Bukan Lelakiku

Bukan Lelakiku
Permintaan


__ADS_3

Azmi melajukan motornya dengan kecepatan sedang, sesekali dia mengintip wajah anak gadisnya dari spion.


Tidak ada perbincangan apa pun, dia hanya fokus mengendarai kuda besi tua itu. Sesampainya di halaman rumah, Azmi menghentikan langkah anak sulungnya yang hendak masuk.


“Ayah perlu bicara empat mata denganmu,” kata Azmi lirih.


Pria paru baya tersebut menurunkan standar motor, lalu dia duduk di dipan kayu yang terbuat dari bambu. Dipan berada tepat di bawah pohon kersen, mereka duduk berdampingan. Tiba-tiba saja buliran bening jatuh begitu saja dan segera Azmi menyekat air matanya agar tidak dilihat oleh sang putri.


“Mue, harap Ayah bisa memahami keputusan Mue.” Gadis itu tertunduk menatap jemarinya yang menggenggam erat karena gusar.


“Ayah belum berbicara, Kakak!” tutur Azmi dengan tegas.


Selamat aku dari amukan ayah, ya Allah. Pinta Muezza pada doanya dalam hati.


“Kenapa Kakak lebih memilih bekerja dari pada kuliah?” tanya Azmi lemah lembut.


Setelah kejadian itu, ini kali pertama Azmi berucap selembut ini kepada sang anak. Biasanya dia akan memprotes kelakuan anaknya dengan tiga kata saja, tapi malam ini pria paru baya tersebut berbicara dengan hati yang dalam.


Muezza yang dituntun memberi jawaban yang tepat hanya bisa memainkan jemarinya sambil memejamkan kedua kelopak matanya.


“Kamu takut, ayah ajak berbincang seperti ini di sini?” tanya Azmi santai tanpa melihat sedikit pun wajah sang anak.


Nekat Muezza mengutarakan hal yang selama ini dia pendam.


“Sebelumnya Mue minta maaf sudah lancang mengambil keputusan tanpa bertanya kepada Ayah ataupun Bunda.” Gadis itu bergeser agar bisa menatap mata ayahnya.


“Kakak ‘kan tahu, kalau ayah menginginkan Kakak menjadi orang yang hebat. Bunda juga memiliki harapan besar terhadap Kakak, apa ini yang ingin Kakak lakukan setelah lulus SMA?” desak Azmi, dia menginginkan anaknya berkata jujur.


Anak sulung keluarga Azmi ini menggigit bibir bawahnya, lantas dia memberi jawaban atas pertanyaan sang ayah.


“Mue lakukan ini demi mewujudkan impian kalian. Keputusan ini bukan semata-mata mengingkari janji Mue kala SMP dulu,” tukasnya sambil menggenggam tangan Azmi.


“Mue bekerja hanya ingin mencari uang tambahan untuk mendaftar ke universitas ternama di kota ini, Yah. Tidak mungkin Mue memaksa untuk hal ini,” katanya penuh sesal.

__ADS_1


“Putri ayah.” Azmi memeluk anaknya sambil menitikkan air mata.


Dia sungguh tidak menyangka bahwa anak yang dulu dia gendong kini sudah tumbuh dewasa. Buliran itu menetes di pundak Muezza.


“Ayah menangis?” Melepas dekapan tangan ayahnya demi melihat wajah sendu itu.


Ditatapnya lekat-lekat bola mata Azmi yang sudah mengembun, selain itu Muezza menyadari bahwa ayahnya sudah semakin tua.


Garis di keningnya terlihat sangat dalam, menampakkan bahwa ayahnya telah melewati hari-hari berat tanpa mengeluh. Tidak peduli derasnya hujan dan terik matahari yang menyengat, pria yang menginjak usia 52 tahun itu mengulas senyum seraya mengelus pipi Muezza.


“Ayah mohon, jadilah panutan bagi Alif dan Juwi. Jangan sekali-kali menyia-nyiakan gadis malang itu! Dia sudah melewati penderitaan di lingkungannya,” pesan Azmi pada sang anak sulung.


Tiada hal lain selain diam dan mendengarkan wejangan ayahnya.


“Kakak tahu, waktu ayah menjemputnya?” Muezza menggeleng kecil, dia penasaran. Namun, dia hanya bisa menunggu penjelasan sang ayah tanpa melontarkan pertanyaan sedikit pun.


“Teman sebayanya mengucilkannya. Kata-kata yang mereka ucapkan sangat menyayat hati, ayah sangat yakin gadis itu lebih tersakiti dari pada kita. Ayah mohon sayangi dan lindungi kedua adikmu itu!” pinta Azmi dengan kedua telapak tangan yang menyatu.


“Apa yang Ayah lakukan? Kenapa Ayah memohon seperti ini? Mue ini anak Ayah. Wajib bagi Mue melakukan amanat Ayah, apa pun itu!” tandasnya dengan tegas.


Perbincangan serius tersebut terpotong tatkala gendang telinga mereka mendengar suara rengekan Alif yang minta mencari Azmi.


“Lihat adikmu itu! Dia selalu mencari ayah di tengah malam,” ujar Azmi sambil menenteng helmnya.


“Dia kangen Ayah. ‘Kan seharian dia tidak lihat Ayah,” cakap Muezza yang mengusap kedua pipinya.


“Bagaimana jika Ayah pergi jauh dan tidak kembali?” Pertanyaan Azmi menimbulkan pertanyaan besar di hati Muezza.


“Maksud Ayah apa? Mue tidak akan mengizinkan Ayah pergi ke mana pun, titik!” putus Muezza berang.


“Semua orang akan kembali kepada-Nya,” tunjuk Azmi dengan kepalanya yang mendongak, “jika dia berkata kunfayakun maka terjadilah,” imbuh Azmi sambil merangkul anak gadisnya.


Kedengarannya seperti kalimat biasa saja, tapi makna dari ucapan Azmi menambah beban besar di hati Muezza. Gadis itu tidak akan menerima penuturan sang ayah yang ingin pergi meninggalkan mereka semua.

__ADS_1


***


Di sana, di sebuah kamar besar ada seorang pria yang termangu menatap langit-langit kamarnya.


“Apa yang saat ini dia lakukan?” tanyanya pada tembok yang bisu.


“Apa dia masih menyukaiku? Atau perasaannya terhadapku sudah hilang? Seharusnya aku bersikap baik dan tidak sok cuek kepadanya, tapi ... itu akan menimbulkan rasa yang sangat kentara. Jelas itu bukan gayaku!” sesalnya dalam decihan hati yang tidak seimbang dengan otak.


Dia terus berguling-guling di atas ranjang. Benar-benar kebimbangan hati yang cukup membunuh hasratnya dalam menjalani kehidupan, terlebih pertanyaan yang dilontarkan Mario kepadanya tadi siang membuatnya semakin pusing.


Satu sisi dia sudah sangat yakin akan melakukan hal itu, tapi di sisi lain dia tidak ingin membuat suatu perpecahan terhadapnya dan mami, papinya. Alun juga paham betul penolakan keluarga besar sang mami, terutama neneknya Wijayanti.


Seorang wanita kolot dan sangat cerewet, jika ada perlombaan adu kecepatan dalam berbicara. Neneknya itu akan mendapatkan juara pertama dalam lomba tersebut.


“Tidak, tidak mungkin aku akan mengatakan kebenaran ku saat ini. Bisa-bisa mami akan jatuh sakit karena syok,” kilahnya dalam perdebatan batiniahnya.


Dengan posisi yang sama, tapi kedua tangan pria itu tertadah ke atas.


“Apa yang harus hamba-Mu ini lakukan? Jujur diri ini belum siap,” ucapnya dalam kebimbangan hati.


Alun beranjak dari ranjang menuju kamar mandi, tapi langkahnya terhenti tatkala ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.


“Tunggu sebentar!” teriaknya malas dari ambang pintu kamar mandi.


Tangan kekar itu menarik gagang pintu dan dia buka perlahan.


“Lama ih!” protes Laras dengan bibir yang mengerucut.


“Mau ngapain masuk ke sini?” tanya Alun bersungut-sungut.


“Ayas tahu rahasia besar Abang,” katanya dengan kedua alis yang terangkat.


“R-rahasia apa?” sahut Alun gugup.

__ADS_1


Dari mana dia tahu soal rahasia ini? Apa mungkin Mario, tidak mungkin anak itu tidak pernah membocorkan rahasia gue. Tolak Alun dalam hati yang mencebik.


“Nah loh, Abang diem ... artinya Abang cemas!” cibir Laras yang sedari tadi terlihat bersemangat.


__ADS_2