
Timah panas melesat menembus udara sampai mencebik daging Raja Gendra hingga pria itu terkulai. Sedetik dua insan tersebut merasa lega, tapi Kanilaras merasa aneh dengan kekalahan manusia iblis itu.
Pasalnya sejak dia pertempuran itu terjadi, satu serangan Kanilaras tidak dapat melukai pria itu. Namun, kenapa tembakan senjata Kendrick dapat melukainya.
“Kenapa kau diam saja? Ayo pergi!” bentak Kendrick yang sudah memapah Kanilaras.
“Tunggu Ken!” cegah Kanilaras yang tidak percaya akan kemenangan ini.
“Apa lagi?” tanya Kendrick melotot.
Kanilaras melangkah tertatih mendekati Raja Gendra yang terbaring dengan beberapa lubang di tubuhnya.
Netra Kanilaras meneliti setiap luka yang ditimbulkan oleh senjata Kendrick. Ketika dia memalingkan pandangan Raja Gendra bangkit dan mencekik leher Kanilaras dengan sangat kuat.
Dalam 1 menit 38 detik, Kanilaras kehilangan fungsi ototnya. Gerakan pernapasan perlahan turun dan akan berhenti pada menit ke-2. Lalu gadis itu tidak bisa bernapas. Setelah merasakan sakitnya tercekik, nyeri yang luar biasa menjalar ke tengkuk dan dada. Matanya melotot dan terasa perih karena tekanan. Tekanan itu menyebabkan penyumbatan udara dan pembuluh darah ke otak atau tekanan pada syaraf vagus.
“Serahkan dua pusaka itu atau kau akan mati!” ancam Raja Gendra dengan bibir yang terkatup.
Suara erangan Kanilaras membuat amarah Kendrick memuncak, pria itu berlari sambil terus menembaki Raja Gendra dari jarak jauh.
Perwujudan dua jiwa itu murka dengan tindakan Kendrick, dengan sekali gerakan tangan tubuh pria itu melayang dan terhempas jauh di sana. Darah segar keluar dari mulutnya, dadanya terasa panas dan bola mata berwarna Hazel Green itu bergolak.
Bersamaan dengan kemurkaan Raja Gendra, jiwa pedang naga bangkit menguasai tubuh Kendrick.
Raungan Kendrick membuat pedang bulan bergetar hebat, belahan pusaka itu bergerak membuat tanah retak. Bulan bergerak perlahan menelan matahari, bumi yang semula diterangi cahaya matahari kini gelap bagaikan malam hari.
Sontak Raja Gendra mendongakkan kepala melihat fenomenal aneh ini. Cengkeraman tangannya perlahan mengendur seraya melirik ke arah Kendrick yang telah merobek kemeja hitam yang membalut tubuhnya.
Dada bidang Kendrick memperlihatkan siluet naga yang bergerak tiada henti. Kendrick merasakan bahwa ada sesuatu di dalam dadanya yang ingin keluar paksa.
__ADS_1
“Rupanya kau bersarang di sana,” ucap Raja Gendra seringai.
Manusia setengah iblis tersebut melepas cekikan leher Kanilaras dan berjalan cepat menghampiri Kendrick yang meronta kesakitan.
“Ken lari!” teriak Kanilaras.
Namun, peringatan yang Kanilaras berikan tidak didengar oleh Kendrick.
“Kali ini aku akan mendapatkan semua yang aku inginkan.” Tersenyum dengan bibir rapat.
Tidak ingin Kendrick celaka Kanilaras berdiri dan melayang menghalangi gerak langkah Raja Gendra.
“Hiyak ...,” teriak Kanilaras sambil mengarahkan pukulan ke tubuh Raja Gendra.
Sayang sekali perhitungan Kanilaras meleset, pria iblis itu menghilang dari sana dan muncul tiba-tiba di belakang Kanilaras. Tanpa basa-basi lagi Raja Gendra menghadiahi Kanilaras dengan tapak mustika—ajian tengah milik Raja Gendra yang jarang sekali dia gunakan.
Sedikit pun gadis itu tidak dapat mengangkat tangan kirinya, di dalam kelemahan ini Kanilaras berteriak.
“Terkutuk bulan dan matahari!”
Tusuk konde bulan sabit yang terjatuh di dalam goa melayang menyatu dengan matahari yang di telan bulan. Kanilaras yang melihat hal itu terpaku dan dia teringat akan pesan jiwa pedang naga pada malam itu.
Kau harus membangkitkan ku dengan jiwa 77 gadis yang membelah bulan menelan matahari.
Mungkinkah ini yang dimaksud? Tanya Kanilaras sambil menatap Kendrick yang meronta di hadapan Raja Gendra.
“Kau akan menjadi budakku,” ucap Raja Gendra dengan senyum jahatnya.
Ketika pria itu hendak merobek dada Kendrick, Kanilaras melempar ranting pohon untuk mencegah perbuatan Raja Gendra.
__ADS_1
Perwujudan dua roh itu menatap batu besar lalu batu tersebut bergerak cepat ke arah Kanilaras berada. Namun, bongkahan batu itu di halau oleh Kendrick.
Sorot mata Kendrick menukik bagai elang yang mengincar mangsanya dari atas. Perlahan batu itu dia lempar ke arah Raja Gendra, sekejap mata batu itu hancur cuma karena ditatap Raja Gendra.
“Bodoh kenapa kau tidak melakukannya!” decak Kendrick menghina Kanilaras.
Kening gadis itu mengernyit, dia tidak paham akan ucapan Kendrick.
“Cepat ambil pedangmu dan arahkan ke atas gerhana matahari,” titah Kendrick yang telah melayang di udara.
Aku yakin, dia bukanlah Kendrick. Batin Kanilaras yang melangkah sempoyongan meraih pedang bulan yang tertancap di pohon.
Bersusah payah gadis itu mencabut pedangnya, lalu dia berdiri mendongakkan kepala menatap gerhana matahari. Dilakukan perintah Kendrick tadi, dengan jiwa yang tulus Kanilaras berucap.
Jabang bayi hang arane Kanilaras piturune Ratu Daneswara nyebut lan baten sukmo pedang nogo hang dipendem jeru ono neng rogo piturune nogo Balawan.
Selepas mengucapkan mantra tubuh Kendrick yang berada di dalam cengkraman tangan Raja Gendra terangkat tinggi dan memancarkan cahaya kemuning. Tanpa mengucapkan mantra lagi tubuh Kendrick melesat mendekat dan pedang bulan menghunus ke tubuh pria itu dan membelah dada bidang Kendrick.
Air mata berlinang di ujung mata Kendrick—pria yang Kanilaras cintai. Jeritan gadis itu mengiringi menyatunya jiwa pedang legenda yang selama ini banyak dicari kalangan pendekar.
Raja Gendra yang melihat hal itu hanya memperhatikan dan bersiap mengambil ancang-ancang merebut pedang legenda itu dari tangan Kanilaras.
****
Katra yang sudah sampai di pinggir hutan merasakan aura dahsyat dari bangkitnya jiwa pedang naga.
“Kenapa ini terjadi bukan karena aku!” katanya penuh amarah.
Tidak ingin gagal Katra kembali jantung hutan untuk merebut pusaka turunan dua raja yang dulunya bermusuhan.
__ADS_1