabel, sementara lewat layar tekanan darahnya berangsur-angsur menurun. Azmi tidak mampu mengatakan saat suara monitor di atas kepalanya berbunyi secara teratur. Dalam bayang-bayang sepi itu Azmi tiba-tiba teringat wajah manis dan imut Muezza dan Alif.
"Di mana Kakak dan Adek?"
__ADS_1