Bukan Lelakiku

Bukan Lelakiku
Susah Ditebak


__ADS_3

Muezza berbalik menghampiri Fenny dengan wajah belernya.


“Kok cepet banget!” Netra Fenny melihat ke sudut lain.


Muezza tersenyum jengah lalu berbicara, “Aku belum ke sana, Kak.”


“Aduh-aduh Muezza!” Pekik Fenny lirih, dia tidak habis pikir dengan rekan kerjanya ini.


“Kenapa kamu balik arah? Cepat sana ke taman belakang!” usir Fenny sembari mendorong pelan tubuh gadis itu.


“Aku enggak tahu jalan menuju taman. Boleh antar aku Kak?” Memainkan jari-jemarinya sendiri.


Bila Muezza gugup atau cemas, dia akan melakukan dua hal. Pertama akan menggeliat sambil merintih. Ke dua, gadis itu akan terus memainkan jari dan menggigit kukunya.


“Di sebelah ruang karyawan ada pintu, nah kamu masuk aja itu jalan menuju ke belakang bangunan ini.” Tangan Fenny bergerak memberitahu arah menuju taman belakang.


Bangunan yang cukup unik, semua ruangan dan tatanan furnitur dan segala ruangan didesain sendiri oleh Alun. Itu sebabnya pelanggan Yoman kafe sangat menyukai coffe shop ini, bagi mereka yang suka memamerkan kegiatan tempat ini cocok untuk bersua foto.


Muezza ragu masuk ke sana, dia merasa akan ada peristiwa yang akan menyulitkannya.


Apa perlu aku ke sini? Untuk apa aku dipanggil kemari? Mereka ‘kan bisa bertemu denganku di kantor, gerutu Muezza dengan langkah mengendap-endap.


Manik hitam itu menelisik setiap inci taman belakang yang minimalis ini. Berbagai bunga hias yang memiliki aroma yang sangat wangi tertata rapi di berbagai sudut, dari Kacapiring, Arumdalu dan primadona di tempat ini Geranium Wangi.


Ada banyak spesies geranium yang ditemukan di seluruh dunia. Beberapa di antara tanaman bergenus Pelargonium ini memiliki daun yang mengandung minyak aromatik. Minyak inilah yang biasanya tidak disukai nyamuk dan inilah sebabnya Geranium Wangi menjadi favorit Alun untuk menghiasi taman ini.


“Kok sepi, siapa yang harus aku temui di sini?” ujar Muezza yang sudah berjongkok mencium aroma bunga yang berwarna putih.


Di sudut taman seseorang tengah memperhatikannya dengan saksama, senyum tipis tercipta selepas gadis itu tidak sengaja menjatuhkan guci kecil di atas meja.


Muezza yang mendengar derap langkah langsung berdiri dan menolehkan kepalanya.


“Maaf, saya tidak sengaja,” akunya dengan kepala tertunduk.


Alun berjalan melewatinya dan duduk di kursi dengan kaki yang menyilang.


“Apa alasanmu kerja di sini? Dan, kenapa kamu tidak kuliah?” berondong Alun sambil menikmati secangkir latte.


Muezza diam, dia memikirkan jawaban yang tepat. Tidak mungkin jika dia berkata jujur tentang perekonomian orang tuanya, dirinya berpikir kalau Alun akan menganggapnya mencari alasan untuk membenarkan dirinya memilih bekerja dari pada kuliah.


Mungkin sebagian orang akan mengerti, tapi tidak banyak orang yang akan salah paham untuk masalah ini.


“Kenapa diam?” protes Alun yang sudah memberikan Muezza lirikan tajam.


Susah payah Muezza menelan salivanya, pikirnya dia tengah dalam bahaya. Suara bariton dan tatapan mengintimidasi mendesak buliran itu untuk keluar, tapi sekuat tenaga Muezza menahan dan mengatur ritme pernapasan agar tidak terdengar bergetar saat berbicara.


“S-saya ...,” gugup, dia sangat gugup saat ini sehingga ucapannya tidak sempurna keluar dari bibir tipis itu.


“Saya kenapa?" bentak Alun tidak sabaran, "apa susah menjawab dua pertanyaanku?” desak Alun yang sudah tidak sabar mendengar alasan teman adiknya.

__ADS_1


“Saya ingin kuliah, tapi saya harus bekerja dulu untuk mewujudkan keinginan saya itu.”


Alun mengangguk, dia sangat puas mendengar jawaban Muezza. Secangkir latte kembali dia seruput dan memberikan tempat untuk Muezza.


“Silakan duduk!”


Ragu-ragu Muezza duduk di hadapan pria menyeramkan ini, perasaan gugup yang biasa dia rasa kini berubah menjadi rasa khawatir.


“Apa saya salah bekerja di sini? Jika kehadiran saya di kafe ini mengganggu, saya akan mengundurkan diri.” Penuturan Muezza yang terbilang buru-buru saat menerka keadaan membuat Alun menyilangkan kedua tangannya di dada.


“Dasar bocah! Baru kerja udah mau pulang aja!” cemooh Alun dengan wajah flatnya.


“Di luar sana, banyak yang ingin bekerja. Ini kamu baru mulai bekerja sudah mau berhenti,” lanjutnya mencibir keputusan Muezza gadis 18 tahun tersebut.


Tentu saja gadis itu terkejut dan reflek menatap wajah Alun lekat-lekat.


Apa sih tujuan orang ini? Sepertinya aku salah menjatuhkan hatiku padanya, gumam Muezza lirih dalam hati.


“Apa yang kamu perhatikan?” ketusnya sambil meletakkan kotak rokok beserta pematiknya.


“Maaf!” katanya pelan.


“Maaf-maaf, hanya itu yang bisa kau katakan?” gerutu Alun bersungut-sungut.


Hening, tidak ada suara apa pun selain suara deru jantung Muezza, tidak dapat dipungkiri jiwa gadis itu meronta ketika berdekatan dengan Alun. Meski tadi dia merasa khawatir akan nasibnya di tempat ini, dia pikir Alun akan memecatnya karena tidak menyukai kehadirannya di kafe ini.


Setelah sekian menit berlalu Alun memberi secarik kertas kepada Muezza. Dia yang sudah penasaran langsung memajukan kepala melihat dengan teliti deretan rules di kertas tersebut.


“Kalau kerja jangan banyak bengong dan jangan telat. Aku tidak suka lihat orang males dan banyak alasan!” peringatan untuk Muezza di hari pertamanya kerja.


Gadis yang memiliki nama lengkap Muezza Irabela mengangguk dan beranjak dari tempat duduknya. Namun, gerak gadis itu membuat Alun mendongak dan mencebik.


“Siapa yang menyuruhmu pergi!”


Gadis itu salah tingkah mendengar Alun berkata.


“Saya pikir sudah selesai penjelasannya,” tutur Muezza dengan tangan yang menggaruk ujung kepala.


“Duduk!” titah Alun tegas.


Ya Allah, rupanya begini sifat asli manusia yang aku cintai.


Dari ekor matanya dia melihat wajah natural Muezza yang tanpa make up.


“Apa kau sudah memahami apa yang aku tulis di situ?” tunjuk Alun dengan dagunya.


Secarik kertas tersebut diangkat sebentar lalu gadis itu mengangguk kecil.


“Insyaallah saya paham, Pak!” bebernya.

__ADS_1


Kulkas 7 pintu tersebut menolehkan kepalanya, dia tidak percaya bahwa gadis itu akan memanggilnya dengan sebutan ‘Pak’.


“Apa penampilanku setua itu, heum?”


Muezza merapatkan mulutnya dan bola mata gadis itu bergolak. Dia benar-benar akan mati berdiri jika terus-terusan di dekat Alun.


Mario yang sudah memperhatikan dua manusia itu segera menghampiri Muezza dan sahabat sekaligus bosnya.


“Apa yang lo lakukan, bro?” Mario menepuk bahu Muezza pelan dan setelahnya lelaki itu menatap Muezza dengan kedua alisnya yang terangkat ke atas.


Susah payah gadis itu menyuguhkan senyuman.


“Bisa tinggalkan kami, Mue!” ucap Mario memerintah.


“T-tentu, saya permisi Pak!” katanya berpamitan.


Lagi-lagi Alun terlihat emosi mendengar sebutan itu.


“Tidak bisakah kau memanggilku seperti Ayas!” tuntut Alun dengan mata yang membulat.


“Maksud Bapak, sebutan ... Abang?” Muezza mengatakan kata ‘abang’ dengan sangat perlahan.


Mario menatap mereka dengan tatapan bingung, sebelah alis lelaki itu terangkat sebagai responsnya yang tidak begitu paham perang emosi ini.


“Sudah cukup!” pekik Mario tidak tahan, “Muezza, cepat ke depan!” usir lelaki itu setelah memberhentikan perdebatan tanpa ujung.


Mario menatap gadis itu yang telah menghilang setelah pintu tertutup, sedangkan Alun masih dengan posisi duduknya tanpa bergeser ataupun melihat Mario.


“Lo kenapa bro?” tanya Mario serius.


Bukannya menjawab, Alun malah balik bertanya kepada Mario.


“Memangnya kenapa dengan gue?”


“Lo kenal sama tu cewek?” tandas Mario sambil menarik sebatang rokok.


“Iya, memang kenapa?” Jawaban singkat yang keluar dari bibir Alun.


“Sudahlah!” putus Mario sembari menyalakan rokoknya yang sudah terselip di bibir.


Bukan tidak penasaran, Mario hanya menghindari kesalahpahaman dengan Alun. Dia tidak ingin berdebat ataupun bertengkar dengan sahabat kecilnya.


“Ngomong-ngomong bagaimana dengan rencana lo?” tanya Mario sambil menikmati rokok.


“Gue sudah memutuskan.”


“Orang tua lo setuju?” ucapnya santai.


Alun terdiam sejenak lalu dia menggeleng.

__ADS_1


__ADS_2