Bukan Lelakiku

Bukan Lelakiku
40


__ADS_3

Beberapa waktu lalu sebelum Raja Gendra datang menyerang tempat persembunyian Katra, dia melakukan ritual pembangkitan kedua Ratu Kegelapan menggunakan 3 gadis SMP yang dibawa oleh Alingga.


Tidak seperti pembangkitan pertama, Raja Gendra cukup kesulitan karena rumah itu bukanlah petilasan terakhir Ratu kegelapan.


“Mohon ampun Paduka Raja sebaiknya kita ulangi ritual ini dari awal,” saran Alingga sembari menyayat telapak tangan kirinya.


“Ya, kau benar. Kita harus mengulangi ritual ini dari awal. Namun, kenapa kau melukai tanganmu?” tanya Raja Gendra dengan alis terangkat.


“Hamba juga tidak mengerti kenapa hamba melakukan ini?” cakap Alingga dengan kepala dimiringkan.


Lalu, tanpa ragu Alingga mengitari ketiga korban dan Raja Gendra dengan darahnya yang dia gunakan untuk membuat lingkaran pembatas.


“Kau masih perjaka Alingga?” tanya Raja Gendra dengan mata yang menyipit, “di usia ini?” lanjut Raja Gendra, dia benar-benar tidak percaya akan keperjakaan Alingga.


Bertahun-tahun mereka bersama, tapi Raja Gendra tidak mengetahui bahwa panglima perangnya masih suci. Kenyataan yang cukup mencengangkan.


“Hamba tidak tertarik berhubungan dengan wanita. Menurut hamba hubungan itu terlalu rumit,” ungkap Alingga dengan hati tertalu-talu.


Masa kecil Alingga sangatlah nelangsa, ayahnya pemabuk dan pejudi sehingga dia tega menjual ibu Alingga kepada petinggi desa demi mendapatkan koin emas untuk modal berjudi. Sejak saat itu Alingga tidak ingin memiliki hubungan dengan wanita mana pun.


Selepas Alingga meneteskan darah terakhirnya, angin kencang datang dan petir menyambar persis seperti pembangkitan Arimbi pada saat itu. Suara gemuruh hujan bercampur angin kencang membuat bangunan kokoh itu bergetar dan roboh, tapi Alingga dan Raja Gendra tidak gentar mereka tetap meneruskan ritual tersebut.


Sampai di mana suara tawa khas Arimbi membuat Raja Gendra tersenyum bangga pada dirinya sendiri dan tanpa sadar dia memeluk Alingga dengan suka cita.


“Berkat kau, ritual ini berhasil Alingga. Kau memang panglima kebanggaan ku,” ucap Raja Gendra penuh suka cita.


“Wahai roh tersesat Ratu Kegelapan pilihlah salah satu dari tumbalku ini,” sambut Raja Gendra dengan menuding tiga gadis yang tergeletak di dalam lingkaran darah Alingga.


Roh Arimbi mendekat ke lingkaran darah tersebut, lalu roh itu mencoba menyatukan diri dengan raga tiga gadis itu. Namun, sayang rohnya tidak mau merasuk ke dalam raga tiga gadis yang menjadi persembahan Raja Gendra.


“Bodoh! Kalian menyajikan raga tidak suci untukku!” cemooh roh Ratu Kegelapan.


Penuturan roh tersebut membuat Raja Gendra menatap tajam panglima kebanggaannya tersebut.


“Beribu ampun Paduka, hamba tidak mengetahui hal besar ini. Hamba hanya melihat mereka masih muda,” jelas Alingga sambil berlutut di kaki Raja Gendra.

__ADS_1


“Bagaimana bisa kau tidak mengetahui hal ini, Alingga!” bentak Raja Gendra dengan rahang yang mengeras.


Alih-alih membantah pria itu malah menyodorkan pedang kepada junjungannya.


“Bunuh hamba Yang Mulia Raja,” tegasnya tanpa rasa takut.


Raja Gendra menatap nanar abdi setianya, lalu dia berbalik badan memunggungi Alingga yang masih berlutut.


“Wahai sekutuku, bagaimana jika mau menyatukan diri kepada raga ini?” tawar Raja Gendra sambil menepuk dada kanannya.


“Aku butuh raga suci! Bukan raga iblis kotor sepertimu!” Suara lantang itu membuat pepohonan di sekitar sana tumbang dan hancur.


Bukan pepohonan saja yang merasakan kedahsyatan suara menggelegar itu, Alingga sang panglima perang juga merasakan bahwa gendang telinganya pecah setelah jeritan roh Arimbi.


“Kau mau hidup atau mau menjadi roh penasaran seperti itu saja?” tunjuk Raja Gendra dengan kedua tangannya di pinggang.


Diam dan sunyi, tidak ada perdebatan di detik berikutnya. Roh Arimbi masih berkeliaran di sekitar Raja Gendra, seakan dia tengah menimbang rasa harus mengambil keputusan apa yang benar untuk saat ini.


Sekian menit terdiam dalam gerak liar, Arimbi mengiyakan tawaran Raja Gendra yang tidak masuk akal. Karena selama ini Arimbi mengetahui bahwa dia hanya bisa menyatu dengan raga suci.


“Persiapkan dirimu dan singkirkan tiga gadis tidak berguna itu!” perintah Arimbi dan dia meminta Raja Gendra untuk menelan habis jantung dan hati salah seorang gadis yang Alingga bawa tadi.


“Aargh ...!” jerit Raja Gendra bertanda bahwa roh Arimbi telah menjadi satu dengan jiwa dan raganya.


Ketika kelopak mata itu terbuka tampak jelaga hitam milik Raja Gendra berubah menjadi hitam kemerahan. Bukan itu saja yang berubah, penampilan Raja Gendra kali ini lebih berkarisma dan lebih garang dari sebelumnya.


Setiap kata yang keluar dari mulutnya menjadi nyata, mendapati kesakitannya bertambah Raja Gendra mencoba kembali ilmu kanuragannya tanpa ragu-ragu.


“Hancur!” katanya dengan sorot mata tertuju ke pilar yang masih berdiri kokoh di seberang sana.


Tanpa gerakan apapun pilar itu hancur berkeping-keping. Tentu saja Alingga tersenyum melihat rajanya bersemangat dengan hal ini.


“Kau jangan senang dulu Gendra.” Pengucapan itu keluar dari bibir Raja Gendra sendiri, tapi ini bukan dia melainkan Arimbi—Ratu Kegelapan.


“Kenapa aku tidak boleh senang? Tubuhku menjadi lebih enteng dan ilmuku bertambah,” akunya dengan senyum tersungging.

__ADS_1


“Bodoh, cari dua pusaka itu! Aku tidak mau terus-terusan di dalam tubuh busukmu ini,” katanya mendebat dirinya sendiri.


Alingga pun merasa bingung melihat rajanya berbincang dan berdebat dengan dirinya sendiri. Mau marah tidak bisa karena Arimbi ada dalam tubuh Raja Gendra, panglima perang tersebut hanya bisa pasrah dengan keadaan ini.


“Kau tenang saja Arimbi, aku sudah mengetahui niat busuk Katra. Pria kurang ajar itu telah mendapatkan dua pusaka yang kita cari selama ini,” ucap Raja Gendra menyahuti perintah Arimbi.


“Jadi tunggu apa lagi!” bentaknya dengan mata mendelik menatap Alingga.


****************


Suara teriakan Kanilaras memekakkan telinga dan kedua tangannya yang menggenggam erat pedang bulan terangkat ke atas. Diayunkan pedang tersebut ke berbagai arah dan sesekali kakinya bergerak maju menendang, tapi tendangannya tidak bisa mengenai tubuh Raja Gendra; jangankan tubuhnya bulu kakinya saja tidak bergoyang terkena embusan tendangan Kanilaras.


Begitu kuatnya pertahanan Raja Gendra sehingga bisa dengan mudah menangkis dan mengelak serangan dari Kanilaras maupun Ananda.


“Sudah kubilang kau bukan lawanku!" hina Raja Gendra sambil bergelayutan di akar pohon beringin.


Suara napas Kanilaras tersengat memburuh, keringat gadis itu bercucuran. Betapa lelahnya dia diuntang-antingkan oleh Raja Gendra—manusia berjiwa dua.


“Lebih baik kau berikan dua pesawat itu padaku. Aku akan menjamin keselamatanmu dan juga kekasihmu yang masih terbaring di dalam sana,” tawar Raja Gendra bermurah hati.


“Cih, lebih baik aku mati mempertahankan pedang ini dari pada merendahkan diri di hadapan iblis sepertimu!” hardik Kanilaras sambil mengambil ancang-ancang untuk menyerang kembali.


Gadis mengenakan Maxi dress compang-camping itu maju dengan tekad yang kuat. Kakinya menapak dua kali di pohon randu dan melesat dengan pedang menghunus ke depan, dia sudah sangat pasrah dengan hidupnya.


Entah di takdirkan mati ataupun hidup dia sudah tidak peduli, yang saat ini dalam otaknya adalah bagaimana caranya membunuh Raja Gendra agar dia bisa menepati janjinya terhadap mendiang kedua orang tuanya.


Suara logam yang beradu lumayan memenuhi gendang telinga dan gelang emas Raja Gendra terkena pedang bulan hingga berdenting kuat.


“Ternyata kau lumayan kuat juga gadis manis,” ujar Raja Gendra di sela pertempurannya dengan Kanilaras.


Sang Hyang Widi bantu hamba memusnahkan iblis ini dari muka bumi ini. Rapalan dia Kanilaras dalam hati.


Kaki Raja Gendra menendang perut Kanilaras hingga gadis itu terguling dan terpental jauh dari tempatnya berdiri beradu kekuatan. Kali ini Kanilaras benar-benar telah kehabisan tenaga sampai dia tidak mampu menyeimbangkan tubuhnya sendiri, beruntung Kendrick datang tepat waktu.


Pria itu melompat dan menangkan tubuh molek Kanilaras yang diwarnai banyak luka memar dan luka sayatan. Darah mengalir deras di berbagai luka, tapi gadis itu seakan tidak merasakan sakit. Dia tersenyum lebar sambil mengelus pipi Kendrick.

__ADS_1


“Syukurlah kau masih hidup,” kata Kendrick seraya mengeluarkan Desert Eagle dan diarahkan senjata api itu kepada Raja Gendra.


Senjata Desert Eagle memuntahkan beberapa timah panas ke arah Raja Gendra, suara letusan beruntun itu membuat sekelompok burung beterbangan.


__ADS_2