
Dari balik pohon asam Katra memperhatikan ritual penyatuan jiwa pedang naga dan pedang bulan.
Matahari yang ditelan bulan terlihat retak dan tusuk konde bulan sabit milik Putri Sri Ayu masih tergantung di udara. Ujung tusuk konde bulan sabit berada tepat di atas punggung Kendrick, pria yang memiliki banyak bekas luka cambuk tengkurap di atas pedang bulan.
Bak disayat pisau operasi, dada Kendrick terbelah dan mengucurkan dara berwarna hijau kehitaman. Air mata mengalir dari pelupuk mata pria itu, dia tidak menyangka nasibnya akan seperti ini.
Trauma yang selama ini menyiksa tidak lagi membayangi dirinya setelah kehadiran Kanilaras yang menggantikan Arastya Ningrum.
Aku ikhlas jika harus menjadi jalan keluarnya menuju dunia yang semestinya dia tinggali, kata hati Kendrick.
Pria yang memiliki kendali besar di dunia per saku-sakuan dan nerkoboy rupanya memiliki jiwa lembut yang tersembunyi. Tiada yang tahu, ketika Ananda menyampaikan pesan pedang naga, Kendrick mendengar jelas. Namun, matanya tidak dapat terbuka.
"Apa kau baik-baik saja, Ken?" tanya Kanilaras dengan isak tangis.
Gadis berpakaian compang-camping itu tidak kuasa melihat penderitaan Kendrick, tangannya yang kaku memegangi gagang pedang bulan. Ingin rasanya dia menarik pusakanya agar bisa menyelamatkan kekasih hati, tapi apa daya tubuh dan hatinya tidak sejalan.
Daya tarik aura pusaka itu sangat kuat sehingga urat dan otot Kanilaras tidak berfungsi dengan sempurna. Hanya air mata dan pita suaranya yang berfungsi, dalam tangis Kanilaras meminta maaf atas peristiwa ini.
“Seharusnya kau tidak terlibat, Ken. K-kenapa ....” Suara Kanilaras tercekat akibat isak tangisannya yang pecah.
Rasa kecewa dan sakit hati bercampur menjadi satu, cinta yang belum terungkap pupus dan layu bersama dengan kewajiban yang harus dilaksakan. Air mata yang berderai mengiringi terkatupnya kelopak mata hanzel green milik pria bernama Kendrick Adinata.
Sedangkan tusuk konde sebagai kunci pembuka pintu gerbang jiwa naga yang tersegel di raga Kendrick lenyap bersama hilangnya cahaya kemuning.
Bulan yang menelan matahari perlahan terbelah menjadi dua dan digantikan teriknya sinar sang surya yang sangat menyengat. Panasnya matahari memberi kekuatan lebih pada pedang legenda yang sudah berubah wujud menjadi lebih besar dan lekukan bodi pedang itu sama persisi dengan tubuh naga yang meliuk saat berjalan.
Rambut panjang Kanilaras tertiup angin, dara yang mengering menjadi saksi tertatihnya Kanilaras mencari cara membunuh perwujudan dua roh iblis. Sorot mata yang menukik dan tangan yang sudah siap mengayun pedang menebas setiap bagian tubuh iblis berwujud manusia.
Dengan sombongnya Raja Gendra melayang mendekati Kanilaras yang menjelma menjadi malaikat maut baginya.
“Hari ini sejarah akan menulis kekuatanku mengalahkan kau, gadis kecil,” ejeknya sambil memutar bola api di tangannya.
Benar, Raja Gendra mampu menciptakan bola api tanpa mengucapkan mantra ataupun berteriak.
Bola api sebesar kepala kerbau melewati berbagai pohon dan mendekat mencoba membakar tubuh Kanilaras. Namun, serangan pertama itu hancur menjadi percikan api karena tebasan pedang legenda.
Kini saatnya Kanilaras maju dan menghunuskan pedangnya ke arah Raja Gendra. Setiap ayunan pedang menimbulkan kehancuran, entah itu pohon ataupun batu.
Semua benda yang terkena tebasan angin pedang legenda akan menjadi abu. Katra tergopoh-gopoh menghindari serangan Kanilaras yang sembarang.
Gadis itu benar-benar tidak tahu, bahwa setiap dia mengayunkan pedang akan menguras tenaga dan mengisap ilmu kanuragannya. Dia juga lupa akan pesan kakek Tumenggung kala dia kecil.
Jika kelak kau mewarisi pusaka turunan mu, pergunakan setiap ilmu dan tenagamu secara hati-hati. Karena setiap pusaka akan memangsa dirimu sendiri jika kau tidak bijak menggunakannya.
Menghilangnya bayangan kakek Tumenggung, Kanilaras nekad berlari menapaki dahan pohon satu per satu demi mendapatkan posisi yang sangat dekat dengan Raja Gendra.
“Kau mau pedang ini? Ambillah! Aku tidak butuh.” Kanilaras melempar pedang legenda ke atas tanpa melihat pedang itu akan jatuh ke mana.
Tanpa berpikir panjang Raja Gendra mendorong dirinya sendiri lebih tinggi ke udara demi menangkap pedang itu, ketika tubuh Raja Gendra melewati kepala Kanilaras. Tangan anak Raja Daneswara tersebut menarik kaki iblis itu sampai jatuh ke tanah dan dengan cepat dia meraih pedangnya yang mengikuti setiap kata yang keluar dari mulutnya.
“Kemarilah!” Hanya kalimat sepele ini yang membuat pedang legenda turun dan berputar pelan di hadapan Kanilaras.
__ADS_1
Kedua bola mata Kanilaras mengilat bak mutiara yang muncul di tengah gurun pasir. Cahayanya terpantul akibat sinar sang surya, dan tangan kecilnya bagai tubuh ular yang melilit di ranting pohon. Begitu lemah gemulai memutar dan memainkan pusaka itu sampai menghunus leher Raja Gendra.
Didorong lebih cepat pedang itu sampai menembus leher panjang Raja Gendra. Darah keluar dari mulut dan mata Raja Gendra, mendapati kekalahan pembunuh orang tuanya sudut bibir Kanilaras terangkat sehingga menampilkan senyum miring yang mengejek.
“Kau akan mati sekarang juga!” katanya dengan rahang yang mengetat.
Darah Masih saja keluar dari mulut pria itu, tatkala pedang itu menabrak pohon randu Kanilaras sedikit memutar pedangnya lalu menarik cepat sampai tubuh Raja Gendra tergeletak di tanah.
Katra tersenyum bahagia melihat kematian ancaman besar bagi dirinya, kalau hanya menghadapi Kanilaras itu perkara kecil buatnya yang paling penting saat ini menipu Kanilaras agar gadis itu memiliki kepercayaan lagi untuk Katra—penasihat kerajaan.
Saat Kanilaras berbalik badan dan menapakkan kakinya di bumi, samar-samar dia mendengar suara dedaunan kering yang diinjak. Meski mendengar hal itu dengan jelas dia tidak menggubrisnya bahkan dia masih melangkah untuk membawa mayat pria pujaan hatinya pergi dari sini.
Tangan Raja Gendra bergerak, kakinya mencoba menopang tubuhnya untuk berdiri tegap. Sedangkan matanya yang masih terpejam perlahan terbuka dan melirik tajam gadis yang sudah membuatnya mati sejenak tadi.
"Kau pikir bisa membinasakan ku dengan mudah, heum?" desis Raja Gendra seraya bergerak mencengkram kuat leher Kanilaras.
berusaha gadis itu melepaskan kedua tangan Raja Gendra, semakin kuat Kanilaras meronta semakin erat kedua tangan besar itu menekan leher sang Putri Raja Daneswara.
"Aku ... penguasa muka bumi ini. Berani sekali anak kecil seperti dirimu menentang dan melawanku!" seru Raja Gendra sambil melepaskan tangan kanannya untuk merebut pedang legenda milik Kanilaras.
Wajah garang Raja Gendra yang menggambarkan kecongkakannya membuat Katra takut dan merinding saat membayangkan pertarungan ini adalah pertarungannya dengan persatuan roh Arimbi.
"Dan kau pikir aku tidak tahu bahwa kau mengintai kami sejak tadi," ujar Raja Gendra yang mengeluarkan kekuatannya untuk menyerang Katra.
Serangan mendadak Raja Gendra menewaskan Katra, seakan terkena hukum karma. Katra mati mengenaskan tubuhnya hancur menjadi debu dengan pohon yang dia gunakan untuk bersembunyi.
Kanilaras mengambil kesempatan saat Raja Gendra lengah, dia menyikut perut pria itu dan tangan kirinya menjambak rambut Raja Gendra sampai tubuh besar itu terpelanting ke depan.
Mengangkat sebelah tangan dan jemari lentik itu terbuka, bak benda yang ditarik pedang legenda yang berada dalam genggaman Raja Gendra terlepas dan melesat kembali ke genggaman tangan Kanilaras.
Tatapan matanya seakan menyala, pedang yang berada dalam genggaman telah menyatu dengan kulit dan tanpa ragu dia maju sambil memotong rambut panjangnya sebagai pertanda bahwa dia tidak mundur meski darahnya mengering.
langkahnya yang lembut kini berubah menjadi tegas, pedang legenda dia dekatkan ke wajah sambil merapalkan mantra kembang bayangan.
Raja Gendra mengusap lehernya yang bolong dan sekejap saja bagian tubuh itu kembali utuh tanpa bekas luka sedikitpun.
Peperangan yang membawa kehancuran terjadi lagi, kali ini pertarungan itu lumayan sengit. Raja Gendra yang melebihi kekuatan manusia tertawa melihat tenaga Kanilaras sudah terkuras, tapi dia tidak tahu bahwa pemersatuan roh memiliki efek yang sangat luar biasa.
Ketika hendak menggunakan tapak mustika tiba-tiba saja pria itu terbatuk dan muntah dara, matanya nyalang menatap darah segar yang ada di tangannya. Namun, dia tidak peduli bahkan dia semakin menyerang Kanilaras tanpa cela.
"Naga Balawan ...!" teriak Kanilaras sambil mengangkat pandangannya lalu gadis itu menarik raja Gendra ke atas.
Di atas udara Kanilaras mencabik-cabik tubuh Raja Gendra sampai menjadi bagian kecil yang tidak utuh lagi.
Cahaya kemuning yang lenyap tadi kini kembali dari luasnya hutan dan cahaya itu kembali ke dalam pedang legenda. Musnahnya manusia serakah membuat hutan yang tadinya gersang kini kembali menghijau, para satwa liar kembali hidup dengan tentram.
Sekali lagi pedang bulan dan pedang naga menjadi pusaka legenda yang selalu dicari-cari keberadaannya.
****************
"Lantas apa yang terjadi setelah itu Kakek?" tanya Satya dengan bibir yang mencebik akibat Benny menarik kerah bajunya.
__ADS_1
Pria tua yang mengenakan kacamata bulat berframe tipis tersenyum simpul.
"Coba tebak apa yang terjadi setelah itu!" perintah pria tua tersebut.
Benny yang sedikit bosan dengan cerita pria itu berdiri dan mengarang akhir cerita jiwa pedang legenda.
"Setelah itu Putri Kanilaras dan Kendrick hidup bersama. Tamat," ujar Benny yang mengusap jambul jengger ayamnya dengan bangga.
"Ngarang. Tadi 'kan kakek bilang, kalau tubuh Kendrick terbelah. Itu artinya Kendrick meninggal!" seru Arya bersungut-sungut.
"Terserah deh!" putus Benny sambil mengibas tangannya.
Arya dan Satya kembali duduk anteng, lantas kedua anak laki-laki itu bertanya akan akhir cerita Kanilaras dan Kendrick.
"Kakek bisa ceritakan akhir kisah mereka? Kami sungguh penasaran bagaimana masa depan dunia paralel setelah kematian Raja Gendra," pinta Satya maju mendekat dan duduk di samping kakek-kakek itu.
****************
Setelah kematian Raja Gendra, semua kehidupan kembali normal. Namun, Kanilaras hidup dengan rasa bersalahnya terhadap Kendrick.
Gadis bangsawan tersebut memilih hidup sederhana dan mengasingkan diri di desa terpencil di sebelah hutan. Tidak lupa Kanilaras meminta petunjuk untuk menyembunyikan pusakanya kepada Petapa ternama, yang tidak lain tidak bukan saudara tiri mendiang Katra.
Selama 7 hari 6 malam Kanilaras melakukan tirakat mutih atau lebih dikenal sebagai puasa dengan berbuka 7 kepal nasi tanpa lauk.
"Dulu untuk mendapatkan mu, aku harus berkelana ke dunia asing dan kini ... ku harus bersih payah lagi untuk menyembunyikan mu agar tidak di salah gunakan," keluh Kanilaras sambil mengusap keningnya dengan ujung sarung pedang legenda.
Dengan timbulnya petir menghilangkan pedang legenda dari tangan Kanilaras.
****************
"Jadi Kanilaras hidup sendiri di hutan Kek?" tanya Satya antusias.
"Iya, sampai dia meninggal masih menyimpan rasa penyesalan yang sangat luar biasa," sahut kakek bersweater.
Benny menatap kakek dan juga Satya secara bergantian, ada hal yang membuatnya sangat penasaran.
"Jangan disimpan! Tanyakan saja!" suruh kakek itu seraya mengusap rambut cepak Benny.
"Dari mana Kakek tahu cerita ini? Terus ... kenapa Kakek bisa tahu kalau Kanilaras menyimpan penyesalannya sampai wafat?" berondong Benny sedikit terkekeh.
Karena pria yang menjadi titisan naga Balawan itu aku Kanilaras juga meninggal dalam pelukan tangan ini, kata Kendrick dalam hati.
Benny kembali datang dengan nada yang mengejek kakeknya.
"Tu lihat! Kakek cuma tersenyum, aku yakin sekarang Kakek sedang mengingat nenek."
Satya berkedip memberi aba-aba kepada Arya untuk mengerjai Benny si bontot banyak bacot.
Tiga bocah itu berlari saling mengejar satu sama lain, sedangkan Kendrick terduduk dengan senyum yang selalu terbingkai. Nampak dua gigi yang sudah hilang dan kerutan wajahnya sudah sangat jelas.
"Aku yakin kau bahagia di sana, Aras." Menatap langit tanpa debu.
__ADS_1