Bukan Lelakiku

Bukan Lelakiku
42


__ADS_3

Ketika Amongka duduk di sebelah Katra, perlahan pria picik itu menarik belati dari punggungnya lalu ditusuk perut bagian kanan pati Raja Daneswara.


Sontak Amongka menolehkan kepalanya ke sebelah, dia melihat senyum jahat tercetak jelas di wajah Katra.


"Sungguh biadab kau!" ucap Amongka yang sudah berdiri tegap sambil menatap tajam ke orang itu.


"Kau terkejut?" Katra tertawa kecil melihat wajah beler Amongka.


"Seharusnya kau memasang wajah datar seperti biasanya," imbuh Katra sambil mengusap darah Amongka yang tertinggal di belati bergagang perak.


"Seharusnya aku tidak mempercayaimu keparat!" bentak Amongka sembari menarik pedangnya.


Lagi-lagi pria licik itu tertawa sinis, "Jangan banyak bergerak!" Katra memberi saran.


Bukan, itu bukan saran melainkan peringatan yang akan membuat gurat kemarahan Amongka semakin membuncah.


Jiwa kesatria Amongka melarangnya untuk berdiam diri mendapat hinaan dan pengkhianatan seperti ini. Dengan tenaga yang tersisa Amongka melangkah maju dan menghunuskan pedangnya ke sembarang arah, dia berharap serangannya ini bisa membunuh Katra.


Bukan Katra jika tidak dapat membaca gerak langkah Amongka, segenap tenaga Katra menangkis dan melawan serangan dadakan dari Amongka. Naasnya Amongka muntah darah dan tenaganya terkuras habis, dapat dipastikan racun pucuk bringsang telah menyebar di pembuluh dara Amongka.


Terlihat dada pria itu naik turun, bisa diperkirakan bahwa Amongka kesulitan dalam bernapas. Kedua kaki jenjang itu lemas dan tidak mampu lagi menopang untuk berdiri tegap, suara napas yang memburuh membuat Katra kegirangan.


"Aku sudah memberitahumu agar tidak banyak bergerak, tapi kau ... ngeyel untuk menyerang ku." Menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Kau mau aku bantu lebih cepat pergi ke neraka?" tawar Katra sambil memajukan kepalanya mendekat ke wajah Amongka yang tengah kesakitan.


"Kau ... manusia t-tidak tahu d-diri," cicit Amongka dengan telunjuk yang mengacung ke arah Katra—manusia kejam.


Raut wajah Katra berubah, jelaga hitam itu mendelik tatkala dia menempeleng wajah Amongka.


"Berani sekali kau menghinaku!" decak Katra sambil menginjak dada Amongka.

__ADS_1


Tanpa menunggu racun itu membunuh Amongka, Katra menancapkan belati yang sama di dada Amongka. Pria bertubuh kekar tersebut meringis menahan sakit yang dia rasakan saat ini, di detik-detik terakhir Amongka bersumpah jika ditakdirkan terlahir kembali dia akan membunuh Katra dengan cara yang sangat keji sehingga manusi licik itu memohon kematiannya sendiri.


"Akan ku pastikan kau mati ditangan ku walaupun aku tidak terlahir lagi ke dunia ini. Aku akan bangkit menyiksamu hingga kau memohon kematian!" tandas Amongka dengan gigi yang merapat.


"Berdoalah sesuka hatimu Amongka! Aku tidak akan lari ataupun bersembunyi, ha-ha-ha ...."


Di sela tawa kepuasan Katra ada petir yang menyambar seakan memberi restu akan sumpah Amongka.


Selepas memastikan Amongka mati Katra membawa kuda kebanggaan Amongka ke jalan menuju perdesaan sebelum kawasan kerajaan Kastara, tidak lupa dia menggoreskan pedangnya ke tubuh kuda malang itu.


"Pulanglah dan kabarkan kematian tuanmu!" pesan Katra pada binatang jinak tersebut.


Seakan paham dengan ucapan Katra, kuda yang bernama Pendil itu berlari sangat kencang dan tanpa disadari Katra kuda jantan tersebut meneteskan air mata. Meski dia hanya seekor hewan, tapi dia dapat merasakan kesedihan yang mendalam.


Dari kejauhan dia melihat dengan jelas siksaan yang dialami tuannya. Setelah kematian Amongka rencana Katra berjalan lancar bahkan bisa dibilang rencananya tidak pernah meleset dan ada saja orang yang membantunya dengan suka rela tanpa pamrih.


Rencana Raja Daneswara meminta bantuan dari kerajaan Sertayosa gagal akibat tewasnya orang kepercayaan Raja Daneswara. Di malam ke tujuh meninggalnya Amongka, Katra menyelinap masuk ke dalam istana dia berencana mencuri bayi lucu yang masih berusia beberapa minggu.


Sebelum Katra masuk dia meminta penjaga kediaman Ratu Damanik mengalihkan perhatian pengawal yang berjaga di sekeliling rumah ratu Damanik.


Pria tersebut senyum-senyum, bukan karena gerakan lucu melainkan janji yang diucapkan Katra. Sekian lama menunggu laporan akhirnya Katra bisa masuk ke dalam sana dan dengan arahan pengawal Katra bisa dengan leluasa menyusuri setiap ruangan, pada akhirnya dia bisa melihat dua bayi kecil tertidur lelap di dipan.


Akhirnya aku menemukanmu, batin Katra sambil mengeluarkan sebuah kain putih dari balik bajunya.


Bayi mungil itu adalah Ananda yang diakui sebagai anak Katra di masa depan dan saat itu juga Katra bertekad menggunakan Ananda sebagai ancaman kerajaan Sertayosa. Dia juga membuat alibi saat menuju kerajaan Sertayosa dia diserang segerombolan orang berilmu tinggi sehingga tidak mampu melawan ataupun menyelamatkan diri.


Tentu saja pria itu membuat dirinya terlihat babak belur dan mengaku terkena ajian gondo rowo. Bukan Katra namanya jika tidak dapat meyakinkan lawan bicaranya, sebelum kembali ke istana dia terlebih dahulu menyembunyikan Ananda di sebuah goa yang jauh dari jangkauan manusia yang bisa mengancam posisinya.


Katra juga membawa seorang emban yang dapat dia percaya, singkat cerita kedudukan Katra semakin kuat dia juga telah mempersiapkan kehancuran kerajaan selanjutnya. Namun, setelah mendengar rahasia besar kerajaan Kastara dia memilih membuat Raja Daneswara dan seluruh anggota keluarganya mati.


Kerjaan Sertayosa juga tidak luput dari pembantaian, Katra berpindah haluan dari ingin menguasai tanah Jawa kini ingin menjadi pemimpin dua kehidupan. Namun, usahanya harus lebih payah dan lebih keras lagi mewujudkan impian itu.

__ADS_1


Maka dia mengumpulkan para pendekar untuk pergi ke masa depan, dia juga mempersiapkan segala sesuatunya dari belajar memindahkan orang yang berperan besar dalam impiannya ini dan dia juga selalu merubah penampilannya.


Hingga saat ini dia masih saja lolos dan dengan mudah memanipulasi keadaan. Semua orang yang bertemu dengan Kanilaras adalah bagian dari rencananya. Kendrick, Ananda, Bibi Kenny dan juga Beril.


Itulah orang yang dia persiapkan, tapi dia tidak mengatur ataupun mengarahkan setiap orang. Dia hanya menaruh Kanilaras di tempat aman dan orang tepat yang bisa menjaga Kanilaras dan juga pedang bulan, bodohnya Katra tidak mengetahui bahwa Kendrick pemilik jiwa pedang naga yang selama ini dia cari.


Dia juga tidak tahu bagaimana membangkitkan jiwa pedang tersebut, itu sebabnya rencananya tidak berjalan semulus dalam pikirannya. Dia selalu kesulitan mencari keberadaan jiwa pedang naga, setelah dia tahu siapa pemilik pedang naga sesungguhnya, tetap saja dia tidak bisa menyatukan dua pusaka tersebut.


****************


"Kenapa Ayah lama sekali? Lihat aku sampai membunuh orang lagi!" kata Ananda memperlihatkan orang yang dia anggap ancaman.


Pemuda itu selalu menuruti perintah Katra—orang yang dia anggap sebagai ayah. Ananda juga selalu membantu Katra dalam segala hal, mengamankan identitas dan pemuda itu juga mau mengorbankan nyawanya sendiri.


Namun, Ananda akan merasa bersalah setelah membunuh orang. Sesungguhnya hati pemuda itu sangat lembut, tapi sayang didikan Katra selalu mengubah pemikiran Ananda.


Sewaktu-waktu pemuda itu akan membantah titah ayah angkatnya, dia memilih pergi ke hutan untuk menenangkan diri dan menjauhi ayahnya selama mungkin sampai dia merasa tenang.


“Bagaimana kau bisa membawa mereka berdua kemari?” tanya Katra sambil mengarahkan telapak tangan ke arah pria paru baya yang tidak jauh darinya.


Ananda berdecih, “Sangat mudah dan tidak perlu menghabiskan banyak tenaga.”


Katra melirik tidak percaya pada anak angkatnya tersebut.


“Di mana dua pusaka itu?” Alis Katra terangkat saat melontarkan pertanyaan.


Ananda menggaruk kepalanya dan mengingat percakapan Kanilaras pada malam itu.


“Yang aku dengar pada saat itu, jiwa pedang naga berpesan pada Kanilaras 'agar membelah bulan dan menelan matahari saat terik'.” Ananda mengulang kalimat itu sampai dua kali.


Namun, tetap saja dia tidak mengerti arti kata-kata tersebut, bahkan dia sampai pusing bila mencoba mencerna kata bersyarat.

__ADS_1


Sedangkan Katra diam sambil menyanggah dagunya dengan tangan kanan. Pria licik tersebut memutar otak untuk mengerti arti pesan jiwa pedang naga.


Apa yang hendak dia sampaikan melalui kata-kata itu? Apa itu membelah bulan dan menelan matahari? Apakah dia mengerti dengan kalimat syarat itu? Batin Katra sambil terus menatap wajah Kanilaras yang masih tidak sadarkan diri.


__ADS_2