
Kepribadian Ananda memang seperti itu, maklumlah masih muda. Jika usianya dihitung dengan kalender Masehi, Ananda masih berusia 19 tahun. Pemuda itu memiliki sikap yang labil dan sok jago, sifat aslinya mah melempem suka ngandelin kekuatan orang dari pada kemampuan diri sendiri.
"Tidak! Aku tidak boleh menjadi pecundang. Aku calon raja memimpin di kerajaan Sertayosa, jadi harus kuat dan berani!" ucapnya menyemangati diri sedikit lantang.
Dengan rasa ragu Ananda maju mendekati semak-semak yang terus bergoyang tiada henti. Menurutnya semak itu bergoyang akibat pergerakan hewan, walau tidak yakin akan keselamatannya dia tetap maju dengan kaki yang bergetar.
"Aku putra mahkota," ujarnya pelan dengan mata yang terus melirik.
Ananda penuh semangat saat kedua tangannya setengah terangkat dengan posisi masih mengepal keras, rambutnya yang panjang tertiup angin. Penampilan anehnya terlihat gagah saat bertekad ingin membunuh hewan buas.
"Aku akan buktikan pada manusia yang sering menghinaku," ujarnya antusias.
Tangan Ananda bersiap untuk membuka semak-semak itu, lalu tiba-tiba saja Kanilaras muncul dan menepuk bahu Ananda sehingga dia terkesiap.
"Apa yang kau lakukan?"
Segera Ananda menoleh, lalu pemuda itu bernapas lega melihat Kanilaras sudah kembali.
"Bibi tahu?" katanya seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Dengan kedua bahu yang diangkat Kanilaras menjawab.
"Mana aku tahu."
"Dengerin dulu! Aku mau ngomong," sahut Ananda kesal.
"Iya, maaf!" Kedua telapak tangan Kanilaras menyatu sempurna, "kau tidak bisa melakukan apa yang aku lakukan barusan?" sambung Kanilaras sebelum Ananda melanjutkan ucapannya yang terpotong tadi.
Bayangan gadis itu pemilik pedang naga adalah seorang laki-laki yang sakti mandraguna. Bertubuh tinggi tegap dengan paras yang sangar, tapi kenyataannya berkata lain. Jangankan jurus mematikan gerakan mendasar saja pemuda itu tidak bisa melakukannya bahkan menangkap kelinci saja dia tidak mampu.
"Aku belum belajar ilmu bela diri," jawabnya malu-malu, tampak jemarinya saling bertaut.
Putri Raja Daneswara tersebut menepuk jidatnya sendiri, lalu dia memegang erat lengan Ananda dan membawa pemuda itu ke black house. Kanilaras bergerak layaknya tupai yang memiliki keahlian meloncat yang cukup pandai. Seakan memiliki tubuh seringan kertas gadis itu terbang di udara, sesekali kakinya berpijar di dahan dan ranting pohon.
Kanilaras mendarat 50 M dari pintu gerbang black house, dia berpesan kepada Ananda agar mengaku sebagai tamu Kendrick.
"Kau mengerti dengan apa yang aku katakan barusan?" tanyanya dengan tangan yang terus bergerak tidak menentu.
"Hmm." Ananda menjawab hanya dengan gumam saja.
Pemuda itu memperbaiki tampilan rambut dan juga baju khas keraton Jawa, setelah dirasa siap Ananda berjalan jumawa mendekati pintu gerbang yang di jaga 4 orang bertubuh tinggi besar.
"Bukakan pintu gerbang untukku!" titahnya dengan suara berat yang dibuat-buat.
__ADS_1
Soldier Kendrick menelisik pemuda bertubuh kerempeng itu dengan sinis lalu berdecap tidak percaya dengan keberanian yang dia tampilkan.
"Jangan main-main di sini, cepat pergi!" usir pria berambut cepak itu dengan suara serak.
"Aku ini tuanmu!" Bocah itu menepuk dadanya penuh percaya diri.
Kanilaras dibuat jengkel oleh tingkah sombong Ananda, dia benar-benar tidak habis pikir kenapa bisa kakek buyutnya memiliki keturunan semacam Ananda—pemuda slengean tidak memiliki ilmu kanuragan sedikitpun.
"Hei, bocah! Kalau mau akting jangan di sini. Hus ... hus!" cemooh pria lainnya dan tiga orang lagi tertawa terbahak-bahak akibat tingkah konyol Ananda.
Melihat ada kegaduhan, Beril memerintahkan salah seorang dari soldier yang bertugas menjaga pintu gerbang membawa Ananda masuk menghadap padanya. Saat pintu terbuka dan Ananda diseret pak oleh soldier, Kanilaras muncul menyelonong masuk tanpa menoleh ke arah Ananda.
"Dari mana Nona datang?" bisik dua orang yang berdiri tegap membelakangi pintu.
"Entahlah," jawabnya dengan bahu yang mengedik.
Gadis itu seakan tidak menghiraukan saudara jauhnya itu, bahkan dia naik ke lantai dua melihat keadaan Kendrick yang selesai diobati.
Jemari gadis itu terus menggenggam erat liontin naga yang dia kenakan. Tanpa sadar Kanilaras mengelus pipi Kendrick yang tengah tertidur lelap, wajah tampan nan mulus memikat perhatian Kanilaras.
"Entah sampai kapan aku bisa bertahan di sisimu, Ken?" Kepala Kanilaras terangkat menatap langit-langit kamar Kendrick.
Walau luas rumah Kendrick melebihi luasnya lapangan sepak bola. Namun, dia memilih desain kamar minimalis yang didominasi oleh warna abu-abu gelap dan hitam terlihat berkelas berkat pencahayaan tidak langsung yang diletakkan di langit-langit dan bagian bawah ranjang, tidak ada banyak dekorasi pada desain kamar minimalis ini, kecuali satu lukisan di dinding.
Nuansa kamar yang sangat nyaman membuat Kanilaras tersihir hingga merebahkan tubuh mungilnya di sebelah Kendrick.
"Apa kau mendengarnya Ken? Aku akan pergi meninggalkanmu, jadi berbahagialah tanpa aku." Melirik sekilas wajah Kendrick.
Saat matanya terpejam, Kanilaras melihat sebuah rumah kecil di pinggir danau. Rumah yang sederhana, tapi menarik perhatian. Meski sederhana terlihat nyaman jika tinggal di sana, Samar-samar Kanilaras mendengar jeritan anak kecil di tengah suara musik yang sama saat Kendrick menghilang di hotel waktu lalu.
Karena penasaran Kanilaras berjalan ingin melihat siapa yang menjerit minta tolong, tapi semakin Kanilaras berjalan semkin jauh pula rumah itu terasa. Kaki yang lelah dan napas yang tersengal-sengal membuat pergerakan Kanilaras melambat.
Di dalam hati Kanilaras merutuki dirinya sendiri yang selalu penasaran dengan
urusan orang lain. Rasa penasarannya itu terus mendorong gadis itu lebih cepat melangkah mendekati bangunan kecil di dekat danau. Setelah berusaha keras akhirnya gadis itu sampai, kebetulan dia berdiri di samping rumah.
Perlahan Kanilaras mengintip keadaan di dalam sana, tampak ada anak kecil yang meringkuk menangis sesenggukan. Ingin rasanya dia bertanya, apa yang tengah terjadi sehingga dia menangis pilu seperti ini? Namun, suaranya tercekat seakan lehernya sedang dicekik sampai kerongkongannya terasa sakit.
Masih berusaha mengeluarkan suara, terdengar derap langkah kaki mendekat di ruangan yang ada anak kecil itu berada.
"Kau masih menangis!" bentak wanita muda itu dengan sangat lantang.
"A-ampun Mbak!" keluh anak laki-laki tersebut dengan deraian air mata.
__ADS_1
"Diam!" pekik wanita muda yang mengenakan apron putih.
Segera anak laki-laki itu menghentikan tangisannya, meski tubuhnya i masih tersentak-sentak akibat menahan tangis.
"Cepat makan!" titah wanita itu sembari mendorong piring berisi makan dengan kakinya.
"Nanti tuan akan datang. Kau harus bersikap baik jangan membangkang!" tegasnya dengan mata yang melotot menatap wajah mungil anak laki-laki tersebut.
Tanpa bantahan anak malang itu mengangguk seraya melahap makanan sisa yang diberikan wanita muda yang merawatnya.
Sekian menit telah berlalu akhirnya tuan yang mereka bicarakan datang, seulas senyuman manis selalu terbingkai di bibir pria yang memiliki kumis dan juga jenggot tipis. Dari pintu utama pria itu memanggil-manggil nama anak laki-laki yang sejak tadi menghafal ucapan wanita yang selalu berada didekatnya.
"Kenapa tidak keluar?" Suara berat itu terdengar kala pintu kamar terbuka lebar.
Senyuman paksaan terpancar kaku di wajah mungil anak laki-laki tersebut.
"Apa kau sudah makan?" tanya pria itu penuh kasih sayang.
"Sudah," jawabnya singkat.
"Syukurlah." Mengelus lembut kepala anaknya, "apa kau habis menangis?" sambungnya seraya mengangkat dagu anaknya.
Menggeleng cepat lalu, tanpa disengaja buliran bening itu menetes.
"Apa kau mulai membantah ucapan Puspa?" tuduh pria itu tanpa mendengar penjelasan anaknya terlebih dahulu.
Segera anak kecil itu menggeleng, "Saya tidak melakukan apa pun!" tukasnya dengan isak tangis.
"Oh, jadi Puspa menyiksamu begitu?" ucapnya dengan alis terangkat.
Diam, anak laki-laki itu terdiam seribu bahasa. Sebenarnya dia ingin memberitahu ayahnya bahwa dia diperwasa oleh wanita yang bernama Puspa tersebut. Namun, dia tidak memiliki keberanian untuk mengungkap kepedihannya selama 5 bulan tinggal di sana.
"Jangan membuat gara—" Perkataan pria itu menggantung ketika hapenya berdering.
Secara otomatis pria itu beranjak menjauh dari sang anak yang telah meringkuk menutupi kepalanya. Selang beberapa detik pria itu datang lagi memperhatikan anaknya, terdengar bahwa dia menghela napas panjang.
"Nak, ingat kata-kata papa!" Mencium kepala anaknya lalu angkat bicara lagi.
"Jangan nakal! Jadilah anak yang selalu jujur dan terus berbuat baik," timpal pria itu sebelum pergi dari rumah kecil bercat cokelat.
Lima belas menit berlalu sesudah kepergian pria yang dipanggil tuan besar tersebut. Puspa memegang cambuk lalu masuk ke dalam kamar anak laki-laki yang sudah dia ancam tadi.
"Kau sudah membuat kesabaranku habis. Dasar anak harom!" cicit Puspa dengan mata yang mendelik.
__ADS_1
Dengan sentakan keras Kanilaras terbangun dari alam bawa sadarnya.
"Ken!" seru Kanilaras sambil memeluk erat pria yang duduk di sebelahnya itu.