Bukan Lelakiku

Bukan Lelakiku
Respon Ayah


__ADS_3

Dengan latar langit senja, matahari sudah digantikan lunar yang mengintip malu-malu. Azmi yang tampak lelah duduk di bawah pohon jambu yang lumayan rindang, ayah Muezza tersebut termenung menatap langit.


Entah apa yang menarik perhatian pria paru baya tersebut, sehingga dia bengong dengan tangan yang menopang dagu. Suara adzan membuyarkan lamunannya, dengan tubuh yang terasa pegal dia bangkit dan berjalan dengan kaki yang terseok menuju ke mushola dekat mebelnya.


Ketika pria paru baya itu sampai di pintu gerbang mushola ada seorang lelaki yang menyapanya.


“Pak Azmi?” katanya ragu-ragu.


Azmi mengangkat kedua alisnya lalu mengangguk.


“Masyaallah! Apa kabar Pak?” lanjut lelaki itu dengan senyum sumringah.


“Kabar saya baik,” jawabnya dengan senyum yang dia suguhkan.


“Kaget aku lihat kamu yang tidak pernah berubah,” ujar lelaki itu sambil menepuk bahu Azmi.


“Tidak mungkin! Saya sudah cukup tua,” balas Azmi meyakinkan hatinya bahwa dia kenal dengan lelaki yang mengajaknya bicara.


“Penampilan dan sifatmu masih sama, tidak ada yang berubah. Bagaimana dengan aku?” tanya lelaki itu setelah mengungkap penampilan Azmi.


Lelaki itu memang sengaja tidak menyebutkan namanya, dia ingin menjebak sahabat lamanya itu dengan berbagai pertanyaan sederhana.


“Tidak banyak berubah juga, hanya dagumu dipenuhi rambut halus dan kepalamu yang sedikit kehilangan rambut.” Sangat santai Azmi mengutarakan pernyataan itu bahkan dia tidak sungkan meninggalkan lelaki yang sejak tadi mengintil di belakangnya.


Dia yang memulai dia juga yang tidak tahan akan permainannya sendiri. Dengan kesal lelaki itu kembali menghampiri Azmi.


“Kau masih ingat aku?” tanyanya terus terang.


“Tentu!” jawab Azmi percaya diri.


“Kalau begitu siapa aku ini?” katanya menyeringai, dia menunggu detik-detik kesalahan sahabatnya.


“Kau ....” Azmi menunjuk lelaki itu sambil menggantung ucapannya.


Lelaki berkepala lengar tersebut manggut-manggut menunggu kelanjutan perkataan Azmi.


“Apa keuntunganku jika aku menebak dengan benar?” imbuh Azmi terkekeh.


Sahabat lama Azmi sudah mulai emosi akan respons dan perilakunya sehingga lelaki itu segera berwudhu dan meninggalkan Azmi tanpa kata.


Alih-alih marah atau Muezza tersebut malah tersenyum tipis mendapati kemarahan lelaki itu. Sekian lama menunggu jamaah lain datang, akhirnya imam mengangkat kedua tangannya.


Runtunan salat telah dilakukan dengan tertib, semua jamaah bersalaman satu sama lain. Ketika Azmi berpapasan kembali dengan lelaki itu dia mengulurkan tangan dan menjabat erat tangan itu.


“Mana mungkin aku melupakanmu Toha!”


Semula wajah lelaki itu ditekuk dan tidak ada gairah menggoda Azmi, tapi setelah mendengar namanya diucapkan Azmi. Toha langsung memeluk erat sahabat seperjuangan di SMP dan SMA, masa-masa putih abu-abu yang sangat bahagia berbagai kenangan terlintas kembali di benak mereka berdua.

__ADS_1


“Sebaiknya kita cari tempat untuk mengobrol,” ajak Toha sambil melepas pelukan.


Kedua lelaki tersebut menunggangi kuda besi menuju warung kopi yang tidak jauh dari toko mebel Azmi. Di sana mereka memesan dua cangkir kopi seraya mengobrol ngalor-ngidul.


“Kenapa kau tampak susah tadi?” tanya Toha dengan nada suara yang kalem.


“Tidak ada. Hanya masalah kecil saja,” ungkap Azmi menutupi kesedihan hatinya.


“Kamu jangan coba-coba membohongiku! Kita sudah hidup bersama bertahun-tahun jadi aku tahu betul ucapanmu ini hanya kebohongan belaka,” beber Toha tanpa tedeng aling-aling.


Azmi yang malu langsung menyeruput kopinya tanpa menjawab pertanyaan Toha lagi.


“Nih, aku ada rezeki sedikit. Kamu bisa buat modal,” ujar Toha seraya menyodorkan sebuah amplop cokelat.


Harga diri Azmi serasa diinjak-injak, dia mengakui bahwa detik ini tengah kebingungan memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Namun, pantang baginya menerima belas kasih dari orang luar.


“Maafkan aku Toha. Kamu sudah mengerti aku luar dalam, jadi tidak perlu aku menjelaskan isi hati ini.” Tangan kiri berotot itu menepuk dadanya.


“Iya aku tahu. Tapi, kasihani anak serta istrimu! Mereka butuh makan dan memenuhi kebutuhan sekolah,” tutur Toha sangat lirih.


Tarik ulur amplop berlangsung cukup lama, jika ada yang melihat perilaku mereka pasti akan menatap heran. Setelah capek melakukan hal itu, Toha memasukkan amplop tersebut ke dalam saku baju Azmi.


“Cukup Azmi! Aku harap kamu bisa membuka usaha lagi. Lupakan semua keadaan buruk ini, lanjutkan hidup kalian dengan penuh kebahagiaan!” saran Toha sambil menepuk punggung sahabatnya.


“Jangan menolak! Atau kau akan tahu akibatnya,” ancam Toha dengan telunjuk mengacung.


Ancaman Toha sungguh manjur, Azmi manusia datar akut mati gaya dibuatnya.


Tampak nama anak sulungnya di layar ponsel tersebut.


“Assalamualaikum, halo!” sapa Azmi selepas mengucapkan salam sembari melirik sekilas wajah Toha.


^^^"Waalaikumsalam, my sweet heart,” balas Muezza dengan senyum yang bisa dibayangkan Azmi dari kejauhan.


^^^


“Ada apa Kak?” tanya Azmi lembut.


^^^“Ayah ...,” panggil Muezza, dia tidak enak hati menyampaikan apa yang ada di hatinya.


^^^


“Kenapa ragu mengatakannya?” tanya Azmi mendesak.


^^^“Bisa jemput Mue di Yoman kafe?” kata Muezza ragu-ragu.


^^^

__ADS_1


“Di mana itu? Dan ngapain Kakak di sana?” todong Azmi khawatir.


^^^“Mue kerja di sini, Yah. Nanti sekitar jam sebelas Mue pulang,” jelasnya takut.


^^^


Mulut pria paru baya tersebut terkatup rapat, dia tidak percaya dengan pernyataan anaknya. Tanpa aba-aba Azmi langsung memutus sambungan teleponnya.


Tentu itu membuat hati Muezza menerka-nerka apa yang ayahnya pikirkan tentangnya saat ini. Dia tahu betul kalau ayahnya tidak menyetujui dia dalam keputusan ini, tapi dia hanya ingin melakukan suatu hal kecil untuk kedua orang tuanya.


Maafkan Mue ya, yah! Mue hanya ingin meringankan beban ayah dan bunda.


Ucapnya lirih dalam hati, lain di bibir lain di hati. Gadis berumur 18 tahun itu berdecih dalam hatinya, dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi ayahnya nanti saat di rumah.


“Kamu kenapa, Mue?” Suara Fenny membuat gadis itu terkejut dan sedikit lebih cepat dia menyeka air matanya.


Muezza menyuguhkan senyuman lalu menjawab pertanyaan rekan kerjanya.


“Enggak apa-apa, Kak!”


“Kamu sudah makan?” Fenny kembali bertanya.


Muezza mengangguk lalu meninggalkan Fenny yang hendak menyantap menu makan malamnya. Setelah jam makan malam terlewatkan, kedua gadis itu kembali ke dalam Kafe lalu menyambut semua pelanggan dengan senyum manis.


Yoman kafe selalu dikunjungi banyak pelanggan, dari kalangan anak muda, pegawai kantor dan para lansia yang nongkrong sambil bernostalgia masa-masa muda mereka.


Ada satu pelanggan Yoman kafe yang lagaknya bak pemuda masa kini. Penampilannya yang gaul dan tatanan rambut yang nyentrik membuat Muezza terkesima, dengan ramah-tamah gadis itu menyambut pria tua berusia 70 tahunan.


“Selamat malam, mau pesan apa?” Menampilkan senyum termanis.


Kakek berkaos hitam itu menyanggah dagunya menatap Muezza penuh gairah.


“Aku bingung mau memesan apa?” ucapnya berusaha terdengar maco.


Muezza menahan tawa melihat tingkah kakek gaul tersebut.


“Mau saya bantu memilihkan menu best seller di sini?” kata Muezza memperlihatkan daftar menu.


“Bagaimana ya ...?” Pria tua tersebut menundukkan kepala dan mengusap jambul rambutnya.


“Bagaimana, gimana Kek?” tanya Muezza tidak paham.


Gadis itu menegakkan tubuhnya untuk melihat dua rekan kerjanya. Terlihat dua orang itu tengah sibuk melayani pelanggan lain, tentu saja niat Muezza memanggil mereka diurungkan.


Apes banget dah malam ini, gerutu Muezza sambil menetralkan emosi.


Pria tua itu masih dengan posisinya, sampai di mana Muezza kembali menanyakan pesanan kakek gaul itu.

__ADS_1


"Mau pesan apa, Kek?"


Di saat Muezza tengah serius, si kakek mengatakan suatu hal yang membuat Muezza mendelik dan bersusah payah menelan salivanya.


__ADS_2